Seberapa Maju Bahasa di Indonesia? Ipebas Mengukurnya

Ipebas mencoba menerjemahkan kondisi kebahasaan ke dalam angka. Data tersebut dapat digunakan untuk melihat kemajuan, memetakan persoalan, menentukan prioritas intervensi, serta mengevaluasi program kebahasaan yang telah dilakukan

Ketika membicarakan pembangunan, kita terbiasa mendengar angka tentang ekonomi, pendidikan, kemiskinan, kesehatan, atau infrastruktur. Namun, ada satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat yang jarang dibicarakan melalui angka: bahasa.


Padahal, hampir setiap hari kita berhadapan dengan bahasa. Kita menggunakannya untuk belajar, bekerja, berkomunikasi, menyampaikan gagasan, membaca informasi, hingga membangun hubungan dengan orang lain. Di saat yang sama, Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah yang menjadi bagian penting dari kekayaan budaya masyarakat.

Baca juga: Seni, Bahasa, dan Dialog Antariman: Tiga Jalan Menuju Inklusivitas Beragama di Indonesia

Lalu, bagaimana mengetahui apakah kehidupan kebahasaan di Indonesia berkembang dengan baik?

Pertanyaan itulah yang coba dijawab melalui Indeks Pembangunan Kebahasaan (Ipebas) yang dikembangkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Ipebas merupakan ukuran komposit yang dirancang untuk memberikan gambaran mengenai pembangunan kebahasaan dan kesastraan di tingkat pusat dan daerah.

Sederhananya, Ipebas mencoba menerjemahkan kondisi kebahasaan ke dalam angka. Data tersebut dapat digunakan untuk melihat kemajuan, memetakan persoalan, menentukan prioritas intervensi, serta mengevaluasi program kebahasaan yang telah dilakukan.

Bahasa diukur dari tiga sisi

Ipebas melihat pembangunan kebahasaan melalui tiga dimensi, yakni pengembangan, pembinaan, dan pelindungan.

Dimensi pengembangan melihat pemanfaatan produk pengembangan bahasa dan sastra, publikasi ilmiah dan populer, serta pertumbuhan karya sastra yang terpublikasi kepada masyarakat.

Dimensi pembinaan berkaitan dengan kemampuan masyarakat menggunakan bahasa Indonesia, keberadaan komunitas bahasa dan sastra yang melakukan pembinaan, serta kebiasaan membaca buku cerita.

Sementara itu, dimensi pelindungan melihat keberlangsungan bahasa daerah. Di dalamnya termasuk pembelajaran bahasa daerah sebagai muatan lokal, penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga dan masyarakat, serta dukungan formal pemerintah kabupaten/kota terhadap kegiatan kebahasaan dan kesastraan.

Dengan demikian, ukuran kemajuan kebahasaan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa baik seseorang menggunakan bahasa Indonesia. Ada pula pertanyaan tentang seberapa jauh karya dan pengetahuan kebahasaan berkembang serta bagaimana bahasa daerah tetap hidup di tengah perubahan masyarakat.

Angkanya meningkat, tetapi ceritanya tidak sama

Data Ipebas menunjukkan adanya peningkatan indeks pembangunan kebahasaan Indonesia dalam empat tahun terakhir. Pada 2022, indeks berada pada angka 45,82. Angka tersebut meningkat menjadi 48,35 pada 2023, 49,72 pada 2024, dan mencapai 51,56 pada 2025. Materi Badan Bahasa mencatat tren peningkatan yang konsisten sejak 2022 dan memproyeksikan kenaikan hingga 55,01 pada 2029. Namun, angka nasional itu menyimpan cerita yang lebih beragam.

Baca juga: Melampaui Batas Bahasa: Strategi Jitu Menembus Media Sastra Internasional

Pada 2025, dimensi pengembangan berada pada angka 35,58, sedangkan pembinaan mencapai 55,46 dan pelindungan mencapai 58,51. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tiap-tiap dimensi memiliki capaian yang berbeda dan membutuhkan perhatian yang berbeda pula.

Artinya, kenaikan indeks secara keseluruhan tidak serta-merta berarti seluruh aspek kebahasaan telah berkembang dengan tingkat yang sama. Jawa Barat berada di posisi teratas pada 2025. Perbedaan kondisi kebahasaan juga terlihat ketika data dibandingkan antardaerah. Pada 2025, Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan nilai Ipebas tertinggi, yakni 62,15, disusul Bangka Belitung dengan 60,44 dan DI Yogyakarta dengan 59,46. Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa posisi daerah dalam indeks dapat berubah dari tahun ke tahun. Pada 2024, misalnya, DI Yogyakarta berada di posisi teratas.

Perubahan posisi itu menarik karena memperlihatkan bahwa pembangunan kebahasaan merupakan proses yang terus bergerak. Setiap daerah memiliki kekuatan dan persoalan sendiri, sehingga kebijakan kebahasaan pun tidak selalu dapat menggunakan pendekatan yang sama.

Di sinilah data menjadi penting. Ipebas dapat membantu pemerintah melihat daerah yang memerlukan perhatian lebih, mengetahui aspek yang perlu diperkuat, dan mengevaluasi apakah program yang dijalankan memberikan perubahan.

Bahasa lebih luas daripada pelajaran di sekolah

Selama ini, bahasa sering ditempatkan dalam ruang yang terbatas: pelajaran di sekolah, aturan tata bahasa, atau persoalan benar dan salah dalam penggunaan kata. Pandangan tersebut menjadi terlalu sempit ketika bahasa ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan.

Baca juga: Membaca Indonesia Lewat Lensa Ariel Heryanto: Bahasa, Demokrasi, dan Cara Memahami Bangsa

Bahasa berkaitan dengan kemampuan seseorang memahami informasi, menyampaikan gagasan, berinteraksi dengan orang lain, dan mengembangkan pengetahuan. Bahasa daerah pun memiliki peran dalam menjaga hubungan masyarakat dengan sejarah dan kebudayaannya.

Karena itu, pembangunan kebahasaan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Materi Badan Bahasa menempatkan perguruan tinggi, misalnya, sebagai mitra dalam pengumpulan data, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, advokasi kebijakan, dan pembinaan bahasa.

Peran tersebut menunjukkan bahwa urusan bahasa tidak berhenti di lembaga pemerintah. Kampus, sekolah, komunitas, masyarakat, dan pemerintah daerah dapat ikut menentukan seperti apa masa depan kebahasaan Indonesia.

Dari angka menuju kesadaran

Kehadiran indeks kebahasaan pada akhirnya bukan sekadar soal membuat peringkat provinsi atau menghasilkan sebuah angka nasional.

Yang lebih penting adalah menjadikan data tersebut sebagai bahan untuk bertanya: apa yang sudah berkembang, apa yang masih perlu diperbaiki, dan ke mana pembangunan kebahasaan harus diarahkan?

Ipebas memberi cara untuk melihat bahasa sebagai bagian dari pembangunan yang dapat diamati perkembangannya secara lebih terukur. Pada saat yang sama, angka-angka tersebut mengingatkan bahwa kehidupan bahasa tidak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh bersama masyarakat yang menggunakannya.

Sebab, bahasa yang berkembang ikut membentuk kemampuan berpikir sehat—kemampuan memahami, menimbang, dan menyampaikan gagasan dengan baik. Dari sanalah kehidupan bersama yang lebih baik dapat dibangun.

Latifah/melipirnews.com

Posting Komentar

0 Komentar