-->

Kenapa Juga Trump Tak Sengaja Turut Memperpanas Atmosfir Jelang Laga Argentina Lawan Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026?

Bahkan, skuad Argentina menjadi satu-satunya tim dari 48 negara peserta yang tidak memiliki satu pun pemain berkulit hitam atau keturunan campuran Afro yang terlihat secara fisik (visible minority)
Panasnya suhu pertandingan semifinal Piala Dunia 20206 yang bakal mempertemukan Argentina melawan Inggris begitu nyata. Seandainya kedua negara ini bertemu di babak awal mungkin tensi pertandingan tidak sepanas ini. Hidup mati kedua tim di partai semifinal ini mengingatkan banyak orang akan perang kedua negara tahun 1982 yang berlangsung di sekitar kepulauan Falklands (Malvinas). 


Adalah Presiden Donald Trump yang mengungkit luka lama antarkedua negara itu. Seperti dilaporkan media-media Barat, Trump mempertimbangkan untuk mencabut dukungan diplomatik AS terhadap kedaulatan Inggris atas Kepulauan Falkland (Malvinas). Ancaman ini dilontarkan Trump, April 2026 lalu. Pasalnya, Trump marah besar terhadap Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, yang menolak mendukung penuh operasi militer AS dalam perang melawan Iran. Rencana Trump yang kontroversial ini bocor melalui sebuah memo internal Pentagon pada April 2026. Isinya menunjukkan strategi pemerintahan Trump untuk menghukum sekutu-sekutu Eropa yang dinilai tidak kooperatif.

Ancaman Trump itu memancing reaksi keras Pemerintah Inggris dan langsung memberikan kecaman keras terhadap laporan tersebut. London menegaskan kedaulatan Kepulauan Falkland (Malvinas) tidak dapat diganggu gugat dan hak penentuan nasib sendiri warga pulau tersebut adalah mutlak.

Protes keras atas pernyataan Turmp juga datang dari para veteran. Mereka mengecam keras retorika Trump dan menyebutnya sebagai tindakan perundungan. Mereka memprotes sikap Trump yang memperlakukan pulau, budaya, dan warga Falkland sekadar sebagai bidak catur politik demi menyelesaikan urusan internal NATO. 


Veteran Perang Falklands (Malvinas) 1982 yang paling vokal mengecam retorika Donald Trump adalah Simon Weston. Ia merupakan salah satu sosok veteran paling terkenal di Inggris yang mengalami luka bakar parah akibat pengeboman kapal RFA Sir Galahad selama perang tersebut. Weston menyebut ancaman Trump sebagai "lelucon kejam (cruel joke)". Weston secara blak-blakan menyebut bocornya memo Pentagon tersebut sebagai tindakan yang tidak mencerminkan sikap seorang negarawan serta merasa sedih dan kecewa isu ini dijadikan alat politik. Weston juga mengkritik keras gagasan untuk menyerahkan pulau tersebut ke Argentina dengan menyebutnya sebagai "kebodohan di atas kebodohan (ignorance beyond ignorance)". Ia menegaskan bahwa Argentina tidak pernah memiliki pulau tersebut dan status mereka pada perang 1982 hanyalah sebagai "penyerobot".

Entah bagaimana perasaan Weston dan penduduk Falklands lainnya ketika mengetahui apa yang dinyanyikan pemain-pemain Argentinya setelah berhasil memastikan diri lolos ke semifinal. Para pemain timnas Argentina terekam merayakan kemenangan di ruang ganti sambil menyanyikan chant atau lagu ikonik mereka. Dalam liriknya, mereka secara lantang bernyanyi akan mengalahkan skuad Three Lions (Inggris), "demi Malvinas, demi Diego (Maradona), dan demi Piala Dunia terakhir Leo (Messi)". Penggunaan isu perang 1982 dalam selebrasi sepak bola ini langsung memicu kemarahan publik Inggris. 

Inggris yang Multikulturalis vs Argentina yang Sewarna

Mungkin ini adalah ketabuan, membincang warna kulit di ruang publik, apalagi dalam kancah dunia olahraga. Namun apa daya, ternyata memang kedua negara yang akan berjumpa besok pagi dini hari dalam babak semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Atlanta, Amerika Serikat berbeda unsur dan warna kulit. Inggris yang berwarna, sementara Argentinya yang sewarna. Pertarungan nanti bakal menyajikan beradunya dua aliran kebangsaan tersebut. 

Menurut beberapa sumber, sekitar 57,7% dari total skuad tim nasional Inggris (three lions) di Piala Dunia 2026 memiliki latar belakang multietnis, keturunan campuran (mixed-race), atau berdarah Afrika-Karibia. Hitung-hitungannya, dari 26 pemain yang dipilih oleh pelatih Thomas Tuchel, tercatat ada 15 pemain yang memiliki garis keturunan minoritas atau berhak membela negara lain di luar Inggris melalui orang tua atau kakek-nenek mereka.

Sebaliknya, angka keturunan campuran (mixed-race atau birasial) dengan latar belakang Afro-Karibia di skuad Argentina pada Piala Dunia 2026 adalah 0%. Bahkan, skuad Argentina menjadi satu-satunya tim dari 48 negara peserta yang tidak memiliki satu pun pemain berkulit hitam atau keturunan campuran Afro yang terlihat secara fisik (visible minority). 

Mengapa Argentina sebegitu homogennya? Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, pemerintah Argentina secara sengaja menerapkan kebijakan untuk menarik imigran Eropa demi "memodernisasi" negara. Sekitar 6 juta imigran Eropa—mayoritas dari Italia dan Spanyol—masuk ke Argentina. Hal ini mengubah struktur demografi secara drastis, hingga saat ini sekitar 97% populasi Argentina memiliki garis keturunan Eropa.

Baca juga:  Tim Medis Perempuan Mencetak Sejarah di Piala Dunia

Sementara skuad Inggris mencerminkan sejarah migrasi pasca-Perang Dunia II, khususnya gelombang Windrush dari wilayah Karibia dan migrasi dari negara-negara Persemakmuran di Afrika dan Asia. Pemain bintang seperti Jude Bellingham (keturunan campuran kulit hitam-putih) atau Bukayo Saka mewakili generasi kedua dan ketiga dari komunitas migran ini yang tumbuh besar lewat sistem akademi sepak bola Inggris.

Menarik ditunggu laga yang mempertemukan dua negara yang berunsur beda yang juga kebetulan keduanya merupakan musuh bebuyutan dan baru saja digoncang oleh anncaman Donald Trump itu dalam pertandingan berlangsung esok pagi dini hari WIB.

SBA/Melipirnews, dari berbagai sumber 

Posting Komentar

0 Komentar