Tradisi Panji tidak lagi dipahami sekadar sebagai rangkaian kisah klasik tentang Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji
Kajian terbaru memperkenalkan perspektif baru dengan memosisikan Panji sebagai living cultural grammar, sistem nilai yang memungkinkan tradisi tersebut terus melahirkan cerita-cerita baru tanpa kehilangan identitas budayanya.
![]() |
| Latifah, S.S., M.A. (kanan), dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa |
Gagasan tersebut dipaparkan oleh Latifah, S.S., M.A., dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa, dalam LISAN XIII (International Seminar and Oral Traditions Festival) yang berlangsung di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 5–8 Agustus 2026. Paper yang dipresentasikan berjudul Recontextualizing Panji Narratives through a Contemporary Indonesian Anthology: Creative Heritage Reinterpretation as Participatory Heritage-Making.
Baca juga: Ahmad Tohari: Menulis Kaum Marjinal Bukan Sekadar Riset, Tapi Menghayati Penderitaan
Menurut Latifah, selama ini keberlanjutan tradisi Panji lebih sering dikaitkan dengan pelestarian tokoh, alur, atau bentuk cerita klasiknya. Namun, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa yang sesungguhnya bertahan lintas ruang dan waktu adalah nilai-nilai yang membentuk tradisi tersebut. Nilai-nilai seperti cinta, kesetiaan, ketekunan, rekonsiliasi, harmoni, dan tanggung jawab moral terus hadir dalam berbagai cerita rakyat dari beragam daerah, meskipun tokoh, latar, dan alur ceritanya berubah mengikuti konteks sosial dan budaya masing-masing.
"Melalui perspektif ini, Panji dipahami bukan sebagai satu cerita yang harus diulang, melainkan sebagai kerangka nilai yang memungkinkan masyarakat terus menciptakan narasi baru yang tetap memiliki ruh yang sama," demikian pokok gagasan yang dikembangkan dalam penelitian tersebut.
Kajiannya menganalisis 37 cerita pendek dalam antologi Catra Panji: Cerita Panji dan Dongeng Nusantara menggunakan perspektif Critical Heritage Studies. Pendekatan ini memandang warisan budaya sebagai proses yang terus dibentuk melalui kreativitas dan partisipasi masyarakat, bukan sekadar peninggalan masa lalu yang dipertahankan dalam bentuk aslinya.
Hasil analisis memperlihatkan bahwa sebagian besar cerita dalam antologi tersebut tidak mereproduksi kisah Panji secara langsung. Sebaliknya, para penulis menafsirkan kembali legenda, mitologi, sejarah lokal, ritual, hingga pengetahuan ekologis dari berbagai daerah dengan tetap mempertahankan nilai-nilai yang menjadi Spirit of Panji. Dengan cara itu, tradisi Panji hadir sebagai landasan etis yang menghubungkan keragaman budaya Nusantara dalam satu bingkai narasi bersama.
Papernya juga mengidentifikasi 13 bentuk Creative Heritage Reinterpretation, yakni berbagai cara kreatif dalam menghidupkan kembali warisan budaya. Cerita rakyat tidak hanya diceritakan ulang, tetapi juga ditafsirkan melalui perspektif sejarah, lingkungan, ritual, mitologi, gender, hingga budaya digital. Temuan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan warisan budaya bergantung pada kemampuannya untuk terus beradaptasi dengan tantangan zaman tanpa melepaskan nilai-nilai yang menjadi fondasinya.
Baca juga: Topeng Malangan "Panji Mangu" Menolak Usang
Aspek lain yang disoroti adalah konsep Participatory Heritage-Making, yaitu pembentukan warisan budaya melalui partisipasi kreatif masyarakat. Dalam antologi Catra Panji, para penulis dari berbagai daerah berperan aktif merekonstruksi cerita rakyat lokal menjadi karya sastra kontemporer. Proses kolaboratif tersebut menjadikan sastra bukan hanya media ekspresi artistik, tetapi juga ruang untuk merawat, memperbarui, dan mentransmisikan warisan budaya kepada generasi berikutnya.
Melalui konsep living cultural grammar, penelitian ini menawarkan cara pandang baru terhadap pelestarian budaya. Keberlangsungan sebuah tradisi tidak lagi diukur dari seberapa utuh bentuk lamanya dipertahankan, melainkan dari kemampuannya untuk terus ditafsirkan, dihidupkan kembali, dan diwariskan melalui berbagai medium serta praktik budaya yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini. Dengan demikian, tradisi Panji diposisikan bukan sebagai warisan yang berhenti di masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi yang terus melahirkan makna baru bagi perkembangan kebudayaan Indonesia.
Melipirnews

0 Komentar