Puluhan tahun setelah kepergiannya, Gombloh kembali mempertemukan para penikmat musik dan pegiat budaya di Balai Pemuda Surabaya
Pengunjung tidak hanya datang dari Surabaya, tetapi juga dari berbagai daerah untuk mengikuti rangkaian "Gombloh Bukan Hanya di Radio: Cinta 24 Karat Gombloh untuk Indonesia" yang berlangsung pada 7–9 Juli 2026 di Galeri Merah Putih Balai Pemuda. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa karya-karya Gombloh tidak sekadar menjadi kenangan, tetapi tetap hidup dan terasa dekat dengan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini.
![]() |
| Ludruk dengan lakon lakon "Kugadaikan Cintaku" (dok. Melipirnews) |
Melalui pameran foto, monolog, pembacaan puisi, dan pertunjukan music, hingga reuni Lemon Trees '69, pengunjung diajak mengenal kembali sosok Gombloh, bukan hanya sebagai pencipta Kebyar-Kebyar, tetapi sebagai seniman yang menjadikan musik sebagai cara membaca masyarakat. Di balik lirik-liriknya, Gombloh merekam persoalan kemanusiaan, nasionalisme, dan lingkungan yang hingga kini belum kehilangan relevansinya.
Baca juga: "Pengamen Naik Kelas" sebagai Upaya Pemajuan Kebudayaan
Di samping parade musik karya Gombloh, penampilan yang paling banyak menyedot perhatian penonton adalah Ndagelan Ludruk The Luntas (Ludrukan Nom-noman Tjap Arek Soeroboio) yang membawakan lakon "Kugadaikan Cintaku". Dengan gaya ludruk khas Surabaya yang memadukan humor dan kritik sosial, para pemain menghadirkan sosok Gombloh sebagai seniman yang dekat dengan rakyat kecil.
Tawa penonton berulang kali menghangatkan pertunjukan yang berlangsung di tengah lapangan terbuka pada malam berangin itu. Setiap adegan juga mengingatkan bahwa Gombloh selalu menempatkan manusia sebagai pusat dari karya-karyanya.
Dimensi kemanusiaan inilah yang menjadi salah satu alasan lagu-lagu Gombloh tetap hidup. Dalam "Selamat Pagi Kotaku", misalnya, ia tidak berbicara tentang kota melalui gedung-gedung atau jalan raya, melainkan melalui seorang perempuan tua yang mengasuh bayinya sambil menjaga warung kopi di kaki lima.
Tokoh-tokoh sederhana itu menjadi wajah masyarakat yang sering luput dari perhatian. Bahkan, setelah puluhan tahun berlalu, potret ketimpangan sosial yang direkam Gombloh masih mudah ditemukan di berbagai sudut kota Indonesia.
Kepekaan yang sama juga tampak dalam lagu "Nyanyian Anak Seorang Pencuri". Alih-alih menghakimi, Gombloh memilih melihat dari sudut pandang seorang anak yang tetap mencintai ayahnya meski sang ayah divonis sebagai penjahat. Empati terhadap manusia yang berada di pinggir kehidupan menjadi kekuatan yang membuat karya-karyanya melampaui zamannya.
Menurut ketua panitia, Esthi Susanti Hudiono, tema "Gombloh Bukan Hanya di Radio" dipilih untuk menegaskan bahwa karya-karya Gombloh tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi mengandung nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Lagu-lagu Gombloh memiliki kekuatan membangun karakter dan rasa kebangsaan.
Publik selama ini lebih sering mengenal Gombloh melalui lagu patriotik seperti Kebyar-Kebyar, padahal karya-karyanya juga menyuarakan solidaritas kepada masyarakat kecil, kepedulian terhadap lingkungan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Karena itu, mengenang Gombloh tidak cukup hanya dengan memutar lagu-lagunya, tetapi juga dengan memahami gagasan yang dikandungnya. Pandangan tersebut tampak dalam keseluruhan rangkaian acara.
Selain pertunjukan musik, panitia menghadirkan pameran foto, memorabilia, diskusi budaya, dan menghidupkan kembali tradisi ludruk sebagai media untuk membaca pemikiran Gombloh. Acara ini juga menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi agar Pemerintah Kota Surabaya memberikan penghormatan melalui penamaan Lokaseni Gombloh di kawasan Balai Pemuda, tempat yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan awal karier bermusiknya.
Kepedulian Gombloh terhadap lingkungan pun kembali terangkat. Dalam lagu "Berita Cuaca", yang ditulis lebih dari empat dekade lalu, ia telah mempertanyakan mengapa "bukit-bukit pun telanjang berdiri" dan "burung-burung pun malu bernyanyi". Lirik tersebut kini terasa semakin aktual di tengah berbagai persoalan krisis ekologis yang dihadapi Indonesia.
Baca juga: Riuh Panggung Seni Jawa Timur, Sunyi Arsip dan Dokumentasinya
Pada akhirnya, acara ini memperlihatkan bahwa Gombloh bukan hanya milik sejarah musik Indonesia. Ia tetap hadir melalui lirik-lirik yang mengajak pendengarnya mencintai tanah air tanpa menutup mata terhadap ketidakadilan. Nasionalisme yang ia tawarkan bukan sekadar slogan, melainkan keberanian untuk peduli kepada sesama manusia dan kepada alam tempat kehidupan berlangsung.
Semangat itu sejalan dengan pesan Gombloh, "Jadi seniman itu harus smart. Paling tidak, orang datang ke konser dan mendengar lagu kita itu ketika pulang bisa dapat bahan perenungan. Jadi gampangannya: berangkat senang, pulang jadi pintar."
Melalui "Gombloh Bukan Hanya di Radio", pesan tersebut kembali menemukan maknanya. Lagu-lagu Gombloh tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah musik Indonesia, tetapi terus dibaca sebagai refleksi tentang manusia, kota, bangsa, dan masa depan yang masih diperjuangkan hingga hari ini.
Latifah/melipirnews.com

0 Komentar