-->

LISAN XIII: Besutan Melawan Zaman dengan Kesederhanaan

Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) secara resmi membuka Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan Nusantara XIII (LISAN XIII) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 5-7 Agustus 2026

Mengusung tema "Peranan Tradisi Lisan sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam Merawat Kemanusiaan, Alam, dan Kehidupan dari Masa Lalu ke Masa Depan," acara ini menjadi ruang pertemuan pegiat budaya dari berbagai daerah Indonesia serta mancanegara.

Ketua Umum ATL, Pudentia MPSS, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap partisipasi peserta dari berbagai wilayah Indonesia dan sahabat tradisi lisan dari India, Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Swiss, hingga Swedia. Menurutnya, kehadiran para peserta menegaskan bahwa tradisi lisan mampu mempertemukan beragam bangsa, bahasa, dan kebudayaan dalam ruang dialog yang setara.

Baca juga: Riuh Panggung Seni Jawa Timur, Sunyi Arsip dan Dokumentasinya

Pudentia menekankan bahwa melestarikan warisan budaya takbenda bukan sekadar mengamankan keberadaan seni pertunjukan seperti Mak Yong, Besutan, atau Gambang Kromong. "Melestarikan warisan budaya takbenda untuk tetap hidup dan dihidupi adalah sama dengan melestarikan gerak musim, sungai, hutan, dan hewan," ujarnya mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan alam melalui tradisi.

Besutan: Api Ludruk dalam Bentuk Sederhana

Salah satu sorotan utama dalam LISAN XIII adalah penampilan kesenian Besutan dari Jawa Timur yang dibawakan oleh seniman Meimura. Besutan merupakan seni tutur yang dikenal sebagai cikal bakal ludruk. Kesenian ini tumbuh dari kesederhanaan namun menyimpan kekayaan ekspresi luar biasa, memadukan pola penceritaan khas, humor segar, kritik sosial tajam, serta gaya komunikasi yang akrab dan cair dengan penonton.

Berbeda dengan ludruk konvensional yang membutuhkan banyak pemain, perangkat gamelan, dan panggung pertunjukan, Besutan justru hadir dalam bentuk yang lebih lentur. Kesenian ini dapat dimainkan tanpa iringan musik, tanpa tata panggung rumit, bahkan dapat dibawakan oleh seorang pemain tunggal layaknya monoplay yang hidup, lincah, dan komunikatif. Format pertunjukan ini mengusung semangat "Ludruk Garingan"—pertunjukan tanpa iringan musik tetap yang fleksibel menyesuaikan kondisi lokal.

Budayawan Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua ATL Jawa Timur, Henri Nurcahyo, mempresentasikan makalah berjudul "Menyalakan Api Ludruk Melalui Besutan" dalam forum seminar. Dalam makalahnya, Henri mengangkat kondisi ludruk yang kini terpuruk. Jumlah kelompok ludruk terus menurun, panggilan pentas semakin berkurang, dan regenerasi tersendat akibat minimnya kesejahteraan pemain.

"Besutan merupakan jalan alternatif bagi keberlangsungan ludruk di masa kini. Dengan bentuknya yang ringan, fleksibel, dan dekat dengan masyarakat, Besutan membuka peluang agar semangat ludruk tetap menyala, menjangkau ruang-ruang baru, dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya," ujar Henri dalam makalahnya.

Gerakan "Besut Jajah Deso Milangkori"

Kehadiran Besutan di forum internasional ini merupakan kelanjutan dari gerakan "Besut Jajah Deso Milangkori" yang telah dilaksanakan Meimura di 10 kota di Jawa Timur sejak April 2026. Program yang didukung Kementerian Kebudayaan ini bertujuan memperkenalkan kembali Besutan kepada masyarakat sekaligus menghidupkan semangat ludruk di tengah keterbatasan.

Baca juga: Setelah Setengah Abad Menghilang, Wayang Topeng Menak Malangan Bangkit Kembali

Setiap pementasan dalam rangkaian road show ini mengangkat isu berbeda yang relevan dengan kondisi setempat. Di Sidoarjo, misalnya, Besutan menyentil konflik perebutan sumber daya di kawasan pesisir antara "juragan bandeng" dan "juragan udang." Di Mojokerto, isu penambangan versus pelestarian situs sejarah menjadi tema utama. Kesenian ini hadir bukan sekadar hiburan, melainkan media katarsis dan kritik sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Henri menjelaskan bahwa baik ludruk maupun Besutan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Namun, keberadaan keduanya kini menghadapi tantangan akibat perubahan zaman, menurunnya regenerasi pelaku, dan minat masyarakat yang beralih ke hiburan modern.

Dari Betawi hingga India, LISAN XIII Jadi Panggung Silang Budaya Dunia

LISAN XIII juga dirangkaikan dengan Musyawarah Nasional ATL, peluncuran buku, serta berbagai pertunjukan seni dari berbagai daerah. Selain Besutan, acara ini menampilkan Gambang Rancag dari Betawi, Seraikela Chhau dari India, Yosim Pancar dari Papua, dan Silek Harimau dari Sumatera Barat.

Acara ini menjadi bentuk komitmen ATL—yang telah terakreditasi UNESCO sejak 2011—dalam menjaga dan mengembangkan tradisi lisan sebagai warisan budaya bangsa yang tetap hidup dan relevan. Seperti disampaikan Pudentia dalam sambutannya, tradisi lisan adalah pengetahuan yang terus hidup, menyimpan nilai kemanusiaan, etika ekologis, dan cara masyarakat menjaga keseimbangan kehidupan.

Latifah/Melipirnews 

Posting Komentar

0 Komentar