Sunset, Ular, dan Tri Sandya di Tanah Lot

Puri Tanah Lot menjadi tempat pemujaan umat Hindu di wilayah pesisir selatan Pulau Bali, tepatnya bagi warga di sekitar pantai Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Di waktu senja, umat Hindu setempat berbondong-bondong pergi ke puri tersebut. 

Dok. Melipirnews

Di saat yang sama, biasanya wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri ramai berkerumun memandangi deburan ombak samudera Hindia hingga menunggu tibanya matahari terbenam (sunset). Seraya menunggu sunset, wisatawan dapat menikmati keelokan puri Tanah Lot yang seluruh pondasinya terbangun dari batu hitam dan langsung menghunjam ke dasar laut.

Keindahan alam kawasan suci puri Tanah Lot tentunya menjadi daya pikat wisata tersendiri bagi pengunjung yang datang ke Bali. Pengunjung dapat menyaksikan keeksotikan sebuah bangunan suci puri di atas batu karang disertai tumbuhan perdu di tengah laut lepas. Selepas mata memandang, pinggiran pantai kawasan puri Tanah Lot terbentang tebing batu karang dengan lekak-lekuk yang khas. Bukan hanya di pura utama, di sebelah barat puri Tanah Lot terdapat bangunan suci pura yang juga tegak berdiri di atas batu karang dengan lubang di tengah-tengahnya tembus dari barat ke timur. Pura satu ini lebih populer dengan sebutan Enjung Bolong. Antara Pura Tanah Lot dan Pura Enjung Bolong seolah memberi pesan perpaduan alami yang menyuguhkan keindahan tersendiri.

Menurut cerita setempat yang beredar dari mulut ke mulut, puri ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa, yaitu Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu, Bendesa Beraben, penguasa Tanah Lot, merasa iri kepadanya karena para pengikutnya mulai mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben kemudian menyuruh pergi Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Danghyang Nirartha menyanggupi, tetapi sebelumnya dengan kekuatannya dipindahkannya Bongkahan Batu ke tengah pantai dan membangun Pura di sana. Selain itu mengubah selendangnya menjadi ular penjaga puri. Akhirnya Bendesa Beraban menjadi pengikut Danghyang Nirartha. Masih menurut cerita legenda setempat, ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan sangat beracun. 

Hingga sekarang ular-ular laut yang diceritakan di legenda sekarang dapat dijumpai di sebuah gua kecil tepat di depan Pura Tanah Lot dan disakralkan oleh masyarakat setempat. Seiring dengan pesatnya kunjungan wisatawan, lama kelamaan keberadaan ular-ular tersebut menjadi salah satu atraksi wisata di puri Tanah Lot. Ular berwana hitam putih belang-belang yang disebut “duwe” atau siluman ini dipercayai sebagai ular suci penjaga Pura.

Di suatu senja, para wisatawan memandangi orang-orang setempat yang hendak beribadah. Perempuan berkebaya putih membawa canang atau banten diringi para lelaki yang juga berpakaian putih-putih dan destar, penutup kepala khas Bali. Mereka berjalan beriringan menuju puri. Lebih eksotik lagi, jalanan menuju puri dari bibir pantai itu terbilang hanya setapak. Deburan ombak terkadang nakal menyambar-nyambar jalan setapak itu sehingga sesekali menghentikan langkah demi langkah umat yang hendak ber-tri sandya di waktu menjelang matahari terbenam itu.

Laut, gunung, mata air dan tempat-tempat bernuansa alam dianggap suci oleh umat Hindu Bali sesuai dengan prinsip Tri Hita Karana (Tiga Sebab Kebahagiaan). Keelokan Bali makin diperkokoh doktrin Syiwaisme, doktrin pembaharuan yang memandang setiap ruang dan tempat memiliki spirit kehidupan yang perlu dilestarikan.

MN

Komentar