Kujang Diterpa Panas dan Sejuknya Alun-Alun Sukabumi
Kujang, dari perkakas sehari-hari, penyimpan unsur magi, simbol adat dan budaya hingga ikon kota
Kujang, seperti diuraikan Edi Setiadi Putra (211), adalah perkakas utama masyarakat mandala atau pahuma (petani padi di ladang dataran tinggi). Pernyataan ini mengacu pada naskah Sunda kuno ‘Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian (abad 15 M), yang di situ disebutkan kujang sebagai ‘ganggaman wong tani’ (pegangan para petani atau rakyat).
![]() |
| Patung kujang di Alun-alun Sukabumi (dok.melipirnews) |
Sebagai suatu ‘ganggaman’ atau perangkat utama, kujang telah menjadi alat serbaguna yang berfungsi optimal, baik sebagai perkakas pertanian maupun berfungsi sebagai senjata dalam keadaan darurat. Demikianlah, sejak dulu, kujang merupakan genggaman rakyat yang multifungsi, yaitu untuk fungsi pertanian ladang dan senjata pertahanan diri.
Namun bukan hanya sekadar alat. Kujang juga ternyata dipercaya memiliki unsur magi.
"Para pemilik yang menyimpan kujang di beberapa daerah di Jawa Barat mempunyai motivasi untuk menghormati warisan leluhur dan bentuk penguatan karakter sebagai orang Sunda. Selain dari motivasi tersebut ada pula yang memburunya sebagai syarat untuk kepentingan dan maksud pribadi yang bersifat sangat rahasia", demikian tulis Aris Kurniawan dalam Kajian Historis dan Filosofis Kujang (2014).
Kujang di Alun-Alun Sukabumi
Melintasi pusat kota Sukabumi, tak afdol rasanya jika tidak mampir melipir ke alun-alun. Setelah melemaskan otot-otot kaki dari stasiun kereta api dengan melintasi pasar Pelita, sampailah di alun-alun. Pasar Pelita merupakan tempat belanja dan kuliner alternatif begitu sampai dan baru saja turun dari Stasiun Sukabumi.
Melintasi pusat kota Sukabumi, tak afdol rasanya jika tidak mampir melipir ke alun-alun. Setelah melemaskan otot-otot kaki dari stasiun kereta api dengan melintasi pasar Pelita, sampailah di alun-alun. Pasar Pelita merupakan tempat belanja dan kuliner alternatif begitu sampai dan baru saja turun dari Stasiun Sukabumi.
Cukup berjalan kaki dan tanpa perlu naik angkutan umum. Tapak-tapak kaki diarahkan ke arah timur/timur laut dari gerbang keluar stasiun, maka sampailah pasar Pelita.
Begitu sampai di Alun-alun kota Sukabumi, mata akan tertuju pada bangunan pipih menjulang yang berada di tengah padang rumput. Ya, itulah tugu kujang setinggi kurang lebih 5 hingga 6 meter ini. Rupanya, selain di wilayah Bogor, kujang juga menjadi ikon kebanggaan warga Sukabumi.
Di alun-alun Sukabumi itu tegak berdiri tugu berbentuk senjata tradisional Sunda ini. Seakan ia menjadi simbol keberanian dan identitas budaya bagi masyarakat Kota Sukabumi. Tugu yang dibangun pada masa revitalisasi Alun-Alun Sukabumi dan Lapang Merdeka ini selesai dibangun dan diresmikan pada 8 Januari 2022 .
Meskipun siang hari cuacanya panas, area ini memiliki banyak pepohonan rindang dan dikelilingi wisata religi Masjid Agung Kota Sukabumi. Bayangan ke-"kolot"an wilayah ini terasa begitu melihat di kejauhan, membayangkan Gunung Gede dan Pangrango yang dihuni sebagiannya oleh para tetua adat Sunda.
Menjelang sore, alun-alun Sukabumi dengan tugu kujangnya ini menjadi lokasi favorit untuk bersantai bersama orang-orang terdekat sembari menikmati udara yang sejuk dan segar. Tanpa perlu berpikir perut keroncongan, karena di situ juga merupakan tempat berburu kuliner jadul yang cukup terkenal seperti comro dan gongsir (jagung manis serut) dan lain-lain.
Jika ingin duduk sambil selonjoran, banyak tikar disewakan. Atau jika mau mencoba sejuknya rumput sore hari, langsung saja duduk di atasnya.
Datang di waktu sore menjadi pilihan terbaik. Langit senja akan sekaligus menambahkan kehangatan sore dengan berlatar tugu kujang.
Biasanya memang, sore hari suasana alun-alun begitu ramai. Demikian pengakuan penjaja makanan sejenis wafel sore itu. Tampak di sana sini, banyak orang berkerumun mengitari penjaja makanan yang beraneka jenis. Orang-orang tua mengawasi anak-anak mereka yang sedang berlarian di rerumputan yang cukup luas.
Baca juga: Pulau Terluar yang Dieksplorasi Anak Ekonomi
Sementara langit yang tanpa kabut begitu biru di angkasa. Warna birunya tampak maksimal. Seakan tak terkontaminasi sampah udara metropolitan sedikitpun. Langit yang biru, bersisihan dengan udara yang sejuk dan berpadu dengan hijaunya dedaunan antara alun-alun hingga lapangan merdeka, tempat anak-anak muda menyalurkan hobi olahraga ekstrem seperti sepatu roda dan skateboard.
Tak terasa, jadwal kereta Pangrango pun begitu dekat. Saatnya untuk segera menuju stasiun kereta api Sukabumi, stasiun yang masih kokoh jejak peninggalan Belanda itu.
Zaenal Eko/Melipirnews

Komentar