Ketika Naskah Lama Bertemu Teknologi: Belajar Menjaga Ingatan di Museum Islam Indonesia

Sebuah naskah lama mungkin tampak seperti tumpukan halaman yang telah menguning. Namun, di balik kertas yang rapuh itu bisa tersimpan pengetahuan, cerita, pemikiran, dan jejak kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Persoalannya, naskah tidak selalu mampu bertahan selamanya. Usia, kelembapan, suhu, serangga, jamur, hingga cara penyimpanan dan penggunaan yang kurang tepat dapat menyebabkan kerusakan. Ketika kondisi fisik naskah semakin rentan, pengetahuan yang tersimpan di dalamnya pun menghadapi risiko sulit diakses oleh generasi berikutnya. 

Pertanyaan tentang bagaimana menjaga ingatan yang tersimpan dalam lembaran-lembaran tua itulah yang menjadi salah satu latar belakang Workshop Digitalisasi Naskah Keislaman: “Merekam Ingatan, Menjaga Pengetahuan” di Museum Islam Indonesia K.H. Hasyim Asy'ari, Jombang, Jumat, 4 September 2026.

Kegiatan ini mempertemukan teknologi dengan warisan intelektual Islam Nusantara. Digitalisasi dipahami bukan sekadar sebagai kegiatan memotret atau memindai halaman naskah. Proses tersebut menjadi bagian dari upaya merekam informasi, membuat salinan preservasi, serta membuka kemungkinan agar pengetahuan dalam naskah dapat terus dipelajari dan dimanfaatkan. 

Baca juga: Merawat Tradisi: Angklung Buncis Buhun di Kampung Jajawai

Hasil digitalisasi, misalnya, dapat menjadi pintu awal bagi berbagai kegiatan lain, mulai dari katalogisasi, kajian filologi, penelitian sejarah, transliterasi, penerjemahan, publikasi ilmiah, hingga pengembangan bahan pendidikan. Dengan kata lain, ketika sebuah naskah direkam secara digital, yang dijaga bukan hanya bentuk fisiknya, tetapi juga kemungkinan pengetahuan di dalamnya untuk terus dibaca dan dikembangkan. 

Bukan Sekadar Memotret Naskah

Bagi sebagian orang, digitalisasi mungkin terdengar sederhana, yaitu membuka naskah, mengambil gambar, lalu menyimpan hasilnya di komputer. Namun, prosesnya membutuhkan perhatian terhadap banyak hal.

Peserta workshop diperkenalkan pada cara menangani naskah sebelum proses digitalisasi dilakukan, termasuk bagaimana memegang, membuka, meletakkan, dan memindahkan naskah secara aman. Mereka juga mempelajari pencahayaan, penataan naskah, teknik pengambilan gambar, hingga pengelolaan hasil dokumentasi digital. 

Hasil gambar pun tidak berhenti setelah tombol kamera ditekan. File perlu diorganisasikan, diberi nama, disimpan, dicadangkan, dan dikelola agar dapat digunakan kembali untuk penelitian maupun penyebarluasan pengetahuan. 

Melalui demonstrasi dan praktik langsung, peserta memperoleh pengalaman untuk memahami seluruh proses tersebut, mulai dari penanganan naskah hingga pengambilan gambar dan pengelolaan dokumentasinya. 

Warisan Budaya sebagai Tanggung Jawab Bersama

Workshop ini menyasar sekitar 50 peserta dari beragam latar belakang, termasuk mahasiswa, peneliti dan akademisi, pegiat manuskrip dan filologi, komunitas pemerhati sejarah dan kebudayaan, pengelola museum, guru atau pendidik, hingga masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap naskah dan sejarah Islam Nusantara. 

Keberagaman peserta tersebut mencerminkan satu gagasan penting: pelestarian naskah bukan semata-mata urusan museum atau lembaga yang menyimpan koleksi.

Museum memang memiliki peran dalam melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan mengomunikasikan koleksi kepada masyarakat. Namun, keberlanjutan warisan pengetahuan juga membutuhkan keterlibatan akademisi, komunitas, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat luas. 

Baca juga: Membaca Indonesia Lewat Lensa Ariel Heryanto: Bahasa, Demokrasi, dan Cara Memahami Bangsa

Dalam konteks itulah Museum Islam Indonesia K.H. Hasyim Asy'ari menjadi lebih dari sekadar lokasi penyelenggaraan kegiatan. Museum diposisikan sebagai ruang pertemuan antara koleksi dan masyarakat, antara peneliti dan mahasiswa, serta antara warisan masa lalu dan kebutuhan pengetahuan masa kini. 

Di tengah kehidupan yang semakin bergantung pada teknologi digital, upaya menjaga naskah mungkin terasa seperti pekerjaan yang jauh dari keseharian banyak orang. Namun, pengetahuan yang tersimpan dalam naskah-naskah lama sesungguhnya merupakan bagian dari cerita tentang bagaimana masyarakat Nusantara berpikir, belajar, beragama, dan membangun kehidupannya.

Melalui Workshop Digitalisasi Naskah Keislaman, proses menjaga warisan itu diterjemahkan ke dalam pengalaman yang lebih konkret: belajar menyentuh naskah dengan hati-hati, menatanya dengan benar, merekamnya dengan teknologi, dan memastikan hasil dokumentasinya dapat terus digunakan.

Di sana, teknologi tidak hadir untuk menggantikan naskah lama. Teknologi justru menjadi salah satu cara agar ingatan yang tersimpan di dalamnya tidak berhenti pada lembaran yang semakin rapuh.

Sebab, menjaga pengetahuan tidak selalu berarti menyimpannya jauh dari jangkauan. Kadang, menjaga berarti menemukan cara baru agar pengetahuan itu tetap bisa bertahan, dibaca, dan diceritakan kembali.

Latifah/melipirnews.com

Posting Komentar

0 Komentar