Ahmad Tohari: Menulis Kaum Marjinal Bukan Sekadar Riset, Tapi Menghayati Penderitaan
“Menulis tentang kaum marginal adalah menemani Tuhan bersama mereka” Kalimat itu dituturkan Ahmad Tohari menutup diskusi yang berlangsung lebih dari dua jam. Bagi sastrawan berusia 77 tahun itu, menulis bukan sekadar soal teknik merangkai kata, melainkan soal keberpihakan nurani yang lahir dari keyakinan paling pribadi. Ahmad Tohari mengaku panggilan untuk menyuarakan kaum miskin datang dari teladan Nabi Muhammad. “Saya mendengar bahwa Nabi Muhammad sangat menyayangi orang miskin. Orang miskin adalah kesayangan beliau. Saya seperti mendapat tuntunan untuk juga menyayangi mereka,” ungkapnya, menjelaskan mengapa hampir seluruh karyanya, dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk hingga kumpulan cerpen Senyum Karyamin, berkutat pada kehidupan masyarakat pinggiran. Kecintaan itu, kata Tohari, bukan sekadar tema, melainkan “gaya dorong” yang membuatnya tak bisa menulis tentang hal lain. Ia bahkan mengaku tak mampu menulis tentang kehidupan orang makmur, bintang film, atau hal-hal yang gem...