Kopi di Rumah Serasa di Kafe

🛒 Beli Sekarang

Nyadran Masyarakat Etnis Jawa di Ranah Melayu Jambi

Jelang Ramadhan, komplek pemakaman di Pulau Jawa biasanya ramai dengan kunjungan warga. Mereka para  kerabat dekat mendiang yang dimakamkan di situ melakukan ritual nyadran, ataupun nyekar dalam bahasa Jawa. Bagaimana dengan orang keturunan Jawa di luar Jawa?

Masyarakat keturunan Jawa di desa Sukamaju, kecamatan Rimbo Ulu, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi ternyata juga masih melestarikan tradisi seperti ini. Awal kedatangan leluhur mereka dari Jawa tercatat tahun 1978. Beberapa gelombang kedatangan mereka dari Jawa berlangsung sejak tahun itu. 


Sukamaju, nama sebuah desa Rimbo Ulu yang dulu dikenal dengan nama Unit 8. Penyebutan nama ini tidak kalah populer di kalangan warga eks transmigran Rimbo Bujang hingga kini. Jalan-jalan di wilayah ini dinamakan sesuai nama-nama gunung. Jalan utama desa dinamakan jalan Lawu. Jalan-jalan lainnya diberi nama jalan Merbabu, Kerinci, Rinjani, Malabar, Muria, Kelud dan lain-lain.

Di berbagai wilayah di Kabupaten Tebo, masyarakat keturunan Jawa masih melestarikan tradisi, tak terkecuali di masyarakat keturunan Jawa di Sukamaju, Kecamatan Rimbo Ulu. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat desa Sukamaju adalah tradisi nyadran, atau nyekar yang tetap dihormati dan dijaga hingga saat ini.

Baca juga: Menelusuri Jejak Rasa Soto Kambing Malangan: Antara Warisan, Ingatan, dan Identitas

Tradisi nyadran biasanya dilakukan setahun sekali. Waktunya paling sering dilakukan menjelang memasuki bulan Puasa ataupun menjelang Idul Fitri. Ritual ini sebagai bentuk penghormatan kepada arwah para leluhur yang telah meninggal. Umumnya, nyadran dilaksanakan pada bulan Ruwah atau menjelang bulan puasa.

Penelitian Purnomo baru-baru ini merilis tentang pelaksanaan ritual nyadran pada masyarakat desa Sukamaju, yang berada di kecamatan Rimbo Ulu, kabupaten Tebo, provinsi Jambi. Mayoritas penduduknya merupakan keturunan suku Jawa. Oleh karena itu, masyarakat di desa ini masih menjaga dan menghormati adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun. Tulis Purnomo, yang mengutip keterangan sarmini selaku masyarakat desa Sukamaju sebagai berikut, "Pemahaman generasi muda tentang makna nyadran cenderung dangkal. Banyak dari mereka yang hanya tahu bahwa ini adalah kegiatan sebelum Ramadhan, tanpa menyadari bahwa nyadran mengajarkan kita tentang pentingnya menghormati sejarah dan warisan budaya."

Tulis Purnomo selanjutnya, tradisi nyadran juga dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya dan penanaman nilai karakter. Apalagi di era globalisasi yang semakin pesat, banyak mengancam tradisi lokal. Dengan mempelajari dan melestarikan tradisi nyadran, generasi muda di harapkan dapat menjadi pemeran aktif dalam melestarikan budaya mereka terutama di desa suka maju.

Masyarakat keturunan Jawa di Tebo menetap di tengah ranah Melayu Jambi yang terkenal dengan pengucapan akhiran "o". Namun tradisi nyadran masih terus di lestarikan hingga saat ini secara turun-temurun. Biasanya, ritual ini di laksanakan sebelum menyambut bulan puasa atau sekitar 10 hari menjelang puasa.

Tidak ada hiburan, festival atau budaya khusus saat nyadran di desa ini, sebaliknya pelaksanaannya lebih sederhana. Tradisi ini dilangsungkan cukup dengan ziarah kubur menjelang bulan Ramadan, yang dilakukan dengan kegiatan seperti besik kubur, doa bersama, kembul bejono, dan sodakohan tanpa adanya ketentuan makanan khusus. Pelaksanaan besik (bersih-bersih makam) lebih utama, yang biasanya makam jarang di bersihkan. Ritual besik ini dilaksanakan secara bersama-sama yang disusul dengan pembacaan doa bersama untuk para leluhur yang sudah meninggal dan pembacaan surat Yasin dan tahlilan. Puncaknya kemudian diakhiri dengan kembul bejuno atau kenduri makan bersama-sama dengan para kerabat dengan membawa sodakohan berupa makanan.

Baca juga: The Gading Archive: Sebuah Perjalanan Rasa dan Kenangan di Kelapa Gading

Demikianlah, kehadiran masyarakat Jawa sebagai bagian dari program transmigrasi Orde Baru saat ini telah menyatu dengan kemozaikan masyarakat Jambi. Mereka memperkaya multikulturalisme Jambi yang berdampingan dengan masyarakat adat lain seperti suku Anak Dalam, suku Kerinci, suku Batin, Suku Penghulu, Suku Anak Dalam (Kubu), Suku Bajau, dan Suku Pindah. 

Mereka pun menjadi penyokong dialeg Bahasa Melayu Jambi yang memiliki ciri khusus. Bahasa Melayu Jambi memiliki ciri khas utama berupa perubahan vokal akhir 'a' pada bahasa Indonesia, menjadi 'o' (contoh: apa menjadi apo). Selain itu juga penggunaan partikel khusus, serta memiliki ragam dialek yang bervariasi di setiap wilayah. 

Melipirnews

Komentar

POPULER SEPEKAN

Dari Kamp Pengungsian Mengangkat Australia di Piala Dunia 2026

Mengapa Jawa Timur Makin Rentan Saat Hujan Turun?

Rencana Investasi Bisa Ambyar Jumpai Tanah Bersertifikat Ganda

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Tim Medis Perempuan Mencetak Sejarah di Piala Dunia

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Dari Layar Ke Luka; Ketika Kekerasan Digital Menghantam Perempuan di Pulau-Pulau Terpencil

Para Penjaga Singkong dari Sekadar Makanan Biasa

Prediksi Manfaat Program Makan Siang Gratis di Sekolah

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

FAVORIT LAINNYA

Gedung Megah Kampus Buddhis Bukan Pajangan, Tapi Tempat Lahirkan Gagasan

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Rencana Investasi Bisa Ambyar Jumpai Tanah Bersertifikat Ganda

Terasa di Sini, Kretek Indonesia Masih Jaya

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Konferensi Ulama Perempuan 'Aisyiyah Tegaskan Otoritas Intelektual Perempuan dalam Keilmuan Islam

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Untuk pengembangan kanal ini, kami membuka donasi melalui link Paypal di SINI. Terima kasih