Ahmad Tohari: Menulis Kaum Marjinal Bukan Sekadar Riset, Tapi Menghayati Penderitaan

 “Menulis tentang kaum marginal adalah menemani Tuhan bersama mereka” 

Kalimat itu dituturkan Ahmad Tohari menutup diskusi yang berlangsung lebih dari dua jam. Bagi sastrawan berusia 77 tahun itu, menulis bukan sekadar soal teknik merangkai kata, melainkan soal keberpihakan nurani yang lahir dari keyakinan paling pribadi.

Ahmad Tohari (Dok. Istimewa)

Ahmad Tohari mengaku panggilan untuk menyuarakan kaum miskin datang dari teladan Nabi Muhammad. “Saya mendengar bahwa Nabi Muhammad sangat menyayangi orang miskin. Orang miskin adalah kesayangan beliau. Saya seperti mendapat tuntunan untuk juga menyayangi mereka,” ungkapnya, menjelaskan mengapa hampir seluruh karyanya, dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk hingga kumpulan cerpen Senyum Karyamin, berkutat pada kehidupan masyarakat pinggiran.

Baca juga: Setelah Setengah Abad Menghilang, Wayang Topeng Menak Malangan Bangkit Kembali

Kecintaan itu, kata Tohari, bukan sekadar tema, melainkan “gaya dorong” yang membuatnya tak bisa menulis tentang hal lain. Ia bahkan mengaku tak mampu menulis tentang kehidupan orang makmur, bintang film, atau hal-hal yang gemerlap. “Saya lebih suka menulis tentang orang yang anaknya tak diakui siapa pun. Di situlah saya akan menulis. Selain itu, saya tidak bisa,” ujarnya.

Pengakuan itu disampaikan Ahmad Tohari dalam Kelas Kepenulisan Cerpen bertajuk “Teknik Memotret Kehidupan Masyarakat Marjinal” yang digelar Padepokan Sastra Tan Tular melalui Zoom Meeting, Minggu (29/3/2026). 

Salah satu momen paling menarik adalah ketika Tohari membuka tabir di balik penulisan Ronggeng Dukuh Paruk. Ia mengisahkan pertemuannya dengan seorang lelaki tua yang mengaku sebagai pemenang “sayembara buka kelambu”, yaitu ritual yang dalam novel digambarkan secara halus. “Di dunia nyata, peristiwanya jauh lebih parah,” kata Tohari, seraya menjelaskan ia sengaja memperhalus adegan-adegan sensitif karena tak ingin kengerian itu dirasakan langsung pembaca.

Ia juga berbagi soal novel Bekisar Merah yang terinspirasi dari sosok nyata, yaitu seorang mantan aktivis yang pulang dari Pulau Buru dan sempat terasingkan. Dari pertemanan itulah Tohari menggali kisah. Menurutnya, Gus Dur pernah menyebut novel itu berjasa menjadi medan rekonsiliasi pasca-1965—sebuah bukti bahwa karya sastra bisa menjadi ruang damai yang lembut tapi kuat.

Ketika peserta bertanya bagaimana cara menulis tentang masyarakat marginal tanpa pengalaman langsung, Tohari memberi kiat tegas. “Lihat langsung. Hayati. Jangan hanya membaca di koran lalu berimajinasi,” pesannya. Ia memberi contoh, untuk menulis nelayan, seseorang harus melihat bagaimana ia mendorong perahu ke laut, bagaimana wajahnya saat membawa ikan, bagaimana istrinya menyambut.

Baca juga: Topeng Malangan "Panji Mangu" Menolak Usang

“Rasakan seolah kamu menjadi mereka,” tambahnya. Tohari mengakui menganut aliran naturalisme yang realistis. Baginya, pengamatan langsung memberi tekanan keseriusan yang tak bisa didapat dari imajinasi semata. Tokoh Karyamin dalam cerpennya yang memikul batu meski kelaparan, misalnya, terinspirasi dari tetangganya yang rumahnya cuma lima ratus meter dari kediamannya.

Menutup kelas, Tohari menyampaikan pesan, “Menulis itu keren. Tapi menulis tentang kaum marginal adalah menemani Tuhan bersama mereka.” Baginya, ini bukan sekadar ungkapan puitis, melainkan filsafat yang selama hampir setengah abad menjadi pangkal dari seluruh karyanya.

Latifah/Melipirnews.com

Komentar

POPULER SEPEKAN

Petani di Depok Panen Uwi Berukuran Jumbo

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Sekolah Rakyat Diperuntukkan Bagi Kaum Miskin

Membaca Krisis Air Lewat Folklor dan Ekoteologi

Kopi, Chai Latte, dan Kecerdasan Buatan: Bisakah AI Membaca Perasaan Kita pada Suatu Tempat?

Jadi Nama Rumah Sakit dan Jalan, Tapi Kurang Sepopuler Cut Nyak Dien

Hilirisasasi Jamu yang Tersekat di Meja Resep

Alih Naskah Pecenongan, Jakarta ke Panggung Imajinasi Lagu dan Komik

Polemik Chattra Borobudur: Mencari Titik Temu dalam Tata Kelola Warisan Dunia

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

FAVORIT LAINNYA

Negeri Samurai Biru Juarai Sepak Bola Antaruniversitas se-Asia

Petani di Depok Panen Uwi Berukuran Jumbo

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Kopi, Chai Latte, dan Kecerdasan Buatan: Bisakah AI Membaca Perasaan Kita pada Suatu Tempat?

Hilirisasasi Jamu yang Tersekat di Meja Resep

Saat Kredit Plastik Hanya Jadi Mitos di Lapangan

Sekolah Rakyat Diperuntukkan Bagi Kaum Miskin

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Dari Layar Ke Luka; Ketika Kekerasan Digital Menghantam Perempuan di Pulau-Pulau Terpencil

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Untuk pengembangan kanal ini, kami membuka donasi melalui link Paypal di SINI. Terima kasih