Kopi, Dipopulerkan Para Sufi Hingga Filsof Sir Francis Bacon

Kopi Arabica diketahui berasal dari Ethiopia, negara yang sempat dilanda kelaparan dan konflik bersenjata antara tahun 1970an hingga 1980an. Diperkirakan budidaya kopi di sana telah dimulai sekitar 1.500 silam

Kalangan sejarawan meyakini biji kopi pertama kali dibawa dari hutan kopi di Ethiopia Barat Daya ke Yaman. Di negeri ini, biji tersebut dibudidayakan kembali dan lantas diperdagangkan. Setelah beberapa masa berdiam di Yaman, menjelang akhir 1600-an, pohon kopi telah meninggalkan Yaman dan mulai ditanam di India. Biji-biji ini kemudian menghasilkan perkebunan kopi di wilayah Mysore yang pada waktu itu dikenal sebagai Malabar. 

Sumber: freepik.com

Belanda mengirim biji pada tahun 1696 dan 1699 dari pantai Malabar di India ke Batavia. Belanda sebelumnya telah mencoba memperkenalkan biji kopi langsung dari Yaman ke Batavia pada tahun 1690, namun tanaman yang dihasilkan mati pada tahun 1699 setelah terjadi gempa bumi. Diperkirakan, pergerakan kopi menyebar ke seluruh dunia berasal dari biji yang dibawa ke Indonesia dari India ini, bukan langsung dari Yaman seperti yang sering dikisahkan.

Baca juga: Ketika Iklim Mengalahkan Ekonomi: Kecemasan Baru Warga Asia Tenggara

Pada tahun 1714, setelah perjanjian damai Utrecht antara Belanda dan Prancis ditandatangani, wali kota Amsterdam memberikan sebuah tanaman kopi kepada Raja Louis XIV. Berikutnya, tanaman ini ditanam di rumah kaca Jardin des Plantes dan dengan cepat menghasilkan biji. Masih dari Belanda, tanaman dikirim ke Guyana Belanda (sekarang Suriname) pada tahun 1719 melalui jalur perdagangan kolonial  dan kemudian ke Cayenne (Guyana Prancis) pada tahun 1722. Seterusnya merambah bagian utara Brasil pada tahun 1727. Tanaman ini mencapai Brasil selatan antara tahun 1760 dan 1770. 

Minuman Favorit Para Sufi yang Sempat Jadi Perdebatan Syar'i 

Dalam rentang abad kesepuluh hingga enam belas, konsumsi kopi menyebar dari Yaman ke utara, terutama melalui para Sufi dan murid-murid mereka, yang mengklaim bahwa minum kopi membantu aktivitas ritual mereka. Kopi menjadi minuman para pengamal tarekat. Saat itu, hal ini sempat menimbulkan perdebatan panjang di antara ulama dari berbagai mazhab, yang melihat kebiasaan minum kopi para Sufi sebagai hal yang dipandang bertentangan dengan syariÊ¿ah. Kontroversi pertama kali berfokus pada apakah kopi diperbolehkan, atau justru dilarang, seperti anggur. Namun, seiring meluasnya konsumsi kopi, kurangnya bukti agama untuk pelarangannya dan ketidakmampuan otoritas agama serta politik untuk melarangnya, menggeser perdebatan ke ranah aspek moral. 

Para pendukung larangan minum kopi sebagian besar adalah ulama yang menduduki posisi resmi seperti hakim. Ulama ini memerlukan bantuan para penguasa untuk menegakkan larangan. Namun kopi justru semakin terkenal. Karena pengaruh para Sufi, sampailah pada abad delapan belas, konsumsi kopi menjadi fenomena sosial baik di rumah maupun di ruang publik, seperti kedai kopi.

Sumber: https://crrs.library.utoronto.ca

Penting dicatat di sini, bahwa catatan pertama tentang minuman kopi terjadi di Yaman, di mana pada tahun 1450 minuman ini digunakan oleh para praktisi Sufisme. Selama abad berikutnya, popularitas kopi menyebar dari Yaman ke Kairo, kemudian ke Damaskus, dan selanjutnya bergerak ke Istanbul. Penyebaran serta perluasan ini menghasilkan lahirnya rumah kopi, sebuah tempat pertemuan di mana berita, ide, dan debat politik biasanya dipertukarkan, sesuatu yang masih dilakukan hingga sekarang. 

Baca juga: Para Penjaga Singkong dari Sekadar Makanan Biasa

Francis Bacon Pun Mempopulerkan Kopi

Filsuf empiris besar dari Inggris, Sir Francis Bacon juga berjasa besar pada penyebaran kopi. Ia menulis salah satu deskripsi pertama tentang rumah kopi dalam karya terakhirnya, Sylva Sylvarum yang diterbitkan secara anumerta pada tahun 1627. Tulisannya kurang lebih seperti ini: 

"Mereka memiliki di Turki, minuman yang disebut Coffa, dibuat dari buah dengan nama yang sama... Dan mereka meminumnya, dan duduk di sana, di Rumah-Rumah Coffa mereka, yang mirip dengan Tavern kita." 

Dunia perdagangan internasional membuat para pedagang Eropa memperjualbelikan kopi dan mengenalkan kopi sebagai minuman. Eropa pun pelan-pelan dilanda kedai-kedai kopi. Kedai kopi pertama di Eropa dibuka di Venesia pada tahun 1645 dan di Oxford pada tahun 1650. Pada tahun 1663 lebih dari 80 rumah kopi beroperasi di Inggris. Lalu jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 3.000 pada tahun 1715. Kedai kopi pertama di Amerika Serikat, London Coffee House, dibuka di Boston pada tahun 1689, dan yang pertama di New York, The King's Arms, dibuka pada tahun 1696.

Melipirnews, dari berbagai sumber

Komentar

POPULER SEPEKAN

Petani di Depok Panen Uwi Berukuran Jumbo

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Bukan Sekadar Bikin Konten, K-Book Content Camp di Malang Cetak Kreator Literasi Digital yang Kena di Hati

CELIOS: 50 Orang Terkaya Kuasai Kekayaan Setara 55 Juta Warga RI

Tak Paham Risiko, Generasi Digital Terjebak FOMO Investasi

Hilirisasasi Jamu yang Tersekat di Meja Resep

John Kecil dan Ambengan Lezat, Simbolisasi Masyarakat Lekat

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

FAVORIT LAINNYA

Petani di Depok Panen Uwi Berukuran Jumbo

Negeri Samurai Biru Juarai Sepak Bola Antaruniversitas se-Asia

Kopi, Chai Latte, dan Kecerdasan Buatan: Bisakah AI Membaca Perasaan Kita pada Suatu Tempat?

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Hilirisasasi Jamu yang Tersekat di Meja Resep

Saat Kredit Plastik Hanya Jadi Mitos di Lapangan

Sekolah Rakyat Diperuntukkan Bagi Kaum Miskin

Bukan Sekadar Bikin Konten, K-Book Content Camp di Malang Cetak Kreator Literasi Digital yang Kena di Hati

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Untuk pengembangan kanal ini, kami membuka donasi melalui link Paypal di SINI. Terima kasih