Kisah Sukses Woko Channel di Mata Emak Kedai Kopi Pinggir Jalan Manyaran

Ia dan kebanyakan pemain yang tergabung dalam content-nya belajar acting secara otodidak. Beruntung kemudian beberapa sosok di bidang sinematografi berpengalaman bersedia bergabung

Jalanan menuju bandara Dhoho di desa Manyaran sore itu tidak begitu ramai. Tampaknya proses pelebaran dan pembangunan jalan menuju bandara baru itu masih sedang berlangsung. Awal September 2025, Melipirnews membuka google map untuk mengarah pada sebuah rumah yang menandakan alamat kantor atau base camp kelompok content creator media sosial yang menamakan diri mereka Woko Channel itu. 

Tangkapan layar Woko Channel 

Nama Woko Channel sudah sangat dikenali warga sekitar. Termasuk oleh salah satu perempuan pemilik warung kopi yang sudah puluhan tahun berjualan di tepi jalan Manyaran. Di warung itu juga menjual nasi lodeh, dan aneka gorengan. Lokasinya tidak jauh dari kantor polisi resor (Polres) Banyakan, Kediri Jawa Timur itu. Jarak warung dengan kantor Woko Channel juga tidak terlalu jauh, sekitar 400 meter.

Baca juga: Kepemimpinan Algoritma: Siapkan Pemimpin Jawa Timur Hadapi Era Digital

Begitu Maghrib menjelang dan emak ini akan segera menutup warungnya. Kopi dan beberapa gorengan telah terlahap. Tiba waktunya untuk membayar. Namun begitu tahu maksud kedatangan rombongan Melipirnews akan menjumpai pimpinan Woko Channel, tanpa diminta ia langsung menyemburkan banyak informasi tentang kesuksesan para pemain dalam konten drama komedi yang dikomandoi Reza Purwoko itu. 

Kendaraan roda dua yang kerap muncul di tayangkan Woko Channel 

Misalnya, pemain yang sangat dikenalnya adalah Pak Ndut, yang nama aslinya Sutrisno. Aktor ini termasuk pelanggan warungnya. Sebelum berperan dalam drama komedi yang menggunakan bahasa Jawa itu, dulunya ia penjual pentol bakso keliling yang suka mangkal di sekolahan. Belum terlalu lama, Sutrisno ini bertandang ke warungnya. Ia pun iseng bertanya, apakah masih ingin jualan pentol bakso? Sutrisno pun mengiyakan kalau konten dramanya selesai nantinya. Demikian emak mengisahkan.

Akan halnya kantor Woko Channel itu, diceritakannya, Woko Channel mengontak rumah di situ belum lama. Dulunya mereka berkantor di daerah Bulawen, daerah yang dulu terkenal dengan buah mangganya itu. Lokasinya memang kurang strategis dibandingkan kantornya sekarang. 

Baca juga: MTI: Setelah 10 tahun Bridging, Seharusnya Ojol Hanya untuk Pengantaran Barang

Perjalanan Woko Channel tampak semakin sukses di mata emak penjual warung kopi. Termasuk juga banyak pengunjung dari luar kota yang sering berkunjung ke Woko Channel untuk sekadar bertemu dan melampiaskan rasa penasarannya. 

Reza Purwoko, sosok penting di balik berdirinya Woko Channel, di tengah kesibukannya mempersiapkan take alias syuting malam itu sempat berujar, bahwa dirinya bukanlah lulusan kampus seni. Ia dan kebanyakan pemain yang tergabung dalam content-nya belajar acting secara otodidak. Beruntung kemudian beberapa sosok di bidang sinematografi berpengalaman bersedia bergabung. Salah satunya adalah Ari Iswahyudi, praktisi perfilman yang juga pernah menjadi Ketua Parfi Kediri. Dampaknya terasa, tampilan Woko Channel makin berbobot di channel YouTube.

Malam menjelang isya, suasana kantor Woko Channel itu begitu ramai. Tampak beberapa pemain sedang menyiapkan diri. Termasuk menyiapkan peralatan yang hendak dibawa ke lokasi syuting. Salah satu yang menarik, sedang dilakukan latihan dialog antara Kabul yang tukang becak dengan pemain baru.

Melipirnews 

Komentar

POPULER SEPEKAN

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Sukabumi dalam Prosa Du Perron, Sastrawan Belanda Tempo Dulu

Rencana Investasi Bisa Ambyar Jumpai Tanah Bersertifikat Ganda

Kehidupan di Wilayah Perbatasan Tak Seindah Pos Perbatasan

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Dari Layar Ke Luka; Ketika Kekerasan Digital Menghantam Perempuan di Pulau-Pulau Terpencil

Borobudur dan Krisis Makna di Halaman Rumahnya Sendiri

Tak Paham Risiko, Generasi Digital Terjebak FOMO Investasi

Tim Medis Perempuan Mencetak Sejarah di Piala Dunia

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

FAVORIT LAINNYA

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Rencana Investasi Bisa Ambyar Jumpai Tanah Bersertifikat Ganda

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Dari Layar Ke Luka; Ketika Kekerasan Digital Menghantam Perempuan di Pulau-Pulau Terpencil

Menghidupkan Ingatan Kota Lewat Pasar-Pasar Legendaris Surabaya

Sukabumi dalam Prosa Du Perron, Sastrawan Belanda Tempo Dulu

Klitih, Kota Budaya, dan Stigma terhadap Anak Muda

Tim Medis Perempuan Mencetak Sejarah di Piala Dunia