Sebuah pemandangan yang biasa sekarang, toko kecil dipenuhi aneka rencengan bahan minuman dan juga kebutuhan sehari-hari lainnya dengan etalase kaca yang di dalamnya bersusun rapi aneka rokok dari berbagai merek. Itulah warung MaduraLebih kurang seperti itulah potret yang hampir seragam dari warung Madura. Jika diperhatikan di berbagai tempat, polanya hampir sama persis. Penataan barang misalnya, dibuat secara simetris. Lihat misalnya dagangan beras diletakkan di dalam wadah kaca di bagian depan bawah. Kemudian di atasnya ditempatkan barang barang komoditas lain misalnnya rokok yang memakan banyak tempat sendiri.
Ciri penampakan berikutnya, ruang yang sempit, namun penuh dengan barang komoditas. Rak kayu atau besi menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit toko mengitari dinding tokoh. Lalu di tempatkan di sela-selanya dipasang gantungan untuk menaruh barang dagangan yang dikemas dalam saset. Gantungan yang begitu padat, mulai dari aneka bahan minuman, sabun cuci hingga sampo saset yang digantung rapat di bagian atas, sampai bahkan menutupi warung. Penjaga warung seperti berada dalam timbunan barang-barang dagangannya.
Baca juga: Riset BCA: Pertumbuhan Naik, Tapi Dompet Rumah Tangga Masih Terasa Ketat
Ada lagi yang tampak hampir sama. Pom mini atau Pertamini. Ini khususnya bagi warung yang agak besar yang berada di lokasi pinggir jalan besar. Botol pertamini yang berisi pertalite eceran atau mesin pom mini sering berdiri di sisi luar warung. Pertamini ini bisa jadi menjadi penolong bagi para pengendara yang kehabisan bahan bakar, sedangkan lokasi SPBU cukup jauh dari tempat itu.
Begitu pula dengan pelawat yang lewat dan sedang kehausan. Mereka bisa dengan mudah menghilangkan dahaganya di warung Madura. Di bagian depan warung, biasanya disediakan minuman dingin dari berbagai rasa. Kulkas ditempatkan di posisi yang dapat langsung terlihat oleh pembeli.
Mungkin tidak terbayang jika warung Madura hanya di pinggir-pinggir jalan utama. Tidak sedikit ternyata pemilik warung mendirikan tokonya di pinggir jalan sempit alias gang. Namun cirinya yang tidak jauh beda, warung-warung itu berdiri di kawasan padat pemukiman dan ruangan yang sempit namun penuh dengan barang dagangan.
Sebuah warung Madura yang dijumpai Melipirnews di kawasan Tangerang Selatan juga menunjukkan kesan yang sama. Warung yang tidak terlalu besar, namun berbagai barang kebutuhan sehari-hari tersedia di situ. Cak Sodikin yang tinggal di kawasan Pamulang merintis usaha warung ini bersama istrinya. Sebelum mendirikan warung, ia sudah lebih dulu menjalani profesi sebagai mitra ojek online. Namun ia merasa, panggilan hatinya lebih sesuai untuk berjualan. Berkat saran dari sesama tretan (sesama Madura) ia memilih berjualan kelontong.
Baca juga: Getuk Goreng Banyumas dan Impian Tembus Pasar Dunia
Apa yang dijalani warung-warung Madura seperti ini sudah banyak dipotret para sarjana. Salah satunya adalah Medhy Aginta Hidayat dan timnya dari Universitas Trunojoyo, Madura yang berkolaborasi dengan Ida Ruwaida dan timnya dari Universitas Indonesia yang mengadakan riset tentang keberadaan warung-warung Madura di Jakarta tahun 2022 lalu yang diterbitkan dalam sebuah jurnal berjudul, Bargaining for the Good Fate: An Ethnography of the Social Mobilityof Madurese Migrant Traders in Jakarta ((2023).
Menurut penelitian antropologis mereka, para pemilik warung Madura di kawasan Jakarta ini sangat mengandalkan relasi di antara sesama etnis yang juga berprofesi sama. Untuk kebutuhan usaha, mereka lebih percaya pada modal yang dimiliki saat itu ketimbang memanfaatkan jasa peminjaman modal usaha modern. Jaringan yang kuat di antara mereka ini menjadi modal sosial bagi mereka untuk menekuni profesi sebagai penjual komoditas sehari-hari dengan lebel sosial, warung Madura.
Begitu pun dengan rekutmen pada pekerjanya. Mereka lebih mengadalkan kepercayaan ketimbang melakukan rekruitmen terbuka yang membutuhkan energi lebih yang belum tentu mereka dapat dipercaya. Modal kepercayaan menjadi ladasan bagi kelangsungan usaha mereka. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika para pekerja yang menjaga warung tetap buka selama 24 jam itu berasal dari lingkungan keluarga mereka sendiri.
Karena itu tidak heran jika keberadaan warung-warung Madura ini menjadi kompetitor bagi toko-toko kebutuhan sehari-hari yang mengandalkan konsep fasilitas modern.
Melipirnews

0 Komentar