Sukabumi dalam Prosa Du Perron, Sastrawan Belanda Tempo Dulu

Menjejakkan kaki ke Sukabumi, salah satu daya tarik yang kuat pastilah jejak kolonial yang berpadu dengan dunia ke-Islaman

Gedung-gedung peninggalan kolonial Belanda, pertokoan serta perkantoran peninggalan Belanda masih tegak berdiri. Stasiun kereta api pun masih bergaya kolonial. Rumah-rumah peninggalan kolonial tidak sedikit jumlahnya dan membutuhkan perawatan. Peninggalan Belanda lainnya berupa sekolah dan gereja yang masih terawat. Di sisi lain, keberadaan Masjid Agung Sukabumi di tengah kota semakin menguatkan kombinasi kolonial dan santri di kota ini. Perjumpaan yang membawa harmoni, yang tertuang juga dalam sebuah prosa. 

Stasiun kereta api Sukabumi (dok. Melipirnews.com)

Adalah Du Perrron, seorang penulis prosa Belanda tempo dulu menuliskan dalam prosanya berikut ini. Sukabumi adalah salah satu tempat terindah di Priangan; dibangun di lereng Gunung Gede, dengan iklim yang sangat sejuk, dan tentunya dikelilingi banyak bukit dan lembah, tetapi penuh dengan rumah-rumah menawan, hijau oleh pepohonan, dengan sebuah alun-alun besar yang khas, sebuah distrik Tionghoa yang rapi penuh dengan toko-toko baru, dan lingkungan luar dengan rumah-rumah penduduk lokal juga asri dan menunjukkan kemakmuran. 

Baca juga: Borobudur dan Krisis Makna di Halaman Rumahnya Sendiri

Koloni Eropa sebagian besar terdiri dari mantan pegawai negeri yang siap mulai menanam bunga di taman mereka sendiri; 'nenek' saya tinggal di bagian kota mereka bersama putri bungsunya, Bibi Hélène. Di seberang rumah 'nenek' dulu ada kantor telepon, kemudian menjadi bioskop; simbol-simbol peradaban Eropa seperti itu di kota kecil seperti Sukabumi menjadi daya tarik tersendiri. Sebelumnya, daya tarik terbesar bagi saya adalah: toko Eropa Luppe dan toko Cina Beng, toko-toko kecil tempat saya mendapatkan kelereng, boneka mekanik, gambar untuk diteladani, bahkan buku.

Hampir sepenuhnya tinggal di pinggiran kota Wa Gedah. Wanita bangsawan Sunda ini yang sudah menjadi haji, adalah orang yang unik; dia terlihat ramah dan mirip Voltaire. Dia lebih mengenal Al-Qur'an daripada banyak pria, menulis puisi sendiri, dan menceritakan padaku petualangan dua pahlawan Arab besar yang, kalau dia tidak merubah namanya, bernama Amir Ambiah dan Omar Maja. Tongkat Amir Ambiah setebal tiang lampu, katanya; detail ini menjauhkan aku dari sang pahlawan. Dia juga bisa bahasa Belanda dan aku curiga dia yang membuat sendiri lagu kecil Tara-rara-bom-dié yang dia ajarkan padaku, dan bait terakhirnya berbunyi (lagunya tentang seorang pemuzik jalanan): Jika anak-anakmu datang besok, Aku akan memutar musik lagi.

begitulah cuplikan cerita dari buku prosa sastra Belanda III: Het land van herkomst ; Schandaal in Holland Verzameld werk (III: Tanah Asal ; Skandal di Belanda Karya Terkumpul) yang ditulis Du Perron, E. terbit tahun 1954. Maka tidak berlebihan jika perpaduan Barat dan Islam berjalan beriringan di kota sejuk ini. 

Nama Sukabumi sendiri sudah ada sejak masa kolonial Belanda pada tahun 1815, yang perkenalkan oleh oleh ahli bedah dan pengusaha kopi Andries de Wilde. Sukabumi dulunya merupakan pemukiman yang termasuk dalam Kecamatan Gunung Parang, Wilayah Perluasan Cianjur, Residen Praja Priangan (Preanger). Seiring pembangunan Jalan Raya Pos Besar oleh Daendles, banyak orang Eropa menetap di Sukabumi. Ditambah lagi dengan adanya perkebunan kopi, teh dan lainnya, status Sukabumi meningkat dari kecamatan menjadi kotamadya (gementee).

Pada masa kolonial Jepang, Sukabumi disebut Soekaboemi Shi. Setelah kemerdekaan, namanya menjadi Kota Sukabumi, dan pada tahun 1965 menjadi Kotamadya Tingkat II. Hingga akhirnya di era otonomi daerah, menjadi Kota Sukabumi yang terpisah dari Kabupaten Sukabumi. 

Baca juga: Bissu di Antara Panggilan Spiritual dan Tekanan Zaman

Catatan buku Karel A Steebrink (Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19, Jakarta: Bulan Bintang, 1984), menyebutkan bahwa kemajuan Islam di Sukabumi ditandai beberapa unsur yang antara lain yaitu semakin bertambahnya masyarakat Sukabumi yang menunaikan Ibadah Haji, pesatnya pertumbungan pesantren, pembangunan masjid-masjid baru. oleh karena itu Sukabumi kemudian dikenal daerah lain sebagai Kota Santri.

Semakin banyaknya orang yang berhaji semakin banyak juga masyarakat yang ingin mendalami ajaran Islam yang lebih dalam. Seperti yang dilakukan oleh K.H Ahmad Sanusi (Tokoh Nasional) dan K.H Muhammad Hasan Basri.

Melipirnews, dari berbagai sumber.

Komentar

POPULER SEPEKAN

Klitih, Kota Budaya, dan Stigma terhadap Anak Muda

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Dari Layar Ke Luka; Ketika Kekerasan Digital Menghantam Perempuan di Pulau-Pulau Terpencil

Kehidupan di Wilayah Perbatasan Tak Seindah Pos Perbatasan

Rencana Investasi Bisa Ambyar Jumpai Tanah Bersertifikat Ganda

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Peran Museum Sebagai Penggerak Kesejahteraan Masyarakat Sekitar

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

FAVORIT LAINNYA

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Rencana Investasi Bisa Ambyar Jumpai Tanah Bersertifikat Ganda

Dari Layar Ke Luka; Ketika Kekerasan Digital Menghantam Perempuan di Pulau-Pulau Terpencil

Menghidupkan Ingatan Kota Lewat Pasar-Pasar Legendaris Surabaya

Kesehatan Mental di Negeri Religius

Tim Medis Perempuan Mencetak Sejarah di Piala Dunia

Klitih, Kota Budaya, dan Stigma terhadap Anak Muda

Sunset, Ular, dan Tri Sandya di Tanah Lot


Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Untuk pengembangan kanal ini, kami membuka donasi melalui link Paypal di SINI. Terima kasih