Kopi di Rumah Serasa di Kafe

🛒 Beli Sekarang

Menghidupkan Ingatan Kota Lewat Pasar-Pasar Legendaris Surabaya

Banyak warga Surabaya mungkin masih menyimpan kenangan tentang pasar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka

Ada yang mengingat tempat berbelanja bersama orang tua, ada yang mengenang suasana ramai menjelang hari raya, sementara yang lain mungkin hanya mengenal nama-nama pasar legendaris dari cerita keluarga atau sejarah kota. Kini, jejak-jejak itu dapat ditelusuri kembali melalui pameran virtual “Surabaya Market Heritage: A Virtual Exhibition Experience – Pameran Foto dan Arsip Pasar Legendaris Surabaya” yang diselenggarakan dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya ke-733.

Melalui pameran ini, pengunjung diajak menyusuri sejarah Surabaya melalui arsip, foto, dan peta yang merekam perkembangan kota dari masa ke masa. Berbagai dokumentasi yang ditampilkan menghadirkan gambaran tentang perjalanan Surabaya sebagai kota yang terus tumbuh dan berkembang.

Salah satu fokus pameran adalah pasar-pasar legendaris yang telah lama menjadi bagian dari lanskap kota. Nama-nama seperti Pasar Pabean, Pasar Turi, Pasar Atom, Pasar Keputran, Pasar Blauran, Pasar Wonokromo, dan Pasar Pegirian ditampilkan sebagai bagian dari jejak sejarah yang turut membentuk wajah Surabaya hingga hari ini.

Baca juga: Polemik Chattra Borobudur: Mencari Titik Temu dalam Tata Kelola Warisan Dunia

Melalui arsip yang tersimpan, pengunjung dapat melihat bahwa perkembangan sebuah kota tidak hanya tercermin dari gedung-gedung pemerintahan atau proyek pembangunan besar. Sejarah kota juga terekam dalam ruang-ruang yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Pasar menjadi salah satu tempat yang menyimpan banyak cerita tentang perubahan zaman, pergerakan ekonomi, dan kehidupan warga yang terus berlangsung dari generasi ke generasi.

Di tengah laju perkembangan kota yang semakin cepat, arsip memiliki peran penting sebagai pengingat bahwa setiap perubahan selalu meninggalkan jejak. Foto, peta, dan dokumen yang tersimpan bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan bagian dari memori kolektif yang membantu masyarakat memahami perjalanan kotanya.

Karena disajikan secara virtual, pameran ini dapat diakses oleh masyarakat dari berbagai daerah tanpa harus datang langsung ke Surabaya. Kehadiran platform digital juga membuka peluang yang lebih luas bagi publik untuk mengenal arsip dan sejarah kota dengan cara yang lebih mudah.

Baca juga: Menelusuri Jejak Rasa Soto Kambing Malangan: Antara Warisan, Ingatan, dan Identitas

Untuk menjangkau generasi digital, pameran ini juga hadir di platform Roblox sehingga pengunjung dapat mengeksplorasi arsip melalui pengalaman virtual yang lebih interaktif. Upaya ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendekatkan sejarah kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang akrab dengan ruang digital.

Pada akhirnya, pameran ini tidak hanya menawarkan kesempatan untuk melihat arsip, tetapi juga mengajak pengunjung merefleksikan hubungan antara masa lalu dan masa kini. Di balik setiap foto, peta, dan dokumen yang ditampilkan, tersimpan kisah tentang perjalanan sebuah kota yang terus bergerak tanpa melupakan jejak-jejak yang membentuknya.

Latifah/melipirnews.com

Komentar

POPULER SEPEKAN

Dari Kamp Pengungsian Mengangkat Australia di Piala Dunia 2026

Mengapa Jawa Timur Makin Rentan Saat Hujan Turun?

Kesehatan Mental di Negeri Religius

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Dari Layar Ke Luka; Ketika Kekerasan Digital Menghantam Perempuan di Pulau-Pulau Terpencil

Rencana Investasi Bisa Ambyar Jumpai Tanah Bersertifikat Ganda

Para Penjaga Singkong dari Sekadar Makanan Biasa

Tim Medis Perempuan Mencetak Sejarah di Piala Dunia

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

FAVORIT LAINNYA

Gedung Megah Kampus Buddhis Bukan Pajangan, Tapi Tempat Lahirkan Gagasan

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Rencana Investasi Bisa Ambyar Jumpai Tanah Bersertifikat Ganda

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Terasa di Sini, Kretek Indonesia Masih Jaya

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Langkah Kecil untuk Atasi Masalah Sampah Perkotaan yang Membesar

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Untuk pengembangan kanal ini, kami membuka donasi melalui link Paypal di SINI. Terima kasih