Bissu di Antara Panggilan Spiritual dan Tekanan Zaman

"Ada Bissu yang rela dipenggal dan tidak mau meninggalkan identitasnya," tuturnya lirih di hadapan peserta yang hadir secara daring, Sabtu (14/2/2026) pagi.

Suara Puang Matoa Ancu bergetar. Pemimpin para Bissu di Kabupaten Bone ini sedang membuka lembar kelam sejarah yang nyaris terlindas zaman: peristiwa Mapatoba, saat para leluhurnya dipaksa memilih antara mati atau meninggalkan ritual yang dituding musyrik.

Momen diskusi buku ini adalah ruang langka bagi para Bissu untuk bersuara di tengah tekanan yang tak kunjung reda. LETSS Talk bersama Kerukunan Waria Bissu Sulawesi Selatan (KWRSS) menggelar Feminist Book on Facebook seri ke-18, membedah buku berjudul "Menerjang Batas Modernisasi: Studi Penerimaan Masyarakat dan Daya Lenting Bissu dalam Menghadapi Perubahan" yang terbit setahun lalu.

Peristiwa Kelam yang Hampir Terlupakan

Momen paling mengharukan datang saat Puang Matoa Ancu, sesepuh Bissu dari Bone, menceritakan peristiwa Mapatoba. Di masa lalu, para Bissu dipaksa memilih antara mati atau meninggalkan ritual yang dituding musyrik. "Ada Bissu yang rela dipenggal dan tidak mau meninggalkan identitasnya," tuturnya lirih. Peristiwa ini menunjukkan betapa mahal harga yang harus dibayar untuk mempertahankan keyakinan.

Tekanan terhadap eksistensi Bissu tak berhenti di masa lalu. Di era modern, bentuknya berubah namun tak kalah keras. Neng Inces Aulia, enumerator dari Kabupaten Soppeng, mengungkapkan bahwa masyarakat kini lebih memilih "Bissu perempuan" dalam ritual adat. "Bissu sudah jarang dipakai karena sekarang ada Bissu perempuan yang dianggap lebih layak," katanya. Padahal dalam kosmologi Bugis, Bissu adalah ruang kelima—bukan laki-laki, bukan perempuan, melainkan perpaduan yang dianggap suci.

Tak hanya tergeser secara peran, Bissu juga menghadapi diskriminasi langsung. Inces menceritakan pengalaman para Bissu yang "terkena stigma dan diskriminasi ketika melakukan ritual-ritual. Padahal yang mengundang mereka itu yang punya acara, tapi tamu-tamu di situ yang menceritakan kalau banyak tamu yang memberikan stigma."

Bissu sebagai Institusi yang Hilang

Andi Ahmad Yani, peneliti senior POLiGOV Laboratory Universitas Hasanuddin, membawa perspektif berbeda. Ia melihat Bissu bukan sekadar identitas gender, melainkan sebuah institusi yang memiliki fungsi penting dalam struktur kerajaan Bugis sejak abad ke-14.

"Bissu adalah bagian dari sistem governansi kultural. Setiap pelantikan raja pasti ada Bissu. Jadi, Bissu adalah bagian dari proses legitimasi kekuasaan," jelasnya.

Menurut Andi Yani, modernisasi telah mendelegitimasi institusi Bissu. Sistem modern membawa negara birokratis dengan legitimasi legal-rasional, sementara Bissu selama ini hidup dalam legitimasi kosmologis yang sakral. "Bissu menjadi institusi yang hilang," katanya.

Namun ia menegaskan bahwa Bissu tidak sedang melawan modernitas. "Bissu mengingatkan bahwa modernitas tanpa ingatan kosmologis akan menghilangkan keseimbangan." Pertanyaan kritisnya menggantung: "Apakah governansi publik saat ini cukup adaptif untuk membaca institusi lokal sebagai aset dan bukan sekadar anomali?"

Daya Lenting di Tengah Desakan

Di tengah tekanan yang menggerus, para Bissu menunjukkan daya lenting yang luar biasa—yang dalam penelitian ini disebut "melenting". Mereka tidak melawan secara frontal, namun bertahan dengan cara-cara halus namun kokoh.

Jessy Ismoyo dari Project Budaya Bone menjelaskan, "Melenting itu ibaratnya kemampuan untuk menavigasikan diri dalam segala hal yang berubah. Memainkan identitas satu dengan identitas lainnya dengan layer-layer yang menarik, tapi kemudian memperlihatkan kemampuan untuk tetap bertahan, kemampuan untuk tetap berdiri teguh di balik banyak identitas."

Bentuk adaptasi ini terlihat dalam keseharian. Inces menuturkan, "Bissu beradaptasi dengan cara berpakaian atau penampilannya. Kadang Bissu tidak bisa memakai baju-baju seperti yang saya pakai sekarang. Mereka beradaptasi dengan teman-teman yang lain, memakai baju-baju lelaki pada umumnya karena mungkin mereka takut nanti distigma dan diskriminasi. Tapi ketika melakukan ritual, mereka tetap memakai baju kebesaran mereka masing-masing."

Yang lebih dalam, perlawanan Bissu adalah perlawanan spiritual. Jessy mengisahkan ketika Bissu dilarang melakukan ritual pencucian pusaka di ruang publik, Puang Matoa Ancu justru mengundang akademisi dan pegiat budaya ke rumahnya untuk melakukan ritual tolak bala. "Cara kami melawan adalah cara yang sangat-sangat... dengan ritual ini kita menolak hal-hal yang buruk karena kita tidak bisa menjalankan ritual matompang arajang seperti seharusnya."

Khanis Suvianita dari Institut Filsafat Ledalero menambahkan, "Belajar Bissu adalah belajar tentang kolonialitas—bagaimana kolonial menghidupi isi kepala kita dan menciptakan korban."

Harapan yang Tersisa

Di penghujung diskusi, Puang Matoa Ancu berpesan, "Mari kita mencintai dan menyadari budaya dan tradisi kita masing-masing agar kita menjadi bangsa yang mempunyai identitas."

Buku ini, menurut para penanggap, harus menjadi pintu masuk advokasi pengakuan formal peran Bissu dalam dokumen perencanaan budaya, pelibatan mereka dalam dewan adat, hingga regenerasi pengetahuan yang nyaris punah. Di tengah modernisasi yang melindas, Bissu mengajarkan bahwa bertahan bukan sekadar soal eksis, melainkan soal setia pada panggilan yang datang sebelum manusia turun ke bumi.

Latifah/Melipirnews.com

Komentar

POPULER SEPEKAN

Untung Ekspor ke AS, Buntung di Dalam Negeri

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

Ritual Thudong ke Borobudur Mencoba Menjawab Tantangan Bhikkhu Hutan di Era Kekinian

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Mengintip Kolej Pelajar di Malaysia

Sekelumit Kisah Tindak Pidana Kelabui Orang Jawa Pergi Ke Suriname

Perjuangan Minoritas dalam Membangun Identitas Nasional di Asia Tenggara

Kisah Sukses Woko Channel di Mata Emak Kedai Kopi Pinggir Jalan Manyaran

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

FAVORIT LAINNYA

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

Nyadran Masyarakat Etnis Jawa di Ranah Melayu Jambi

Polemik Chattra Borobudur: Mencari Titik Temu dalam Tata Kelola Warisan Dunia

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Jakarta dalam Peta Kota Budaya Dunia: Dari Museum Bahari hingga Strategi Urban Global

Mengintip Kolej Pelajar di Malaysia

Anne Scheiber: "Saat Gaji Naik Tipis, Ketahanan Finansial Jadi Kunci"

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.