Jadi Nama Rumah Sakit dan Jalan, Tapi Kurang Sepopuler Cut Nyak Dien


Bulan Mei ini diperingati sebagai Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia. Di tengah peringatan itu, nama Teungku Fakinah muncul sebagai salah satu sosok yang begitu penting, namun nyaris terlupakan

"Mengenang ulama perempuan bukan hanya tentang masa lalu, tetapi merawat pengetahuan dan perjuangan yang tetap relevan hingga hari ini." Kalimat itu menjadi benang merah dalam Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia #9 yang digelar baru-baru ini. Sosok yang dibicarakan adalah Teungku Fakinah, ulama perempuan Aceh yang namanya nyaris tenggelam, padahal ia tak hanya mendirikan pesantren, tetapi juga memimpin pasukan perang.


Siapa dia? Teungku Fakinah adalah ulama perempuan dari Aceh yang hidup pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Dia tidak hanya mendirikan dayah (pesantren), tetapi juga memimpin perlawanan bersenjata melawan penjajah Belanda.

Dalam sebuah diskusi  yang digelar oleh Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) dan AMAN Indonesia, Minggu (10/5/2026), Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Eka Srimulyani, memaparkan bahwa Teungku Fakinah lahir sekitar tahun 1856 dari keluarga bangsawan sekaligus ulama. Menurut Prof. Eka, Teungku Fakinah lahir dan besar dalam tradisi keulamaan Aceh yang kuat. Sosoknya memainkan peran penting di tiga ranah sekaligus, yaitu sosial, politik, dan pendidikan, yang menjadikannya figur kepemimpinan perempuan yang sangat berpengaruh pada zamannya.

Ayahnya, Teungku Datu Mahmud, adalah pejabat kerajaan. Ibunya, Teungku Fatimah, adalah putri ulama besar pendiri Dayah Lam Pucok. Dari kecil, Fakinah belajar Al-Qur'an, fikih, tasawuf, hingga keterampilan perang dan bela diri.

Mendirikan Dayah untuk Laki-laki dan Perempuan

Teungku Fakinah menikah dengan Teungku Ahmad, seorang ulama sekaligus pejuang. Suaminya gugur dalam Perang Aceh pada 1873. Tapi Fakinah tidak berhenti. Justru setelah suaminya wafat, ia mengorganisir para janda membentuk barisan inong balé (pasukan janda) yang terkenal tangguh.

Baca juga: Dari Layar Ke Luka; Ketika Kekerasan Digital Menghantam Perempuan di Pulau-Pulau Terpencil

Ia juga mendirikan Dayah Lam Diran di Desa Lam Bunot, Aceh Besar. Dayah ini terbuka untuk santri laki-laki dan perempuan, dengan asrama terpisah. Seperti dikutip dari laman Mubadalah.id, di dayah itu selain ilmu agama, juga diajarkan ilmu umum dan kerajinan tangan seperti menjahit dan bertukang.

Prof. Eka menambahkan bahwa model kepemimpinan Teungku Fakinah memadukan keilmuan, kedisiplinan militer, dan pengabdian masyarakat. Ia tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga melindungi, mengarahkan, dan menghubungkan para muridnya dengan jaringan sosial yang luas.

Panglima Perang dengan Resimen Perempuan

Yang paling mencengangkan, Teungku Fakinah juga seorang panglima perang. Atas izin Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah, ia diberi mandat memimpin satu resimen yang terdiri dari empat batalion. Satu batalion di antaranya seluruhnya terdiri dari perempuan. Prof. Eka mengungkapkan bahwa benteng pertahanan yang dipimpin perempuan itu didirikan sendiri oleh pasukan perempuan. Namanya pun tercatat dalam sejarah, seperti Cutpo Fatimah Blangpreh, Cut Raniah dari Lamurit, Cutpo Hasbi, Cutponyak Cut, dan Cut Putih.

Ketika benteng-benteng mulai jatuh ke tangan Belanda, Teungku Fakinah tak menyerah. Ia beralih ke taktik gerilya, bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Barulah setelah perang usai, ia kembali ke dayah dan fokus mendidik masyarakat.

