Warisan Maria Walanda Maramis bagi Perempuan Minahasa
PIKAT yang didirikan Maria Walanda Maramis sejak awal abad ke-20 terbukti menyimpan gagasan radikal yang melampaui zamannya Gerakan ini merambah pada kesadaran hak politik perempuan di tengah tekanan kolonial. Meski kini PIKAT menghadapi krisis regenerasi, semangatnya dinilai masih relevan untuk menjawab persoalan perempuan Minahasa masa kini, dari ketimpangan kerja hingga isu ekologi. Program Inquiring dari Asosiasi Teolog Indonesia (ATI) kembali digelar pada Sabtu malam, 18 April 2026. Acara bedah buku "Maria Walanda Maramis dan Gerakan Perempuan Minahasa Masa Kini" menghadirkan dua narasumber: Dr. Denni H.R. Pinontoan (Kepala Pusat Kajian Agama dan Budaya LP2M IAKN Manado) dan Merlin B. A. Lumintang, M.Th (IAKN Toraja). Moderator diskusi adalah Dr. Hun Pinatik, peneliti independen. Baca juga: Dari Layar Ke Luka; Ketika Kekerasan Digital Menghantam Perempuan di Pulau-Pulau Terpencil Dari sanalah lahir PIKAT, organisasi yang dirintis Maria untuk menjawab ketertinggalan per...
