Empat Golongan Muslim Hui di Tiongkok

Sekitar 20 juta lebih penduduk Republik Rakyat Tiongkok beragama Islam. Meskipun mereka merupakan persentase kecil dari seluruh populasi Tiongkok. 

Sebagian media Barat memotret kelompok ini terpinggirkan di perbatasan wilayah dan menjadi ancaman kekuasaan di Tiongkok. Keberadaan mereka pun kurang diminati para akademisi untuk menuliskannya. 

Menurut sensus penduduk tahun 2010, Tiongkok adalah rumah bagi 23,14 juta Muslim, atau jika dibandingkan dengan jumlah total populasi Tiongkok, jumlah umat Islam mencapai 1,74 persen dari populasi keseluruhan Tiongkok yang berjumlah 1,33 miliar. Secara doktrin, hampir semua Muslim Tiongkok menganut mazhab Sunni, termasuk tradisi Sufi Asia Tengah.

Seperti disebutkan banyak sumber, kelompok Muslim terbesar adalah etnis Hui dengan sekitar 10,5 juta orang. Banyak yang menilai, mereka ini telah berhasil di-Sinifikasi seiring dengan proses migrasi serta diaspora Muslim sejak lama yang telah terakulturasi dengan penduduk lokal Tiongkok di sekitar mereka, kecuali agama mereka. Suku Hui dikenal lebih menyebar di berbagai kota di Tiongkok. Namun begitu, konsentrasi tertinggi Muslim Hui menetap di barat laut dan barat daya Tiongkok – terutama di kawasan Ningxia, Gansu, Qinghai, dan Yunnan. 

Baca juga: Alih Naskah Pecenongan, Jakarta ke Panggung Imajinasi Lagu dan Komik

Selain Hui, suku Uyghur yang berbahasa Turkik memiliki jumlah yang hampir sama, yaitu sekitar 10 juta jiwa. Tidak seperti suku Hui yang tersebar di sebagian besar wilayah Tiongkok dan berbicara bahasa yang sama dengan tetangga mereka yang bukan Muslim, suku Uyghur lebih mempertahankan bahasa Turkik sebagai bahasa sehari-hari. Mereka lebih terkonsentrasi dan mendominasi wilayah Xinjiang, Tiongkok bagian barat laut.

Selain suku Hui dan Uyghur, Tiongkok juga merupakan rumah bagi delapan minoritas Muslim yang lebih kecil lainnya. Dalam urutan berdasarkan ukuran populasi, mereka adalah suku Kazakh, Dongxiang, Kyrgyz, Salar, Tajik, Uzbek, Bonan, dan Tatar. Semua kelompok ini jika dijumlahkan lebih kecil dibandingkan dengan suku Hui dan Uyghur. Kelompok terbesar ketiga, suku Kazakh, adalah minoritas Muslim berbahasa Turkik lainnya yang berakar di Asia Tengah, dan, seperti suku Uyghur, mereka sebagian besar tinggal di Xinjiang. Mereka berjumlah 6,3 persen dari Muslim di Tiongkok. Kelompok terbesar keempat, Dongxiang, adalah keturunan Mongolia dan sebagian besar tinggal di Gansu. Mereka mewakili 2,7 persen dari Muslim di Tiongkok. Enam kelompok minoritas lainnya hanya berjumlah 1,7 persen dari total Muslim di Tiongkok. 

Menggali lebih khusus Muslim Hui, penelitian lapangan Dru Gladney tahun 1980an memberikan banyak informasi tentang keberadaan Muslim Hui di Tiongkok ini. Muslim Hui adalah salah satu dari sepuluh minoritas nasional Muslim yang secara resmi diakui oleh negara Tiongkok. Dru Gladney mencatat terdapat empat kluster komunitas Muslim Hui yang berbeda, yaitu masing-masing tersebar secara geografis; perkotaan dan pedesaan, serta orientasi paham keagamaan; Sufi dan sekuler. Telaah Gladney ini membantu mengidentifikasi pola interaksi serta nasionalisme kemusliman mereka di bawah negeri Tiongkok. Gladney menyajikan gambaran yang menarik tentang etnis Hui dan masalah modern identitas nasional kelompok Muslim ini di Tiongkok. 

Hasil Riset Lapangan

Gladney melakukan studi tentang nasionalisme dan identitas etnis Muslim di Tiongkok selama beberapa tahun, yaitu 3 tahun pertama penelitian lapangan Tiongkok, terutama di kalangan Muslim Hui, dari tahun 1982 hingga 1990. Selama penelitian awal, ia menghabiskan 22 bulan di Tiongkok. Setelah itu juga diteruskan dengan beberapa kunjungan tindak lanjut yang dilakukan ke daerah-daerah Muslim setiap tahun setelah selesainya penelitian disertasinya, dengan perjalanan terakhir pada Januari 1990. 

