Modal Sosial dan Kolaborasi Permudah Kelola Sampah
"Sampahmu, tanggung jawabmu." Kalimat itu bukan sekadar slogan, melainkan prinsip hidup yang dipegang teguh oleh komunitas di RW 16, Penggilingan, Jakarta Timur, dan keluarga Yoso Farm di Klaten.
Dalam webinar "Pengelolaan Sampah Berbasis Wilayah dan Inovasinya" yang digelar Komunitas Belajar Zero Waste (BZW) pada 4 Januari 2026, kedua pihak ini membuktikan bahwa mengatasi persoalan sampah tidak selalu perlu dengan teknologi mahal atau sistem rumit. Kuncinya justru dimulai dari komitmen paling personal: mengambil tanggung jawab atas setiap sampah yang kita hasilkan.
![]() |
| Tangkapan layar webinar (Latifah) |
Inilah fondasi pertama yang dijelaskan secara gamblang oleh Shanty Syahril, koordinator Koperasi Kompos PKK RW 16. Prinsipnya sederhana namun revolusioner: alih-alih terburu-buru mengolah atau membuang, upaya terbesar harus ditumpukan pada pencegahan. "Cegah, cegah, cegah, baru kemudian pilah dan olah," ujarnya menekankan hierarki baru pengelolaan sampah. Orientasinya pun jangka panjang, menjauhi solusi instan yang hanya memindahkan masalah. Dengan filosofi ini, tujuan akhirnya adalah memutus ketergantungan pada tempat pembuangan akhir.
Namun, memulai perubahan besar sering kali terasa berat. Di sinilah prinsip kedua berperan: memulai dari "lingkaran kendali" sendiri. Alih-alih langsung menargetkan seluruh RW, Shanty dan rekannya, Fadjar Satyani, memilih pendekatan yang terukur, mudah, dan menyenangkan. Mereka tidak mengawali dengan ceramah tentang sampah, tetapi dengan menggelar "Jumat Berkebun". Kegiatan berkumpul yang ringan itu menjadi pintu masuk alami untuk membangun dialog dan kebiasaan baru. Mereka percaya, inisiatif akan tumbuh subur jika dimulai dari hal-hal yang membawa kegembiraan dan rasa kepemilikan.
Untuk memperkuat gerakan ini, modal sosial dan kolaborasi ditempatkan sebagai urat nadi. Prinsip ketiga ini tentang memetakan kekuatan yang ada di sekitar, mulai dari tetangga yang memiliki ketertarikan sama, potensi lahan kosong, hingga keahlian individu. Semuanya disinergikan untuk tumbuh bersama secara bertahap dan organik. Koperasi Kompos yang kini solid tidak dibangun dalam semalam, tetapi melalui ikatan saling percaya yang diperkuat setiap Jumat di kebun.
Menghadapi kenyataan bahwa tidak semua orang akan langsung tergerak, Shanty menerapkan prinsip keempat: memahami proses difusi inovasi. Perubahan sosial, seperti halnya penyebaran inovasi, bergerak perlahan. Mereka tidak menargetkan seratus persen partisipasi sejak awal, melainkan fokus pada kelompok "pelopor" dan "penerima awal" yang jumlahnya sekitar 16% dari populasi. "Yang penting mulai, sekecil apa pun. Dari 100 rumah, dapat 10-15 rumah yang konsisten, itu sudah kemenangan besar," katanya. Strategi ini membuat gerakan tetap realistis dan tidak kelelahan sebelum waktunya.
Terakhir, seluruh perjalanan ini ditopang oleh prinsip kelima: berbasis data dan komunikasi yang generatif. Setiap kemajuan, sekecil apa pun, dicatat dan dibagikan. Data tidak hanya jadi alat evaluasi internal, tetapi lebih sebagai alat komunikasi untuk menunjukkan progres, membangun kebanggaan kolektif, dan mendorong partisipasi lebih luas. Melihat foto tanaman yang subur berkat kompos buatan sendiri, atau grafik pengurangan sampah residu, menjadi bukti nyata yang lebih menggerakkan daripada sekadar imbauan.
Membangun 'Surgaku' di Lahan 300 Meter: Model Sirkular Yoso Farm
Jika kisah dari Penggilingan berfokus pada membangun sistem komunitas, kisah dari Klaten datang dari keluarga Yoso Farm yang membuktikan bahwa kemandirian bisa diraih dari pekarangan sendiri. Nurul Fitri dan Sri Widodo (Pak Widodo) merintis Yoso Farm sejak November 2017 dengan visi "di rumahku surgaku". Di atas lahan sekitar 300 meter persegi, mereka mewujudkan mimpi swasembada pangan, pupuk, dan pakan dengan prinsip 3M: Mudah, Murah, Melimpah.
"Sistem kami sepenuhnya sirkular dan mengikuti prinsip alam," jelas Nurul Fitri. Mereka menerapkan integrated farming yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, perikanan, dan pengelolaan limbah dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Limbah dapur dan sisa makanan, yang biasanya jadi masalah, justru menjadi aset berharga. Mereka dijadikan pakan untuk membudidayakan maggot (lalat BSF). Maggot tersebut kemudian menjadi sumber protein utama untuk ayam petelur (40% pakan) dan ikan lele (100% pakan). Kotoran ayam dan kambing, serta sisa tanaman, difermentasi menjadi pupuk organik padat dan cair yang menyuburkan kebun. Di kebun mereka, berbagai sumber pangan tumbuh: dari labu dan singkong sebagai karbohidrat, aneka sayuran, hingga tanaman obat. Bahkan, limbah pertanian seperti gedebog pisang dan batang jagung dimanfaatkan untuk membudidayakan jamur.
Baca juga: Menyemai Moderasi Beragama dan Kesadaran Ekologis dari Bandung
"Kami menyebutnya sistem 'males' untuk kompos," canda Widodo. Mereka mengumpulkan daun-daun kering dalam karung besar yang dibiarkan terurai secara alami, dan setahun sekali dipanen menjadi kompos matang, menghasilkan 15-20 karung per tahun tanpa perawatan rumit.
Pendekatan mereka tidak berhenti di rumah sendiri. Yoso Farm juga membuka diri sebagai homestay dan pusat pembelajaran. Mereka aktif mengajak sekolah-sekolah dan pondok pesantren di sekitar Klaten untuk mengadopsi sistem serupa, terutama budidaya maggot sebagai solusi cepat untuk mengelola sampah organik skala besar.
Satu Visi, Dua Jalan: Kolaborasi sebagai Kunci Masa Depan
Webinar ini mencapai puncaknya ketika kedua narasumber berdiskusi tentang tantangan riil peserta, seperti mengelola sampah organik di pesantren atau memulai bank sampah dari nol. Jawabannya selalu bermuara pada prinsip yang sama: mulai kecil, bangun kolaborasi, dan fokus pada solusi sirkular.
Kisah dari Penggilingan dan Klaten ini bagai dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Yang satu menunjukkan kekuatan sistem kolektif di perkotaan, yang lainnya membuktikan keberhasilan model kemandirian keluarga di wilayah agraris. Namun, keduanya sepakat bahwa inti dari pengelolaan sampah berkelanjutan adalah mengubah pola pikir: dari membuang menjadi mengelola, dari beban menjadi berkah, dan dari tanggung jawab individu menuju aksi kolektif. Seperti penutup webinar, solusi untuk krisis sampah Indonesia tidak hanya menunggu kebijakan besar, tetapi telah tumbuh subur dari kebun-kebun komunitas dan pekarangan rumah warga yang peduli.
Latifah/melipirnews.com

Komentar
Posting Komentar