[OPINI] Belajar dari Badai Geopolitik Mark Carney: Indonesia Membutuhkan Lebih Banyak Pilihan

Oleh: Latifah, Redaktur Melipirnews

Ada masa ketika persoalan geopolitik terasa seperti sesuatu yang berlangsung jauh dari kehidupan sehari-hari. Pertemuan para pemimpin negara, perang dagang, aliansi pertahanan, atau perubahan tata ekonomi dunia seolah berada di ruang yang berbeda dari persoalan harga kebutuhan pokok, biaya produksi, pekerjaan, dan masa depan anak-anak kita. Dunia sekarang membuat batas itu semakin tipis.

Keputusan sebuah negara menaikkan tarif dapat memengaruhi harga dan produksi di negara lain. Gangguan jalur pelayaran dapat menghambat pasokan. Perebutan mineral kritis berkaitan dengan kendaraan listrik dan teknologi. Perkembangan kecerdasan buatan memengaruhi pekerjaan dan pendidikan. Perubahan iklim dapat mengganggu pangan dan infrastruktur.

Karena itu, pidato Perdana Menteri Kanada Mark Carney di hadapan Parlemen Eropa di Strasbourg, Prancis, pada 17 September 2026, layak dibaca lebih dari sekadar berita diplomatik. Carney menggambarkan situasi dunia saat ini sebagai sebuah “geopolitical rupture”, sebuah keretakan geopolitik yang mendalam. Ia kemudian menggunakan metafora yang lebih mudah dipahami, yaitu badai. “Perpaduan semua ini merupakan badai yang dahsyat,” kata Carney.

Badai yang dimaksud bukan satu krisis tunggal. Di dalamnya terdapat ketegangan geopolitik, penggunaan instrumen ekonomi sebagai alat tekanan, kerentanan rantai pasok, perubahan teknologi, perubahan iklim, serta tantangan terhadap nilai-nilai yang selama ini menjadi dasar tata hubungan internasional. Pertanyaannya bagi Indonesia bukan apakah kita akan terkena badai itu. Pertanyaannya adalah seberapa siap kita menghadapinya.

Ketahanan bukan berarti berdiri sendirian Ada satu gagasan Carney yang penting untuk diperhatikan, yaitu ketahanan tidak sama dengan kemandirian mutlak. “Kedaulatan hari ini bukan sekadar kemampuan untuk menyediakan makanan, energi, dan pertahanan bagi diri sendiri,” katanya.  Menurut Carney, kedaulatan juga mencakup kemampuan mendapatkan akses yang aman terhadap AI, semikonduktor, mineral kritis, sistem pembayaran, teknologi energi bersih, vaksin, dan komunikasi berbasis ruang angkasa.

Baca juga: Kekerasan Terbaru Sebagai Upaya Internasionalisasi Isu Papua

Di sini kita menemukan paradoks dunia modern.Tidak ada negara yang benar-benar berdiri sendiri. Bahkan negara dengan sumber daya alam besar tetap membutuhkan teknologi, pasar, modal, pengetahuan, dan jaringan perdagangan. Karena itu, Carney menawarkan konsep collective resilience. “Tujuannya bukan kemandirian penuh. Tujuannya adalah ketahanan bersama,” ujarnya.

Bagi Indonesia, gagasan ini penting. Kemandirian seharusnya tidak diterjemahkan sebagai keinginan untuk memproduksi segala sesuatu sendirian. Yang lebih mendesak adalah memperbanyak kemampuan dan memperluas pilihan. Kita membutuhkan lebih banyak sumber energi, lebih banyak pasar, lebih banyak mitra teknologi, lebih banyak kemampuan pengolahan, dan lebih banyak jalur kerja sama. Sebuah negara menjadi rentan bukan semata karena bergantung pada negara lain. Kerentanan muncul ketika ketergantungan itu terlalu terkonsentrasi sehingga pilihan menjadi sedikit. 

Satu Pohon dan Sebuah Hutan

Carney memiliki metafora yang menarik untuk menjelaskan gagasan tersebut. “Satu pohon mungkin tumbang diterjang badai. Sebuah hutan tidak,” katanya. Hutan menjadi kuat karena pohon-pohon di dalamnya saling terhubung. Ada hubungan yang memungkinkan mereka bertahan menghadapi tekanan yang tidak dapat dihadapi sendirian.

Metafora ini juga dapat digunakan untuk membaca posisi Indonesia. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, Indonesia membutuhkan jejaring yang luas. Bukan jejaring yang dibangun untuk memilih satu kubu dan memusuhi kubu lain, melainkan hubungan yang membuat Indonesia memiliki ruang gerak.

Kita memiliki kepentingan dengan banyak kawasan dan banyak negara. Ada kepentingan perdagangan, investasi, pendidikan, energi, teknologi, pertahanan, lingkungan, dan perlindungan warga negara. Semua kepentingan tersebut membutuhkan satu hal yang sering kali tidak terlihat dalam statistik ekonomi: kemampuan membangun hubungan.

Diplomasi adalah Bagian dari Ketahanan

Di sinilah terlihat satu pelajaran penting dari pidato Carney. Dalam situasi dunia yang penuh ketidakpastian, diplomasi seharusnya tidak ditempatkan sebagai pelengkap kebijakan luar negeri. Diplomasi merupakan bagian dari infrastruktur ketahanan nasional. Diplomasi  memungkinkan sebuah negara memperluas pasar, mencari sumber teknologi, membangun kerja sama pendidikan, memperoleh akses terhadap energi dan bahan baku, menyelesaikan persoalan warga negara di luar negeri, sekaligus mempertahankan ruang untuk menentukan kepentingannya sendiri.