Pada setiap kunjungannya, Gladney bertemu kembali dengan banyak kolega Muslim Hui, informan, dan penduduk desa di Tiongkok dan mendiskusikan kesimpulannya sebelumnya tentang mereka. Beberapa kali kunjungannya itu semakin memantapkan keempat golongan komunitas Muslim Hui menurutnya yang telah ditetapkan hasil penelitian sebelumnya.

Pertama, masyarakat Muslim Hui yang menetap di desa Sufi, Na, di barat laut, yang terletak di wilayah otonom Hui Ningxia. Pada kelompok ini, kepercayaan dan ritual sufisme Islam mendorong ekspresi identitas Muslim Hui yang paling menonjol. Lain halnya dengan masyarakat Muslim Hui di ibu kota Beijing, yaitu masyarakat Hui perkotaan di komunitas Niujie, lebih tampak sebagai masyarakat urban. Mereka mengekspresikan etnis mereka dalam hal spesialisasi pekerjaan dan pembatasan makanan. Lalu yang  ketiga, etnis Hui di desa pedesaan Changying, sebuah desa otonom Hui di dataran Hebei Tiongkok Utara di luar Beijing, identitas Hui mereka sering diekspresikan dalam hal endogami perkawinan etnis, yang telah menyebabkan pembentukan jaringan nasional. Terakhir, dalam garis keturunan Chendai Ding di pantai tenggara provinsi Fujian, kelompok Hui berdasarkan silsilah keturunan yang mencerminkan konstruksi etnis tradisional Tiongkok menjadi penanda identitas utama bagi masyarakat Hui ini yang mulai longgar dalam mempraktikkan Islam.

Baca juga: H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Identitas yang beragam ini mencerminkan berbagai macam Muslim Hui di Tiongkok: dari fundamentalis Sufi hingga pekerja perkotaan, dari petani gandum di utara hingga nelayan di tenggara, dari pembuat mi hingga pemimpin Partai, dari warga kota "Barat" yang berpakaian rapi hingga penjual melon di barat laut yang berjilbab, dari imam hingga kader, haji hingga ateis, semua orang ini menyebut diri mereka Hui. Mereka pun diidentifikasi oleh negara sebagai Hui.


 Muslim di Tiongkok diakui oleh negara sebagai bagian dari 55 kelompok etnis minoritas resmi yang telah diberi suara dan hak, yang dijamin oleh konstitusi, untuk berbicara tentang urusan mereka sendiri. Ini merupakan suara yang sekarang mereka gunakan dengan dampak yang cukup besar.

Hasil temuan Gladney ini akan mendapat legitimasi bilamana disandingkan dengan hasil penelitian Jörg Friedrichs dari University of Oxford berjudul Sino‐Muslim Relations: The Han, the Hui, and the Uyghurs yang terbit di Journal of Muslim Minority Affairs, Volume 37, Number 1, 2017. Di paper itu disebut, hubungan Sino-Muslim bertumpu pada hierarki sosial-spasial informal di mana beberapa kelompok Muslim lebih menjadi aset dan yang lain lebih menjadi beban. Dalam hierarki informal ini, Muslim Hui lebih dekat ke pusat daripada kelompok Muslim lainnya karena mereka telah ter-Sinifikasi. Muslim Hui dipandang sebagai kelompok yang moderat secara agama, dan sebagian besar tinggal berdekatan dengan tetangga non-Muslim Tiongkok. 

Hal berbeda, Muslim Asia Tengah, terutama Uyghur Xinjiang, lebih jauh dari pusat Tiongkok dan dipandang sebagai kelompok yang secara budaya lebih asing dan cenderung mengarah pada ekstremisme agama. 

Melipirnews

Komentar

POPULER SEPEKAN

Polemik Chattra Borobudur: Mencari Titik Temu dalam Tata Kelola Warisan Dunia

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Jakarta dalam Peta Kota Budaya Dunia: Dari Museum Bahari hingga Strategi Urban Global

Benarkah Mengunjungi Makam Waliyullah Bisa Menenangkan Hati Perempuan Muda Era Millenial? Catatan dari Hati Suhita Yang Sedang Tayang Di Bioskop

Semenarik Apa Menjadi Pelatih Sepakbola?

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Perdana di Festival Film Bulgaria 27 Januari 2026, SOLATA Siap Menyapa Dunia

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

FAVORIT LAINNYA

Jakarta dalam Peta Kota Budaya Dunia: Dari Museum Bahari hingga Strategi Urban Global

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

Anne Scheiber: "Saat Gaji Naik Tipis, Ketahanan Finansial Jadi Kunci"

Nyadran Masyarakat Etnis Jawa di Ranah Melayu Jambi

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Perdana di Festival Film Bulgaria 27 Januari 2026, SOLATA Siap Menyapa Dunia

Mengintip Kolej Pelajar di Malaysia

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.