Sahabat Cut Nyak Dien, Saling Dukung di Tengah Perang

Teungku Fakinah juga memiliki hubungan dekat dengan pahlawan nasional Cut Nyak Dien. Mereka saling mengunjungi, bertukar logistik, dan memberi dukungan moral. Dalam sebuah kisah, ketika suami Cut Nyak Dien, Teungku Umar, membelot ke Belanda, Teungku Fakinah mengirim pesan sindiran lewat pantun Aceh. Bunyi pesannya kurang lebih: "Sampaikan kepada Cut Nyak Dien, suruh suaminya datang berperang melawan para janda, agar terlihat siapa yang lebih berani, laki-laki atau perempuan?" Pesan itu membuat Cut Nyak Dien gelisah, dan kemudian Teungku Umar akhirnya kembali berpihak ke rakyat Aceh.

Menurut artikel di BincangMuslimah.com, persahabatan kedua perempuan hebat ini menjadi bukti bahwa solidaritas antarperempuan pejuang telah lama menjadi kekuatan tersembunyi di balik perlawanan Aceh.

Kenapa Namanya Tidak Sepopuler Cut Nyak Dien?

Dalam diskusi yang sama, peneliti dan aktivis dari Aceh mengakui, nama Teungku Fakinah masih sangat asing bagi generasi muda. Banyak anak muda Aceh yang tidak mengenalnya. Padahal, Rumah Sakit Teungku Fakinah di Aceh Besar pun dinamai menurut namanya.

Salah satu peserta diskusi, Ruha, yang juga anggota jaringan KUPI, mengungkapkan bahwa ketika diajak berziarah ke makam Teungku Fakinah, hanya sekitar 25 persen peserta yang antusias. Artinya, ketertarikan generasi muda memang masih sangat rendah karena mereka tidak mengenal sosoknya.

Baca juga: Menyusuri 125 Tahun Dedikasi Ursulin dalam Pendidikan di Malang

Para akademisi menilai bahwa sejarah ulama perempuan masih terpinggirkan karena budaya tutur Aceh yang kurang terdokumentasi dan konstruksi sejarah yang cenderung berpusat pada tokoh laki-laki. Padahal, Prof. Eka menegaskan bahwa argumen historis tentang otoritas keagamaan perempuan sejatinya sudah lama mengakar dalam masyarakat Nusantara, termasuk di Aceh.

Harapan: dari Novel ke Film dan Kurikulum Sekolah

Kabar baiknya, saat ini seorang penulis bernama Zuriah sedang menyelesaikan novel tentang Teungku Fakinah dan bercita-cita mengangkatnya ke layar lebar. Harapannya, kisah ulama perempuan yang juga panglima perang ini bisa dikenal seluas-luasnya, seperti drama sejarah Korea yang populer di kalangan muda. Prof. Eka berpendapat bahwa agar anak muda sekarang lebih mudah terhubung, kisah seperti Teungku Fakinah perlu dikemas ulang secara populer, termasuk masuk ke dalam media-media yang sehari-hari mereka gunakan.

Peringatan Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia 2026 ini diharapkan menjadi momentum untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga merawat makam, menulis ulang sejarah, dan memasukkan nama-nama seperti Teungku Fakinah ke dalam buku pelajaran nasional.

Latifah/melipirnews.com

Komentar

POPULER SEPEKAN

Hilirisasasi Jamu yang Tersekat di Meja Resep

Sekolah Rakyat Diperuntukkan Bagi Kaum Miskin

Bukan Sekadar Bikin Konten, K-Book Content Camp di Malang Cetak Kreator Literasi Digital yang Kena di Hati

Membaca Krisis Air Lewat Folklor dan Ekoteologi

Kopi, Chai Latte, dan Kecerdasan Buatan: Bisakah AI Membaca Perasaan Kita pada Suatu Tempat?

Menjaga Jiwa Pendidikan Seni di Tengah Transformasi Digital dan Birokrasi Kampus

Dari Kitab Kuning ke Sistem Nasional: Jalan Panjang Pesantren Mencari Pengakuan

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

FAVORIT LAINNYA

Negeri Samurai Biru Juarai Sepak Bola Antaruniversitas se-Asia

Kopi, Chai Latte, dan Kecerdasan Buatan: Bisakah AI Membaca Perasaan Kita pada Suatu Tempat?

Hilirisasasi Jamu yang Tersekat di Meja Resep

Dari Layar Ke Luka; Ketika Kekerasan Digital Menghantam Perempuan di Pulau-Pulau Terpencil

Saat Kredit Plastik Hanya Jadi Mitos di Lapangan

Sekolah Rakyat Diperuntukkan Bagi Kaum Miskin

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Untuk pengembangan kanal ini, kami membuka donasi melalui link Paypal di SINI. Terima kasih