Kopi di Rumah Serasa di Kafe

🛒 Beli Sekarang

PkM STABN Raden Wijaya, Wonogiri: Penerapan Ekoteologi Lewat Ekonomi Sirkular dari Pupuk Fermentasi

Isu penyelamatan lingkungan kerap dipersepsikan sebagai persoalan besar yang terasa jauh dari praktik kehidupan sehari-hari. Padahal, di banyak tempat, solusi justru lahir dari langkah-langkah sederhana yang dikerjakan secara konsisten

Hal inilah yang mengemuka dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri dengan tema “Latar Belakang, Teori, dan Implementasi Pirolisis sebagai Upaya Menyelamatkan Bumi melalui Recycle-Ecotheology”.

PKM Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri

Dalam kegiatan tersebut, Lamirin, M.Pd.B., M.M.—dosen STAB Bodhi Dharma sekaligus Ketua Pengurus Koperasi Konsumen Masyarakat Swadaya—membagikan pengalaman nyata menerapkan prinsip ekonomi sirkular di tingkat komunitas. Berangkat dari pendampingan kelompok masyarakat, ia menunjukkan bagaimana pengelolaan pupuk kandang fermentasi halus dan green house mampu memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi warga.

Baca juga: Seni, Bahasa, dan Dialog Antariman: Tiga Jalan Menuju Inklusivitas Beragama di Indonesia

Lamirin menjelaskan bahwa ekonomi sirkular berbeda dengan pola ekonomi linear yang selama ini dominan—ambil, pakai, lalu buang. Pola lama ini menghasilkan limbah, menguras sumber daya, dan dalam jangka panjang justru menciptakan kerugian ekonomi. Sebaliknya, ekonomi sirkular menempatkan limbah sebagai bagian dari siklus produksi yang bisa diolah kembali dan memberi nilai tambah.

Salah satu praktik yang ia kembangkan adalah pengolahan limbah organik, khususnya kotoran ternak, menjadi pupuk kandang fermentasi halus. Melalui proses fermentasi, pupuk menjadi lebih ramah lingkungan, mudah diserap tanaman, dan aman bagi struktur tanah. Limbah yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan berubah menjadi sumber daya produktif.

Pupuk fermentasi tersebut kemudian dimanfaatkan dalam sistem tanam green house. Dengan pendekatan ini, pertanian dijalankan secara lebih terkontrol dan berkelanjutan. Tanaman tumbuh lebih stabil, ketergantungan pada pupuk kimia dapat ditekan, dan biaya produksi berkurang secara signifikan. Dampaknya langsung dirasakan warga: hasil panen meningkat, kualitas produk lebih baik, dan pendapatan menjadi lebih stabil.

Pengelolaan green house juga membuka peluang diversifikasi usaha pertanian, mulai dari sayuran hingga budidaya melon. Diversifikasi ini membuat komunitas tidak bergantung pada satu jenis komoditas saja, sehingga lebih tahan terhadap fluktuasi harga pasar. Dalam kerangka ekonomi sirkular, keberlanjutan lingkungan berjalan beriringan dengan ketahanan ekonomi.

Lamirin menekankan bahwa keberhasilan praktik ini tidak terlepas dari peran koperasi sebagai penggerak utama. Melalui koperasi, produksi pupuk, pengelolaan hasil panen, hingga pemasaran dilakukan secara kolektif. Model ini memungkinkan pembagian risiko, penguatan modal bersama, serta akses pasar yang lebih luas. “Koperasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga ruang belajar bersama,” ungkap Lamirin. 

Di dalamnya, anggota saling berbagi pengetahuan tentang teknik pertanian, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran. Kerja kolektif ini memperkuat posisi warga sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar penerima program.

Dari sisi lingkungan, dampak ekonomi sirkular terlihat jelas. Pengolahan limbah organik mengurangi pencemaran tanah dan air, sementara penggunaan pupuk fermentasi membantu menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang. Sistem green house juga mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien dan terkendali.

Sebagai kampus yang berorientasi Buddhisme, praktik ini, menurut Lamirin, selaras dengan nilai-nilai Buddhis yang menekankan kesadaran dan keterhubungan antara manusia dan alam. Prinsip paticca samuppāda mengajarkan bahwa kerusakan lingkungan akan berdampak pada semua makhluk. Karena itu, merawat alam bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab etis dan spiritual.

Nilai kesadaran (appamāda) tercermin dalam kehati-hatian mengelola sumber daya, sementara welas asih (karuṇā) hadir dalam upaya memastikan praktik ekonomi tidak merugikan lingkungan maupun generasi mendatang. Dalam konteks inilah ekoteologi menemukan bentuk paling konkret—hadir dalam tindakan sehari-hari, bukan hanya dalam wacana.

Baca juga: UI Cordoba, Visi Besar Seorang Politisi dari Ujung Timur Pulau Jawa

Kegiatan PkM STABN Raden Wijaya Wonogiri menjadi ruang penting untuk mempertemukan teori dan praktik. Meski pirolisis diperkenalkan sebagai salah satu pendekatan teknologi ramah lingkungan, pengalaman Lamirin menunjukkan bahwa fondasi ekonomi sirkular dapat dimulai dari langkah yang paling dekat dengan kehidupan warga: mengelola limbah organik, memperkuat koperasi, dan membangun pertanian berkelanjutan.

Dari limbah menjadi pupuk, dari green house menuju kemandirian ekonomi, praktik yang dibagikan Lamirin menegaskan bahwa ekonomi sirkular bukan sekadar konsep masa depan. Ia adalah solusi nyata yang sudah bekerja hari ini—membantu merawat bumi sekaligus menguatkan kehidupan komunitas.

Latifah/melipirnews.com

Komentar

POPULER SEPEKAN

Dari Kamp Pengungsian Mengangkat Australia di Piala Dunia 2026

Mengapa Jawa Timur Makin Rentan Saat Hujan Turun?

Rencana Investasi Bisa Ambyar Jumpai Tanah Bersertifikat Ganda

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Tim Medis Perempuan Mencetak Sejarah di Piala Dunia

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Dari Layar Ke Luka; Ketika Kekerasan Digital Menghantam Perempuan di Pulau-Pulau Terpencil

Para Penjaga Singkong dari Sekadar Makanan Biasa

Prediksi Manfaat Program Makan Siang Gratis di Sekolah

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

FAVORIT LAINNYA

Gedung Megah Kampus Buddhis Bukan Pajangan, Tapi Tempat Lahirkan Gagasan

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Rencana Investasi Bisa Ambyar Jumpai Tanah Bersertifikat Ganda

Terasa di Sini, Kretek Indonesia Masih Jaya

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Konferensi Ulama Perempuan 'Aisyiyah Tegaskan Otoritas Intelektual Perempuan dalam Keilmuan Islam

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Untuk pengembangan kanal ini, kami membuka donasi melalui link Paypal di SINI. Terima kasih