Setiap Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) selesai digelar, selalu menyisakan lebih dari sekadar siapa yang menang dan siapa yang kalah. Di balik pergantian kepemimpinan, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: NU hendak menjadi apa setelah Muktamar?
Konfigurasi kepemimpinan NU ke depan hasil Muktamar ke-35 yang mempertemukan KH Miftahul Akhyar sebagai rais ‘aam dan KH. Abdul Hakim Mahfudz, atau yang lebih akrab disebut Gus Kikin, sebagai Ketua Umum PBNU, ormas ini memiliki peluang menghadirkan wajah yang menarik, yakni perpaduan antara otoritas keulamaan, akar pesantren, legitimasi sejarah, dan manajemen modern. Akan tetapi, peluang itu hanya akan menjadi kekuatan jika satu hal dapat dijaga: jangan ada dua matahari.
Kompas dan Mesin
KH Miftahul Akhyar sebagai incumbent rais ‘aam membawa otoritas keulamaan dan kesinambungan tradisi. Dalam situasi NU yang semakin kompleks, kehadiran ulama sebagai penjaga arah menjadi sangat penting. Modernisasi NU tidak boleh membuat organisasi ini kehilangan akar. Pesantren, aswaja, khazanah keilmuan Islam, adab, dan tradisi keulamaan harus tetap menjadi fondasi.
Baca juga: Susi Pujiastuti Eks Menteri: "Kita Tidak Boleh Diam"
Di sisi lain, Gus Kikin membawa modal yang berbeda. Sebagai cucu KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, ia memiliki legitimasi historis yang kuat. Latar belakangnya sebagai pengusaha juga menawarkan perspektif manajerial: bagaimana mengelola sumber daya, membangun jaringan, membaca peluang, dan memastikan organisasi menghasilkan manfaat nyata.
Sederhananya, KH. Miftahul Akhyar adalah kompas; Gus Kikin adalah mesin. Kompas menentukan arah. Mesin membuat kendaraan bergerak. NU tidak membutuhkan keduanya untuk saling berlomba. NU membutuhkan keduanya untuk saling melengkapi dan bersinergi.
Dari Politik ke Institusi
NU tidak mungkin sepenuhnya lepas dari politik. Besarnya jumlah warga NU dan pengaruh sosialnya membuat organisasi ini selalu menjadi bagian penting dari dinamika politik nasional. Namun NU harus berhati-hati agar tidak terjebak menjadi sekadar political capital.
Kekuatan NU sesungguhnya terletak pada institusi yang dibangun lintas generasi: pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga filantropi, koperasi, badan usaha, dan jaringan sosial masyarakat. Karena itu, agenda strategis NU ke depan semestinya adalah bergerak dari political NU menuju institutional NU. NU harus kuat karena institusinya, bukan hanya karena kedekatannya dengan kekuasaan.
Pesantren harus semakin berkualitas, Lembaga pendidikanya harus semakin kompetitif. rumah sakitnya harus semakin profesional, filantropi nya harus semakin transparan, asetnya harus dikelola secara akuntabel, Ekonomi warganya harus menjadi prioritas. Di sinilah latar belakang Gus Kikin sebagai pengusaha dapat menemukan relevansinya. Bukan untuk merubah NU menjadi Perusahaan, tetapi untuk menghadirkan profesionalisme dalam mengelola amanah umat.
Tanggung Jawab Darah Biru
Sebagai cucu KH Hasyim Asy’ari, Gus Kikin membawa nama besar sejarah NU, tetapi garis keturunan bukanlah tujuan. Darah biru adalah modal sosial sekaligus tanggung jawab sejarah. Masyarakat NU pada akhirnya tidak membutuhkan simbol semata, mereka membutuhkan bukti:
Apakah pendidikan warga NU semakin baik?
Apakah pesantren semakin mandiri?
Apakah ekonomi warga meningkat?
Apakah anak muda NU mendapatkan ruang?
