Jakarta dalam Peta Kota Budaya Dunia: Dari Museum Bahari hingga Strategi Urban Global
Di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, ruang-ruang di Museum Bahari Jakarta perlahan berubah fungsi. Dulu, museum ini identik dengan koleksi artefak maritim dan sejarah pelabuhan Nusantara.
![]() |
| Salah satu sudut Museum Bahari (Mitramusiumjakarya.id) |
Kini, melalui program Museum for Local Economic Development for Social Changes (MLEADS), museum tersebut bergerak melampaui fungsi kuratorialnya. Ia menjadi laboratorium sosial bagi anak muda pesisir, ruang pelatihan kreatif, sekaligus simpul pertemuan komunitas. Program ini menghadirkan pelatihan kreatif, aktivitas budaya, dan pengembangan ekonomi berbasis warisan lokal, dengan dukungan pemerintah kota dan mitra swasta. Bagi warga Penjaringan, museum tidak lagi sekadar tempat menyimpan masa lalu, tetapi ruang produksi masa depan.
Baca juga: Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg
Cerita dari pesisir Jakarta ini tercatat dalam World Cities Culture Report 5th Edition, laporan global yang dirilis World Cities Culture Forum (WCCF) pada 2025. WCCF adalah jaringan pemimpin kota dan perumus kebijakan budaya dari lebih dari 45 kota di enam benua, yang secara berkala memetakan peran budaya dalam pembangunan perkotaan. Laporan ini terbit setiap tiga tahun dan telah menjadi rujukan bagi pembuat kebijakan, peneliti, dan media untuk memahami dinamika budaya kota secara komparatif.
Bagi Jakarta, masuknya kota ini dalam laporan global semacam ini menempatkan pengalaman urban Indonesia dalam lanskap kota-kota dunia. Jakarta digambarkan sebagai pusat finansial, kreatif, dan budaya Indonesia dengan populasi lebih dari 10,6 juta jiwa dan ekosistem budaya yang terus berkembang. Dengan lebih dari 79 museum, situs sejarah yang tersebar luas, serta kebijakan budaya yang menekankan inklusivitas dan partisipasi warga, Jakarta diposisikan sebagai kota yang sedang mendefinisikan ulang identitas budayanya di abad ke-21.
Laporan ini menunjukkan bahwa budaya berkaitan langsung dengan kualitas hidup urban. Sektor budaya tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan ekonomi kreatif, pendidikan, pariwisata, kesehatan mental, hingga kohesi sosial. Dalam konteks kota-kota global, budaya dipahami sebagai “benang emas” yang menghubungkan kebijakan ekonomi, sosial, dan tata ruang kota.
Untuk menyusun laporan tersebut, WCCF menggunakan pendekatan riset yang komprehensif. Prosesnya melibatkan konsultasi dengan pemerintah kota dan pakar internasional, survei kebijakan budaya di berbagai kota, dokumentasi proyek serta praktik terbaik kota, dan analisis data jangka panjang berbasis berbagai sumber data terbuka. Kerangka analisis utama yang digunakan adalah CREATIVE Data Framework, sebuah kerangka data yang dikembangkan bersama OECD untuk mengorganisasi data budaya ke dalam delapan kategori, mulai dari konteks demografi hingga kebijakan pendukung sektor kreatif. Pendekatan ini memungkinkan perbandingan lintas kota sekaligus tetap mengakui konteks lokal masing-masing kota.
Temuan laporan memperlihatkan pergeseran penting dalam cara kota-kota dunia memandang budaya. Jika sebelumnya budaya sering ditempatkan sebagai sektor sekunder, kini banyak kota memposisikannya sebagai investasi strategis. Budaya digunakan sebagai dasar perumusan kebijakan berbasis bukti, alat identifikasi kebutuhan warga, magnet investasi kreatif, sekaligus indikator perbandingan kinerja kota di tingkat global.
Jakarta menjadi salah satu contoh bagaimana kebijakan budaya diterjemahkan ke dalam program konkret. Selain MLEADS, laporan ini menyoroti inisiatif kampung budaya Betawi di Petukangan, Rawa Belong, Marunda, Condet, dan Tanah Abang. Program ini bertujuan menjaga identitas lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga melalui pariwisata budaya, promosi seni tradisi, dan pemberdayaan komunitas. Di ruang-ruang ini, lenong, tanjidor, kuliner tradisional, dan praktik budaya Betawi tidak hanya dipertahankan sebagai warisan, tetapi juga dikembangkan sebagai sumber ekonomi dan ruang sosial.
Implikasi laporan ini bagi masyarakat kota bersifat konkret. Pertama, sektor budaya membuka peluang kerja baru di bidang seni, kreatif, pariwisata, dan pendidikan budaya. Kedua, bertambahnya ruang kreatif—mulai dari museum, pusat budaya, hingga ruang publik—memberikan ruang ekspresi bagi warga dan komunitas. Ketiga, pendekatan budaya mendorong kota yang lebih inklusif, karena kebijakan budaya sering kali beririsan dengan isu akses publik, partisipasi warga, dan representasi kelompok minoritas. Keempat, identitas lokal mendapatkan penguatan di tengah tekanan globalisasi, urbanisasi cepat, dan homogenisasi kota.
Baca juga: Menghidupkan Kembali Warisan Literasi dan Budaya di Padepokan Sastra Mpu Tantular
Menjelang perayaan 500 tahun Jakarta pada 2027, laporan ini menempatkan Jakarta dalam peta kota-kota dunia yang tengah merumuskan ulang masa depan urbanisme berbasis budaya. Dalam konteks global, kota-kota menghadapi tantangan serupa: krisis iklim, pertumbuhan penduduk urban, transformasi digital, dan tekanan ekonomi. Di tengah kompleksitas tersebut, budaya muncul sebagai salah satu fondasi pembangunan kota yang berkelanjutan—bukan sekadar ornamen simbolik, melainkan bagian dari strategi kebijakan kota.
Bagi Jakarta, laporan ini memberi cermin global tentang posisi kota dalam arus perubahan urban dunia. Ia memperlihatkan bahwa pembangunan kota tidak hanya diukur melalui infrastruktur fisik dan teknologi, tetapi juga melalui ekosistem budaya yang hidup. Museum yang berubah menjadi laboratorium sosial, kampung budaya yang menjadi ruang ekonomi komunitas, dan kebijakan budaya yang terintegrasi dengan pembangunan kota menunjukkan arah baru urbanisme: kota yang bertumpu pada manusia, memori kolektif, dan kreativitas.
Di pesisir Penjaringan, di kampung-kampung Betawi, dan di ruang-ruang kreatif Jakarta, arah itu mulai tampak. Di panggung kota global, Jakarta kini tercatat sebagai salah satu kota yang sedang menegosiasikan masa depan urban dengan budaya sebagai pijakan.
Latifah (melipirnews.com)

Komentar
Posting Komentar