Acara ini membahas dua buku terbaru Ariel Heryanto, Nasib Publik dalam Republik dan Huruf demi HurufUniversitas Ciputra (UC) Surabaya menghadirkan Prof. Ariel Heryanto, yang dikenal luas melalui karya-karyanya di bidang kajian budaya, media, dan Indonesia kontemporer dalam acara diskusi bertajuk "Membaca Indonesia lewat Lensa Ariel Heryanto" pada Jumat (10/7/2026).
![]() |
| Suasana diskusi bersama Prof. Ariel Heryanto di Universitas Ciputra, Surabaya (dok. Melipirnews.com) |
Acara ini membahas dua buku terbaru Ariel Heryanto, Nasib Publik dalam Republik dan Huruf demi Huruf, sekaligus menjadi ruang dialog lintas generasi mengenai bahasa, sejarah, demokrasi, dan identitas Indonesia.
Acara dibuka oleh Rektor Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Wirawan Endro Dwi Radianto, M.Sc., Ak., CA. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Universitas Ciputra dibangun sebagai kampus multikultural yang mendorong mahasiswa memahami keberagaman Indonesia.
"Kami memiliki mata kuliah Menjadi Indonesia sebagai bagian dari pembentukan karakter mahasiswa. Kehadiran Prof. Ariel Heryanto menjadi kesempatan penting untuk melihat Indonesia dari perspektif diaspora. Orang Indonesia yang telah lama hidup di luar negeri sering kali memiliki sudut pandang berbeda dalam membaca berbagai fenomena di tanah air, termasuk berbagai narasi yang berkembang seperti istilah Indonesia Gelap," ujar Wirawan.
Diskusi diawali dengan tanggapan dari Kelvin William, mahasiswa International Business Management angkatan 2024 Universitas Ciputra. Ia mengaku kedua buku Ariel Heryanto memberinya perspektif baru, terutama karena latar belakang studinya bukan berasal dari ilmu sejarah.
"Buku ini sangat berdampak bagi saya. Saya mulai melihat bagaimana kata bukan sekadar alat komunikasi, tetapi simbol yang membentuk cara manusia memahami realitas," ungkapnya.
Kelvin menyoroti pembahasan mengenai penggunaan istilah dalam sejarah Indonesia, termasuk mengapa istilah tertentu, seperti "pemerkosaan" dalam konteks Tragedi Mei 1998, sering diperdebatkan. Menurutnya, pilihan kata tidak pernah netral karena mengandung lapisan-lapisan kekuasaan dan kekerasan politik.
Ia juga mengangkat fenomena plesetan sebagai bentuk kritik sosial, seperti singkatan RSS (Rumah Sangat Sederhana) yang dipelesetkan menjadi "Rumah Sangat Sengsara". Baginya, bahasa menjadi medium yang memperlihatkan bagaimana masyarakat menyampaikan kritik ketika ruang kebebasan dibatasi.
Selain Kelvin, diskusi juga menghadirkan D. S. Elisabet Novililiana atau Nana, dosen Universitas Ciputra sekaligus redaktur majalah Panjebar Semangat. Nana membagikan pengalaman pribadinya sebagai penutur bahasa Jawa berlatar belakang etnis Tionghoa.
Ia mengisahkan bagaimana dirinya kerap menerima komentar, "Kamu China kok mengajar bahasa Jawa?" Awalnya komentar tersebut dianggap sebagai pujian, namun lama-kelamaan menjadi pertanyaan mengenai stereotip identitas yang dilekatkan kepada seseorang. “Awalnya seneng, lama-lama senep.”
Menurutnya, pengalaman tersebut relevan dengan gagasan Ariel Heryanto mengenai identitas, bahasa, dan posisi seseorang dalam masyarakat. Ia juga menyinggung tantangan dunia jurnalisme saat ini yang semakin dipengaruhi media sosial.
Mengutip pemikiran Ariel Heryanto, Nana menggarisbawahi bahwa dunia tetap membutuhkan jurnalisme yang sehat dan beretika, terutama ketika masyarakat menghadapi polarisasi dan banjir informasi. Meski jurnalisme abad ke-20 menghadapi berbagai tekanan, profesi tersebut tetap memiliki peran penting dalam menjaga kualitas ruang publik.
Menanggapi berbagai pandangan tersebut, Ariel Heryanto menyampaikan bahwa tujuan utamanya menghadiri acara ini bukan semata-mata mempromosikan buku, melainkan memperoleh kebahagiaan sebagai penulis melalui perjumpaan dengan para pembaca.
"Saya datang untuk memetik kebahagiaan sebagai penulis, yaitu melihat bagaimana pembaca, terutama pembaca muda, menanggapi tulisan saya," katanya.
Dalam pemaparannya, Ariel mengajak peserta untuk melihat bahasa bukan sekadar alat menyampaikan pikiran dan perasaan. Bahasa, menurutnya, selalu dipengaruhi oleh sejarah, relasi kuasa, dan berbagai kepentingan sosial.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat multilingual memiliki keuntungan karena mampu melihat dunia melalui lebih dari satu perspektif. Dalam konteks Indonesia, sebagian besar masyarakat setidaknya menguasai tiga bahasa—bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing—sehingga memiliki modal penting untuk memahami keragaman sudut pandang.
Ariel juga mengingatkan bahwa aturan bahasa tidak hanya dibentuk oleh para ahli bahasa. Di balik setiap aturan terdapat dinamika sosial, politik, dan kekuasaan yang ikut menentukan bagaimana suatu istilah diterima atau ditolak oleh masyarakat.
Terkait isu demokrasi dan kehidupan berbangsa. Ariel menilai bahwa Indonesia tidak hanya ditentukan oleh figur presiden, tetapi juga oleh berbagai kepentingan sosial, ekonomi, politik, dan kekuatan lain yang bekerja di balik proses pengambilan keputusan.
Menurutnya, perubahan besar baru akan dapat terjadi ketika muncul krisis yang mendalam, konflik sosial yang tidak lagi mampu diselesaikan oleh elite politik, atau adanya intervensi dari luar, sebagaimana pernah terjadi dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Ia juga mengkritisi praktik demokrasi elektoral yang cenderung memaknai kedaulatan rakyat sebatas proses pemilu. Setelah memberikan suara, masyarakat sering kali kehilangan ruang untuk mengawasi bagaimana kebijakan dan anggaran dijalankan.
"Bahasa memang dapat menyatukan, tetapi pada saat yang sama juga dapat memecah belah," ujarnya. Perbedaan antara bahasa ilmiah dan bahasa populer, misalnya, menunjukkan bahwa setiap kelompok memiliki cara sendiri dalam membangun makna dan memengaruhi ruang publik.
Diskusi yang dimoderatori oleh FX Domini BB Hera berlangsung interaktif hingga akhir acara. Berbagai pertanyaan dan tanggapan peserta mencerminkan antusiasme pembaca dalam berdialog dengan gagasan-gagasan yang ditawarkan Ariel Heryanto.
Pembahasan mengenai bahasa, sejarah, media, dan demokrasi berkembang menjadi ruang berbagi perspektif, sejalan dengan tujuan Ariel menghadiri acara ini, yaitu mendengarkan bagaimana para pembaca, terutama generasi muda, memaknai karya-karyanya.
Latifah/melipirnews.com

0 Komentar