Carney sendiri mengusulkan agar pola aliansi tidak hanya dibangun berdasarkan kedekatan geografis, tetapi juga berdasarkan fungsi. “Kita dapat membangun aliansi berdasarkan fungsi jika kita berani dan melakukannya dengan sengaja,” ujarnya. Bagi Indonesia, prinsip ini menarik untuk dipikirkan.

Kita tidak harus memiliki kepentingan yang sama dengan sebuah negara dalam segala hal untuk dapat bekerja sama dalam bidang tertentu. Kita dapat bekerja sama dalam energi dengan satu pihak, pendidikan dengan pihak lain, teknologi dengan pihak berikutnya, dan perdagangan dengan mitra lainnya. Diplomasi yang demikian membutuhkan kemampuan membaca kepentingan, membangun kepercayaan, menjaga komunikasi, dan hadir secara konsisten.

Semakin banyak hubungan produktif yang dapat dibangun, semakin luas pula ruang pilihan Indonesia. Namun, dunia tidak menunggu kita siap. Masalahnya, perubahan global berlangsung jauh lebih cepat daripada perubahan institusi. Carney sendiri mengingatkan bahwa ekosistem kerja sama yang telah dibangun belum cukup kuat menghadapi perubahan yang berlangsung sangat cepat. Ini seharusnya menjadi perhatian Indonesia.

AI berkembang dalam hitungan tahun. Rantai pasok dapat berubah dalam hitungan bulan. Konflik dapat mengubah harga energi dalam hitungan hari. Kebijakan perdagangan dapat berdampak jauh lebih cepat daripada proses adaptasi sebuah institusi. Karena itu, diplomasi tidak cukup hanya hadir dalam bentuk seremoni.

Negara membutuhkan diplomat dan pengambil kebijakan yang mampu memahami ekonomi, teknologi, lingkungan, kebudayaan, keamanan, serta perubahan sosial sekaligus. Dunia tidak lagi memisahkan bidang-bidang tersebut secara rapi. Seorang diplomat yang membicarakan energi, misalnya, pada saat yang sama mungkin sedang membicarakan investasi, teknologi, perubahan iklim, keamanan, dan lapangan kerja. Begitu pula diplomasi pendidikan tidak sekadar pertukaran mahasiswa, tetapi dapat menjadi cara membangun jejaring pengetahuan yang baru terasa manfaatnya bertahun-tahun kemudian.

Kedaulatan Berarti Memiliki Pilihan

Pada akhirnya, persoalan yang dibicarakan Carney kembali kepada satu kata, yaitu pilihan. “Kami tidak mencari kekuatan untuk mendominasi pihak lain,” katanya. Yang ia tawarkan adalah ketahanan agar tidak ada pihak yang dapat dengan mudah mengendalikan pasar, mengganggu kedaulatan, atau mempersempit kebebasan menentukan pilihan. Bagi Indonesia, konsep ini terasa penting.

Kedaulatan pada abad ke-21 tidak cukup diukur dari luas wilayah, jumlah penduduk, atau kekayaan sumber daya alam. Kedaulatan juga dapat dilihat dari seberapa luas ruang yang tersedia bagi sebuah negara untuk menentukan pilihan ketika keadaan berubah. 

Apakah kita memiliki cukup banyak mitra?

Apakah kita memiliki cukup banyak pasar?

Apakah kita memiliki kemampuan teknologi yang memadai?

Apakah kita mempunyai sumber daya manusia yang mampu membaca perubahan?

Apakah kita memiliki jaringan diplomatik yang membuat Indonesia didengar dan dipercaya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak perjanjian yang telah ditandatangani.

Dari Strasbourg untuk Indonesia

Carney menutup pidatonya dengan kisah tentang pohon ek yang akarnya menghubungkan sejarah Kanada dan Eropa. Ia mengatakan, “Ini adalah bukti nyata bahwa apa yang kita tanam bersama dapat melewati musim dingin yang paling gelap dan kembali tumbuh subur.” Diplomasi juga bekerja seperti itu. Diplomasi tidak selalu menghasilkan sesuatu yang langsung terlihat. Sebuah hubungan yang dibangun hari ini mungkin baru memberikan manfaat bertahun-tahun kemudian. Sebuah kerja sama pendidikan dapat melahirkan jejaring baru. Sebuah hubungan perdagangan dapat menjadi pintu bagi kerja sama teknologi. Sebuah pertemuan yang tampak sederhana dapat menjadi awal dari kesepakatan yang lebih besar.

Baca juga: Mengulik Cerita Para Algojo 65 Menghilangkan Trauma

Karena itu, di tengah “badai” geopolitik yang digambarkan Carney, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan bertahan di dalam negeri. Kita membutuhkan kemampuan membangun jembatan ke berbagai arah. Bukan untuk menjadi bagian dari semua kelompok. Bukan pula untuk berdiri di luar semuanya. Melainkan untuk memastikan bahwa ketika dunia berubah, Indonesia masih memiliki cukup banyak hubungan, cukup banyak kepercayaan, dan cukup banyak pilihan untuk menentukan jalannya sendiri. Sebab pada akhirnya, diplomasi yang kuat bukan tentang seberapa sering sebuah negara terlihat di panggung dunia. Diplomasi yang kuat adalah kemampuan membuat kehadiran itu berarti ketika kepentingan nasional sedang membutuhkan ruang.

Posting Komentar

0 Komentar