Di Omah Petroek, Yogyakarta, berlangsung percakapan yang jarang terdengar di ruang kuliah di Tanah Air, yaitu obrolan tentang esai sebagai "ruang yang hilang" dari tradisi akademik.
Bukan tentang indeks jurnal, bukan pula tentang target publikasi. Tapi tentang bagaimana menulis bisa menjadi jujur, reflektif, dan—yang paling penting—menggugah. Itulah suasana Sekolah Basis, sebuah kegiatan literasi yang berlangsung 31 Juli–2 Agustus 2026.
![]() |
| Foto: Panitia Sekolah Basis |
Di tengah padatnya agenda, sesi Kelas Menulis menjadi magnet utama. Dua narasumber kawakan hadir, Ayu Utami, sastrawan, dan Christina M. Udani, editor senior Penerbit KPG. Keduanya membawa pisau bedah untuk mengupas esai—bukan sebagai sekadar keterampilan teknis, melainkan sebagai praktik berpikir.
"Apa janji penulis di tiga halaman pertama?" Itulah pertanyaan pembuka Christina M. Udani kepada para peserta. Menurutnya, esai pendek—yang biasanya hanya tiga halaman—harus segera menjawab pertanyaan itu. Tanpa janji yang jelas, tulisan akan kehilangan arah. "Dan jangan lupa," tambahnya, "bahasanya harus runtut. Tidak melompat-lompat."
Baca juga: Melampaui Batas Bahasa: Strategi Jitu Menembus Media Sastra Internasional
Ayu Utami kemudian menambahkan satu lapisan pemahaman yang lebih fundamental. Ia membedakan antara dua ukuran: ukuran luar dan ukuran dalam. Ukuran luar adalah batas kata, sesuatu yang sering menjadi obsesi para akademisi. Namun ukuran dalam—yaitu fokus pada satu topik—jauh lebih esensial. "Esai harus melibatkan pembaca dengan cara memasukkan kepentingan orang lain," jelasnya. "Tapi ingat, 'orang lain' itu tidak bisa semua orang."
Salah satu contoh yang dibedah Ayu adalah esai Sukidi berjudul "Hantu Fasisme" yang dimuat di Marginalia Tempo. Melalui tulisan itu, Ayu memperlihatkan bagaimana struktur esai bisa menjadi alat untuk mengkritik realitas sosial-politik. Fasisme di Indonesia, misalnya, tidak dihadirkan sebagai laporan dingin, tetapi sebagai refleksi sejarah yang mengajak pembaca merasakan kegelisahan yang sama.
Di luar teknis kepenulisan, ada persoalan lebih besar yang mengemuka. Dunia perguruan tinggi Indonesia kini terlalu terpaku pada publikasi ilmiah. Mahasiswa dan dosen dicekoki target jurnal terindeks, sementara esai—yang sebetulnya memberi ruang bagi pengalaman subjektif dan kritik teori—terpinggirkan. "Esai menjadi ruang bagi apa yang hilang dari tulisan ilmiah," ujar Ayu.
Mengenai struktur penulisan esai, Ayu memberi resep sederhana, “Mulailah dengan menulis pendek. Dua paragraf awal harus sudah menampakkan arah. Pembuka sebaiknya menarik, penutup sebaiknya bermakna, dan semua bagian harus terikat logika. "Kalau aturan membantu, pakai. Kalau menghambat, buang saja," ujarnya enteng. Sebuah kebebasan yang mungkin terasa asing di tengah birokrasi kepenulisan akademik.
Baca juga: Alih Naskah Pecenongan, Jakarta ke Panggung Imajinasi Lagu dan Komik
Sepanjang sesi dua dedengkot esai tersebut berlangsung, peserta diajak untuk melihat esai bukan sekadar pekerjaan rumah, tetapi sebagai medium untuk menyuarakan kegelisahan. Terasa sedikit beda memang. Di tengah budaya kampus yang kian sibuk dengan angka dan akreditasi, Sekolah Basis ini seperti alarm kecil. Menulis, pada akhirnya, adalah tentang keberanian untuk jujur dan logis—dua hal yang tak bisa diukur dengan indeks apa pun.
Latifah/melipirnews.com

0 Komentar