Apakah aset organisasi semakin produktif?
Apakah tata kelola semakin transparan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang memiliki garis keturunan paling dekat dengan pendiri NU. Justru karena membawa nama KH Hasyim Asy’ari, gus Kikin dituntut membuktikan bahwa warisan sejarah dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata untuk umat.
Jangan Ada Dua Matahari
Di sinilah titik paling krusial. Rais ’aam memiliki otoritas keulamaan, sementara ketua umum memiliki mandat organisatoris. Keduanya harus berada dalam satu desain kepemimpinan. Syuriyah harus menjadi penjaga nilai, fikrah, arah keagamaan, dan marwah organisasi, sedangkan tanfidziyah harus menjadi pelaksana yang menerjemahkan arah tersebut menjadi kebijakan, program, dan hasil. Jika batas ini kabur, konflik kewenangan mudah muncul.
Jika terlalu dominan satu pihak, keseimbangan organisasi terganggu. Karena itu, NU tidak membutuhkan dua matahari. Yang dibutuhkan adalah satu tujuan, satu visi, dan pembagian peran yang sehat. KH. Miftahul Akhyar menjaga ruh NU, sementara gus Kikin bertugas menggerakkan tubuhnya. Keduanya harus berjalan dalam satu arah.
Tiga Agenda
Ada tiga pekerjaan besar yang seharusnya menjadi prioritas. Pertama, rekonsiliasi. Kontestasi Muktamar harus berhenti setelah keputusan diambil. NU harus kembali menjadi rumah bersama. Kedua, profesionalisme kelembagaan. Pengelolaan aset, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan filantropi harus menggunakan tata kelola modern, transparan, dan akuntabel. Ketiga, kaderisasi. NU harus mempersiapkan generasi baru yang menguasai teknologi, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan politik, tetapi tetap memiliki akar pesantren yang kuat. Sebab tantangan terbesar NU bukan siapa yang memimpin hari ini, tetapi, tantangan sebenarnya adalah apakah NU mampu tetap relevan dua puluh, tiga puluh, bahkan lima puluh tahun ke depan.
Kembali ke Akar, Melangkah ke Masa Depan
Pada akhirnya, NU tidak perlu memilih antara tradisi dan modernitas, NU harus mempertemukan keduanya. Jika KH. Miftahul Akhyar memberikan ruh dan kompas, sementara Gus Kikin menghadirkan energi dan mesin, maka konfigurasi itu dapat menjadi peluang bagi NU untuk memasuki babak baru. Babak ketika NU tidak lagi terlalu sibuk memperdebatkan siapa yang paling dekat dengan kekuasaan, tetapi lebih serius membangun institusi yang memberikan manfaat bagi umat.
Baca juga: Menyambut Muktamar NU Ke-35: Mengenang Jejak Langkah KH. Abdul Wahab Hasbullah
NU tidak harus meninggalkan politik, tetapi NU harus memastikan bahwa politik bukan satu-satunya ukuran kebesarannya. Sebab warisan KH Hasyim Asy’ari tidak berhenti pada berdirinya sebuah organisasi. Warisan itu adalah tradisi ilmu, pesantren, kemandirian, dan pengabdian kepada umat.
Maka, Ketika KH. Miftahul Akhyar dan Gus Kikin berada dalam satu kepemimpinan, tantangannya adalah mereka bukan menjadi dua matahari yang saling mengalahkan satu sama lain, tetapi bagaimana dua kekuatan tersebut menjadi penerang satu jalan yang sama. Jalan menuju NU yang berakar pada pesantren, kuat secara kelembagaan, mandiri secara ekonomi, profesional dalam tata kelola, terbuka terhadap generasi muda, dan tetap setia pada khittah perjuangan para pendirinya. NU tidak membutuhkan dua matahari. Yang dibutuhkan NU satu cahaya yang menerangi masa depan organisasi.
DR. Muhamad Ali Wafa, M.Kom, UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang

0 Komentar