Nyadran Masyarakat Etnis Jawa di Ranah Melayu Jambi
Jelang Ramadhan, komplek pemakaman di Pulau Jawa biasanya ramai dengan kunjungan warga. Mereka para kerabat dekat mendiang yang dimakamkan di situ melakukan ritual nyadran, atau nyekar dalam bahasa Jawa. Bagaimana dengan orang keturunan Jawa di luar Jawa?
Masyarakat keturunan Jawa di desa Sukamaju, kecamatan Rimbo Ulu, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi ternyata juga masih melestarikan tradisi seperti ini. Awal kedatangan leluhur mereka dari Jawa tercatat tahun 1978. Beberapa gelombang kedatangan mereka dari Jawa berlangsung sejak tahun itu.
Sukamaju, nama sebuah desa Rimbo Ulu yang dulu dikenal dengan nama Unit 8. Penyebutan nama ini tidak kalah populer di kalangan warga eks transmigran Rimbo Bujang hingga ini. Jalan-jalan di wilayah ini dinamakan sesuai nama-nama gunung. Jalan utama desa dinamakan jalan Lawu. Jalan-jalan lainnya diberi nama jalan Merbabu, Kerinci, Rinjani, Malabar, Muria, Kelud dan lain-lain.
Di berbagai wilayah di Kabupaten Tebo, masyarakat keturunan Jawa masih melestarikan tradisi, tak terkecuali di masyarakat keturunan Jawa di Sukamaju, Kecamatan Rimbo Ulu. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat Desa Suka Jaya adalah tradisi nyadran, atau nyekar yang tetap dihormati dan dijaga hingga saat ini.
Baca juga: Menelusuri Jejak Rasa Soto Kambing Malangan: Antara Warisan, Ingatan, dan Identitas
Tradisi nyadran biasanya dilakukan setahun sekali. Waktunya paling sering dilakukan menjelang memasuki bulan Puasa ataupun menjelang Idul Fitri. Ritual ini sebagai bentuk penghormatan kepada arwah para leluhur yang telah meninggal. Umumnya, Nyadran dilaksanakan pada bulan Ruwah atau menjelang bulan puasa.Penelitian Purnomo baru-baru ini merilis tentang pelaksanaan ritual nyadran pada masyarakat desa Sukamaju, yang berada di kecamatan Rimbo Ulu, kabupaten Tebo, provinsi Jambi. Mayoritas penduduknya merupakan keturunan suku Jawa. Oleh karena itu, masyarakat di desa ini masih menjaga dan menghormati adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun. Tulis Purnomo, yang mengutip keterangan sarmini selaku masyarakat desa Sukamaju sebagai berikut, "Pemahaman generasi muda tentang makna nyadran cenderung dangkal. Banyak dari mereka yang hanya tahu bahwa ini adalah kegiatan sebelum Ramadhan, tanpa menyadari bahwa nyadran mengajarkan kita tentang pentingnya menghormati sejarah dan warisan budaya."
Tulis Purnomo selanjutnya, tradisi nyadran juga dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya dan penanaman nilai karakter. Apalagai di era globalisasi yang semakin pesat, banyak mengancam tradisi lokal. Dengan mempelajari dan melestraikan tradisi nyadran, generasi muda di harapkan dapat menjadi pemeran aktif dalam melestraikan budaya mereka terutama di desa suka maju.
Masyarakat keturunan Jawa di Tebo meneap di tengah ranah Melayu Jambi yang terkenal dengan pengucapan akhiran "o". Namun tradisi nyadran masih terus di lestarikan hingga saat ini secara turun-temurun. Biasanya, ritual ini di laksanakan sebelum menyambut bulan puasa atau sekitar 10 hari menjelang puasa.
Tidak ada hiburan, festival atau budaya khusus saat nyadran di desa ini, sebaliknya pelaksanaannya lebih sederhana. Tradisi ini dilangsungkan cukup dengan ziarah kubur menjelang bulan Ramadan, yang dilakukan dengan kegiatan seperti besik kubur, doa bersama, kembul bejono, dan sodakohan tanpa adanya ketentuan makanan khusus. Pelaksaaan besik (bersih-bersih makam) lebih utama, yang biasanya makam jarang di bersihkan. Ritual besik ini dilaksanakan secara bersama-sama yang disusul dengan pembacaan doa bersama untuk para leluhur yang sudah meninggal dan pembacaan surat Yasin dan tahlilan. Puncaknya kemudian diakhiri dengan kembul bejuno atau kenduri makan bersama-sama dengan para kerabat dengan membawa sodakohan berupa makanan.
Baca juga: The Gading Archive: Sebuah Perjalanan Rasa dan Kenangan di Kelapa Gading
Demikianlah, kehadiran masyarakat Jawa sebagai bagian dari program transmigrasi Orde Baru saat ini telah menyatu dengan kemozaikan masyarakat Jambi. Mereka memperkaya multikulturalisme Jambi yang berdampingan dengan masyarakat adat lain seperti, Anak Dalam, suku Kerinci, suku Batin, Suku Penghulu, Suku Anak Dalam (Kubu), Suku Bajau, dan Suku Pindah. Bahasa Melayu Jambi juga memiliki ciri khas utama berupa perubahan vokal akhir 'a' pada bahasa Indonesia, menjadi 'o' (contoh: apa/ apo). Selain itu juga penggunaan partikel khusus, serta memiliki ragam dialek yang bervariasi di setiap wilayah.
Melipirnews

Komentar
Posting Komentar