Bukan Sekadar Bikin Konten, K-Book Content Camp di Malang Cetak Kreator Literasi Digital yang Kena di Hati
Dunia literasi digital kini tak lagi sekadar tempat berbagi rekomendasi buku
Kehadiran K-Book Content Camp di Malang Creative Center (MCC) pada Minggu (3/5/2026) membuktikan bahwa menjadi kreator konten buku telah bertransformasi menjadi ekosistem yang utuh. Dari hobi membaca, menghasilkan pendapatan, hingga membangun komunitas yang sehat.
Acara yang diikuti 40 peserta ini menghadirkan narasumber Kak Rani Galuh (@rani.reading), full time bookstagrammer. Bootcamp ini mengupas tuntas strategi mengubah cerita dalam buku menjadi konten digital yang tak lekang oleh algoritma.
Dari Pembaca Jadi Kreator: Belajar Storytelling ala Literatur Korea
Peserta diajak memahami cara mengulik sudut pandang cerita sebagai kreator, meramu wawasan dari bacaan menjadi ide-ide konten yang segar, serta menyajikan konten yang tidak hanya menarik perhatian tetapi juga memiliki karakter personal yang kuat. Kak Rani menekankan bahwa menjadi teman bagi audiens jauh lebih efektif daripada sekadar bertindak sebagai promotor.
Baca juga: Dari Kitab Kuning ke Sistem Nasional: Jalan Panjang Pesantren Mencari Pengakuan
Para peserta juga mendapat wawasan tentang popularitas buku terjemahan Korea Selatan, terutama genre healing fiction dan cozy vibes. Kedekatan budaya Asia, estetika sampul yang khas, serta penggambaran persoalan hidup yang relatable menjadi alasan utama genre ini mudah terserap oleh pembaca Indonesia.
Satu Buku, Puluhan Ide Konten
Salah satu insight menarik yang dibagikan adalah bagaimana satu judul buku dapat diubah menjadi beragam jenis konten. Mulai dari ulasan yang dikemas dalam bentuk narasi personal, rekomendasi berdasarkan genre, pembacaan kembali bagian cerita yang terasa paling dekat dengan keseharian audiens, pembahasan mendalam tentang tokoh fiksi favorit, hingga konten unboxing sejak buku tiba.
Strategi ini penting agar kreator tidak kehabisan ide dan tetap konsisten mengunggah konten—faktor yang sangat diperhitungkan oleh algoritma, sebagaimana dijelaskan dalam sesi pertama tentang program GMV Max di TikTok dan Shopee.
Memperkuat Ekosistem Literasi Digital dari Malang
Tak sekadar pelatihan teknis, K-Book Content Camp memiliki misi yang lebih besar, yaitu ikut serta membangun ekosistem literasi digital yang berkelanjutan di daerah. Selama ini, kota-kota seperti Malang kerap menjadi penonton dalam geliat industri kreator konten nasional. Melalui program ini, para peserta tidak hanya dibekali keterampilan memproduksi konten buku digital yang terpercaya dan relevan dengan zaman, tetapi juga dilatih memperkuat personal branding sebagai afiliator. Contohnya, personal branding yang telah terbentuk menjadikan Rani sebagai rujukan bagi pembaca K-book dalam mencari “buku-buku yang aman”, terutama bagi pembaca remaja.
Lebih dari itu, pendekatan lintas budaya dan perspektif literatur global yang diusung, khususnya sastra Korea, mengajak peserta melihat bahwa membaca dan berkonten tidak harus berpusat pada bacaan Barat semata, melainkan dapat menggali kedekatan nilai-nilai Asia yang lebih membumi.
Baca juga: Guru yang Menggerakkan Ekonomi Masyarakat Tuban
Yang tak kalah penting, program ini secara sadar mendorong lahirnya komunitas para kreator konten buku yang saling mengenal, terhubung, dan bertumbuh bersama. Dalam sesi diskusi dan praktik, terlihat antusiasme peserta untuk saling bertukar kontak dan pengalaman—sebuah fondasi awal dari ekosistem yang sehat.
Dengan meningkatnya engagement pembaca melalui distribusi konten literasi digital yang lebih luas, acara seperti K-Book Content Camp menunjukkan bahwa hobi membaca bisa menjadi gerakan kolektif yang berdampak—baik secara ekonomi, sosial, maupun kultural. Malang, kali ini, tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya acara, tetapi juga menjadi salah satu titik tumbuhnya ekosistem literasi digital baru di Indonesia.
Latifah/melipirnews.com


Komentar
Posting Komentar