Ketika Iklim Mengalahkan Ekonomi: Kecemasan Baru Warga Asia Tenggara

The State of Southeast Asia 2025 Survey Report menunjukkan perubahan iklim kini lebih ditakuti daripada resesi, sementara kepercayaan publik pada ASEAN diuji.

Cuaca ekstrem yang kian sering, banjir yang datang tanpa jeda panjang, serta gelombang panas yang mengganggu aktivitas harian membuat perubahan iklim terasa semakin dekat dengan kehidupan masyarakat Asia Tenggara. Kekhawatiran terhadap krisis lingkungan ini tidak lagi berhenti sebagai isu global, melainkan hadir sebagai ancaman nyata yang dirasakan langsung di tingkat lokal.

Sumber: freepik

Gambaran tersebut terekam dalam The State of Southeast Asia 2025 Survey Report, survei tahunan yang melibatkan lebih dari 2.000 responden dari sepuluh negara ASEAN serta Timor-Leste. Untuk pertama kalinya sejak survei ini dilakukan pada 2019, perubahan iklim dan cuaca ekstrem menempati posisi teratas sebagai tantangan terbesar kawasan, dipilih oleh 55,3 persen responden.

Baca juga: Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Angka ini melampaui kekhawatiran terhadap pengangguran dan resesi ekonomi yang selama dua tahun terakhir selalu mendominasi. Temuan tersebut menunjukkan pergeseran penting dalam persepsi publik Asia Tenggara tentang apa yang paling mengancam kehidupan mereka saat ini.

Dalam laporan yang dirilis ASEAN Studies Centre, ISEAS – Yusof Ishak Institute, perubahan iklim disebut telah dipahami sebagai ancaman langsung. “Isu perubahan iklim tidak lagi dipandang sebagai agenda global yang jauh, tetapi sebagai risiko nyata terhadap keamanan hidup masyarakat Asia Tenggara—mulai dari pangan, pekerjaan, hingga tempat tinggal,” tulis laporan tersebut.

Kecemasan paling tinggi tercatat di negara-negara yang berada di jalur bencana. Filipina dan Vietnam menempati posisi teratas dalam tingkat kekhawatiran terhadap perubahan iklim, seiring meningkatnya intensitas topan, banjir, dan ancaman kenaikan permukaan laut. Di negara-negara ini, dampak krisis iklim dirasakan bukan hanya dalam bentuk kerusakan lingkungan, tetapi juga ketidakpastian ekonomi dan sosial.

Meski isu iklim menguat, persoalan ekonomi belum sepenuhnya mereda. Hampir separuh responden masih menempatkan prospek ekonomi yang melemah dan ketegangan ekonomi antarnegara besar sebagai tantangan serius. Rivalitas antara Amerika Serikat dan China dinilai memberi dampak langsung terhadap perdagangan, investasi, dan stabilitas ekonomi negara-negara Asia Tenggara.

Laporan tersebut menegaskan bahwa masyarakat kawasan menghadapi tekanan berlapis. “Krisis iklim, ketidakpastian ekonomi, dan rivalitas kekuatan besar berjalan bersamaan, menciptakan beban ganda bagi negara-negara Asia Tenggara,” disebutkan dalam laporan yang dirilis.

Di sisi geopolitik, ketegangan di Laut China Selatan tetap menjadi sumber kecemasan utama. Lebih dari separuh responden menyebut perilaku agresif di wilayah tersebut sebagai kekhawatiran geopolitik terbesar. Risiko konflik tidak disengaja antara negara ASEAN dan China dinilai meningkat seiring sejumlah insiden yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Dalam peta pengaruh global, China masih dipandang sebagai kekuatan ekonomi paling berpengaruh di Asia Tenggara. Namun, pengaruh tersebut diiringi rasa waswas. Kekhawatiran terhadap dominasi ekonomi dan politik China tercatat lebih tinggi dibanding tingkat penerimaannya. Jika harus memilih antara dua kekuatan besar, mayoritas responden kini cenderung memilih Amerika Serikat—sebuah perubahan dibandingkan tahun sebelumnya.

Di tengah dinamika global itu, perhatian publik juga tertuju pada peran ASEAN. Sebanyak 35 persen responden menilai ASEAN lamban dan kurang efektif dalam merespons perubahan cepat lingkungan global. Persepsi ini memunculkan kekhawatiran bahwa ASEAN berisiko kehilangan relevansi jika tidak mampu beradaptasi.

Baca juga: Saat Bencana Kian Sering Terjadi, Kemenag Dorong Ekoteologi sebagai Jawaban Etis Merawat Bumi

Namun, laporan tersebut menekankan bahwa kritik ini mencerminkan ekspektasi yang tinggi, bukan penolakan terhadap ASEAN.

“Pandangan bahwa ASEAN lamban harus dibaca sebagai peringatan sekaligus harapan agar organisasi ini mampu bergerak lebih cepat, lebih solid, dan lebih relevan dalam menghadapi tantangan kawasan,” tertulis dalam laporan yang dirilis.

Survei ini menunjukkan bahwa kecemasan warga Asia Tenggara kini semakin berakar pada pengalaman sehari-hari. Perubahan iklim telah menggeser ekonomi sebagai sumber kekhawatiran utama, sementara ketegangan geopolitik terus membayangi. Di tengah situasi tersebut, masa depan kawasan sangat bergantung pada kemampuan ASEAN menjawab tantangan zaman dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakatnya.

Latifah (melipirnews.com)

Komentar

POPULER SEPEKAN

Anne Scheiber: "Saat Gaji Naik Tipis, Ketahanan Finansial Jadi Kunci"

Alih Naskah Pecenongan, Jakarta ke Panggung Imajinasi Lagu dan Komik

Disinformasi Iklim Menggerus Hak Masyarakat Adat: Laporan dari India Ini Jadi Alarm Serius bagi Indonesia

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

The Gading Archive: Sebuah Perjalanan Rasa dan Kenangan di Kelapa Gading

Menguak Misteri UFO di Malang: Ketika Intuisi dan Sains Berkolaborasi

Tak Paham Risiko, Generasi Digital Terjebak FOMO Investasi

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.