Membaca Krisis Air Lewat Folklor dan Ekoteologi
Cekungan purba yang diapit oleh Gunung Kawi, Butak, Kelud, Arjuno, Welirang, dan Tengger menjadikan Malang Raya sebagai hulu daerah aliran Sungai Brantas
Secara geologis, wilayah ini menyimpan kekayaan mata air yang luar biasa. Kebutuhan air Kota Malang bergantung pada sumber mata air dan sumur. Namun, ironi mulai terlihat, yaitu debit mengecil, kualitas menurun, dan beberapa sendang seperti Sumber Alur mulai mati.
Di tengah realitas itu, ruang kuliah Kajian Agama-Agama Semester II Program Studi Agama-Agama Sekolah Tinggi Agama Buddha Kertarajasa menjadi ruang kontemplasi menyelami realitas melalui pemutaran film dokumenter Tirta Carita: Sendang Malang di Cekung Gunung. Film yang dapat diakses melalui YouTube ini mengingatkan bahwa yang lebih mengerikan daripada mengeringnya sendang adalah mengeringnya kesadaran manusia terhadap kehidupan.
Sendang Bukan Sekadar Air, Melainkan Ruang Sakral
Sepanjang durasinya, Tirta Carita mengeksplorasi hubungan mendalam antara aspek ekologis dan warisan folklor di balik mata air Malang Raya. Film ini menyoroti bahwa sendang bukan sekadar sumber daya air, melainkan ruang sakral yang dilindungi masyarakat melalui mitos dan legenda.
Beberapa temuan menarik dalam film: Sumber Wendit berkait erat dengan legenda Dewi Madrim dan tradisi masyarakat Tengger; Sumber Polaman dikenal karena ikan Wader yang dikeramatkan; Candi Songgoriti menjadi satu-satunya candi patirtaan dengan sumber air panas; serta Sumber Beji Sari yang disakralkan untuk ritual tertentu dengan ekologi yang unik.
Baca juga: Menyemai Moderasi Beragama dan Kesadaran Ekologis dari Bandung
Sendang dan folklornya, menurut para mahasiswa, adalah ekspresi agama dalam arti luas—di mana keyakinan, ritual, dan kearifan lokal berpadu menjadi etika ekologis yang hidup di tengah masyarakat.
Mitos sebagai Penyangga Budaya dan Penjaga Ekologi
Salah satu poin penting yang mengemuka dalam diskusi kelas adalah fungsi folklor sebagai buffer atau penyangga budaya. Mitos dan legenda yang mengitari sendang menciptakan sikap memuliakan air. Masyarakat tidak lagi melihat air sekadar sebagai komoditas material, tetapi sebagai entitas sakral yang harus dirawat.
Larangan berbasis mitos—seperti pantangan mengambil ikan keramat di Polaman atau Beji Sari—secara tidak langsung melindungi ekosistem sekitar mata air dari gangguan manusia. Praktik ritual seperti bersih desa, bersih sumber, atau selamatan dawuan juga berfungsi merawat keharmonisan hidup bersama sekaligus mewariskan nilai-nilai pelestarian lingkungan lintas generasi.
Menjembatani Teori Casanova dengan Praktik Lokal
Pemutaran film ini menjadi bagian dari sinkronisasi materi perkuliahan yang menghubungkan ekoteologi dengan pemikiran sosiolog José Casanova tentang Agama di Ruang Publik. Dalam diskusi kelas dijelaskan, film tersebut adalah potret nyata dari konsep deprivatisasi agama ala Casanova.
Selama era modern, agama sering dianggap terpinggirkan ke ranah privat. Namun, apa yang terjadi di cekungan Gunung Kawi hingga Tengger membuktikan sebaliknya. Air dalam film tidak hanya dijelaskan sebagai H2O atau sumber daya ekonomi, melainkan sebagai entitas sakral yang terkait erat dengan agama, politik, dan perkembangan kebudayaan masyarakat.
Ketika masyarakat memuliakan sendang melalui ritual atau mitos, mereka sedang melakukan tiga tipe kehadiran agama di ruang publik versi Casanova: membela nilai moral publik (air bersih sebagai kebaikan bersama), membela warga negara (melawan eksploitasi yang merusak ekologi), dan melawan sistem tidak adil (menolak Tragedy of the Commons).
Tragedy of the Commons: Ancaman Nyata di Cekungan Malang
Konsep Tragedy of the Commons menjadi relevan ketika berbagai kepentingan—industri, pariwisata, hingga pemerintah daerah—saling bersinggungan menguasai sumber daya air tanpa pengelolaan yang bijak. Over-eksploitasi yang terjadi, seperti dijelaskan dalam film, merusak mata air dan pada akhirnya merugikan masyarakat luas yang bergantung pada sumber tersebut.
Pencemaran limbah rumah tangga serta limbah pertanian turut memperparah penurunan kualitas air. Kelestarian vegetasi di sekitar sumber, seperti pohon-pohon ficus (beringin), sangat menentukan debit air yang dihasilkan. Jika tidak dirawat, ancaman kematian sendang bukan sekadar cerita masa depan, melainkan sudah terjadi, seperti pada Sumber Alur.
Dari Ruang Kelas ke Aksi Nyata: Penuangan Eco Enzyme
Pemutaran film ini menjadi pembekalan konseptual bagi mahasiswa untuk menghadapi aksi nyata. Pada Minggu, 10 Mei 2026, Bimas Buddha Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur menggelar Gerakan Penuangan Eco Enzyme Serentak, termasuk di lokasi sekitar kampus, tepatnya di Sungai Desa Beji, Kota Batu.
Baca juga: SLO Jadi Alternatif Pengganti CSR
Para mahasiswa menyadari bahwa menuang eco enzyme bukan sekadar aksi teknis menjernihkan air. Tindakan ini dapat dipahami sebagai ritual modern dan bentuk deprivatisasi, di mana Buddhis mengambil sikap di ruang publik untuk mengatasi pencemaran dan menjaga keseimbangan alam.
Dengan wawasan yang diperoleh dari film dan diskusi Casanova, mahasiswa terlibat dalam kegiatan tidak hanya dengan membawa botol eco enzyme, tetapi dengan kesadaran penuh (mindfulness) bahwa mereka sedang merawat "rumah bersama", menjaga kedaulatan air, serta menghidupkan kembali nilai-nilai kesakralan yang tengah tergerus oleh arus industrialisasi. Sebuah langkah kecil di Sungai Beji, tetapi gema kesadaran yang diharapkan meluas ke seluruh cekungan Malang Raya.
Latifah/melipirnews.com


Komentar
Posting Komentar