Nasi Kandar, Toko Olahraga dan Bahasa Etnis yang Lalu Lalang

Tidak ada etalase yang memajang komoditas yang dijual. Hanya saja bikin penasaran, mengapa banyak orang keluar masuk lewat pintu depan yang kecil itu. Bikin penasaran sangat. Akhirnya, kaki ini memberanikan diri melangkah juga
Nasi kandar. Menu ini ditawarkan di banyak tempat sekarang ini di negeri jiran. Ketenaran namanya sudah hampir mengalahkan nasi lemak yang sudah legendaris, atau sudah mampu sejajar dengan nasi biryani. Namun, di balik nasi kandar itu tampaknya bersemayam kesan yang sama, yakni kehadiran nuansa Asia Selatan di balik menu itu.


Selain teh tarik, roti canai, nasi lemak dan nasi kandar, kedai-kedai makanan di kota-kota seperti Kuala Lumpur, Selangor, Melaka, Johor dan sebagainya juga menawarkan keberagaman penjualnya. Penjaja kedai dari India dan Pakistan tampak menguat. Selain Asia Selatan, kedai-kedai makanan a la China pun juga berdiri di banyak tempat. Belum lagi, Muslim Chinese food. 


Apabila menu-menu makanan yang dijajakan menghadirkan kemajemukan rasa, warna dan juga latarbelakang penjajanya, bagaimana dengan kedai lainnya? Kedai perabotan olahraga misalnya.

Suatu waktu awal November lalu, di sebuah toko di dekat Kajang, tersaji pemandangan yang cukup mengesankan. Kedai itu menjual peralatan olahraga. Sebenarnya awalnya hanya penasaran terhadap bangunan yang tampilan luarnya amat menyolok. Penuh warna. Namun, pintunya selalu ditutup. Seperti bangunan kantor. Namun anehnya, banyak orang keluar masuk. Orang-orang dari beragam ras.

Bangunan itu tampak dari luar, hanya foto beberapa atlet badminton dunia serta nama toko yang terpampang jelas: sebuah nama dengan huruf China. Tidak ada etalase yang memajang komoditas yang dijual. Hanya saja bikin penasaran, mengapa banyak orang keluar masuk lewat pintu depan yang kecil itu. Bikin penasaran sangat. Akhirnya, kaki ini memberanikan diri melangkah juga.

Setelah ikutan masuk ke bangunan itu, barulah tahu jelasnya kalau bangunan ini adalah benar toko peralatan dan perlengkapan olahraga adanya. Betul-betul tokonya tidak tampak kelihatan menonjol dari luar. Tampilannya bak kantor saja. 

Setelah menutup pintu, sebenarnya pintu menutup sendiri karena otomatis, lalu iseng saja masuk dan mau lihat-lihat peralatan olahraga apa saja yang dijual. Tiba-tiba, 
salah seorang pramuniaga yang tampak keturunan Asia Selatan menyambut ramah. Saat itu ia menggunakan bahasa Melayu, karena tahu kali kalau yang datang kemungkinan besar dari etnis Melayu. 

Namun tak lama kemudian, ia menyahuti panggilan rekan kerjanya dengan bahasa Tamil atau Telugu begitu. Tak jelas benar, karena kedua bahasa itu cukup punya banyak penutur di Malaysia, utamanya keturunan Asia Selatan. Menjadi terasa aneh lagi orang yang sama bercakap dengan bahasa yang berbeda, hanya dalam hitungan detik.

Di ruangan outlet yang lebih ke dalam, pada ruangan outlet berbagai peralatan olahraga seperti baju, sepatu dan semacamnya yang ruangannya lebih luas, tambah takjub lagi karena menjumpai beberapa keluarga yang mengantarkan anak mereka mencari sepatu. Satu keluarga keturunan China, satu keluarga Melayu dan satu keluarga lagi keturunan Asia Selatan. 

Inilah yang perlu dicatat, di ruangan itu, masing-masing keluarga itu ternyata tanpa eweuh pakewuh berbicara dengan bahasa etnis mereka sendiri. Tak ada yang ditahan-tahan atau ditutup-tutupi. Tidak ada sungkan karena tidak bercakap Melayu, misalnya. Sebaliknya, tidak ada yang tampak menguping pembicaraan mereka. Atau bahkan saling menertawai. Sepertinya sebuah hal yang sudah terbiasa begitu adanya. 

Para penjaga pun juga tak kalah beragam. Mereka yang keturunan Asia Selatan, juga berbahasa dengan bahasa mereka. Para penjaga kedai lain seperti kak Ros-kak Ros yang berjilbab dan lelaki model Mail, tokoh-tokoh dalam serial Upin dan Ipin, pun bercakap Melayu. Mereka santai saja mengeluarkan ekspresi dalam berbahasa sesuai etnis dan sub etnis masing-masing. 


Di ruangan ini, mungkin tak kalah serunya dibandingkan dengan sidang umum PBB. Hati ini membatin. Pun, walau toko ini bernama China, dugaan besarnya dimiliki orang China, namun kasirnya yang tiga orang adalah perempuan Melayu yang berjilbab.

Ini sungguh pengalam tak terduga, ternyata walaupun tidak tampak etalasenya, hanya menampilkan foto beberapa atlet badminton dunia, ternyata toko peralatan dan perlengkapan olahraga ini boleh dibilang sangat lengkap dan besar. Pembeli juga diberi potongan harga. Dan yang lebih menyentak lagi, toko ini membuka tabir identitas keseharian warga negeri Jiran Malaysia. Identitas multikultural yang senyatanya. Ekspresi multikultural yang egaliter dan equal. Tampaknya betul sekali begitu.

Zaenal Eko/Melipirnews.com

Komentar

POPULER SEPEKAN

Anne Scheiber: "Saat Gaji Naik Tipis, Ketahanan Finansial Jadi Kunci"

Alih Naskah Pecenongan, Jakarta ke Panggung Imajinasi Lagu dan Komik

Disinformasi Iklim Menggerus Hak Masyarakat Adat: Laporan dari India Ini Jadi Alarm Serius bagi Indonesia

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

The Gading Archive: Sebuah Perjalanan Rasa dan Kenangan di Kelapa Gading

Menguak Misteri UFO di Malang: Ketika Intuisi dan Sains Berkolaborasi

Tak Paham Risiko, Generasi Digital Terjebak FOMO Investasi

Anak Muda Qufu Bangga Kotanya Menyimpan Jejak Konfusius

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.