Di tengah masyarakat yang semakin mudah terbelah oleh perbedaan politik, tekanan ekonomi, dan perkembangan teknologi digital, ruang untuk bertemu dan berbicara menjadi semakin penting. Semangat itulah yang dihadirkan dalam 4th Annual Kartini Conference on Indonesian Feminisms (KCIF 2026) yang berlangsung secara daring pada 6–13 September 2026.
Mengusung tema “Menguatkan Kepemimpinan dan Kepedulian Feminis di Tengah Polarisasi Politik, Perang Ekonomi, dan Paradoks Teknologi Digital”, KCIF 2026 mempertemukan akademisi, peneliti, aktivis, pekerja komunitas, mahasiswa, dan berbagai pihak dengan pengalaman yang beragam.
Konferensi ini diselenggarakan oleh Consortium for Plural and Inclusive Indonesian Feminisms, yang melibatkan LETSS Talk, ETNOGRAFIK Research Center (ERC) Universitas Sumatera Utara, dan Mitra Wacana. Memasuki penyelenggaraan keempat, KCIF terus membangun ruang bagi berkembangnya pengetahuan feminis Indonesia yang plural dan inklusif.
Conference Chair KCIF 2026, Diah Irawaty, mengatakan konferensi ini menjadi tempat untuk membangun pertanyaan-pertanyaan kritis tentang berbagai persoalan sosial. “KCIF menjadi tempat membangun pertanyaan kritis, mendiskusikannya juga secara kritis, mencoba mencari jawaban sambil membayangkan jawaban itu bisa menjadi jalan keluar masalah yang dihadapi mereka yang paling terdampak ketidakadilan sosial.”
Baca juga: 5 Kampus Tujuan Utama Mahasiswa Indonesia di Australia Disertai Alasannya
Menurut Ira, feminisme perlu terus bergerak untuk membaca dinamika sosial dan dampaknya terhadap berbagai bentuk ketidakadilan. “Hari ini, kepedulian menjadi harga paling rendah yang bisa ditawarkan feminisme, dan saya sangat berharap, itu bisa tumbuh menguat di forum-forum KCIF.” Pernyataan tersebut menggambarkan semangat utama KCIF. Pengetahuan tidak dipahami sebagai sesuatu yang selesai dan tinggal dikonsumsi. Pengetahuan terus dibangun melalui pertanyaan, pengalaman, dialog, dan perjumpaan berbagai perspektif.
Pengetahuan dari Berbagai Pengalaman
KCIF mempertemukan pengetahuan yang lahir dari penelitian akademik dengan pengalaman yang tumbuh dari kerja komunitas, aktivisme, dan kehidupan sehari-hari. Salah satu presentasi dalam KCIF 2026, misalnya, mengangkat pengalaman Suster Lucia Anggraini, OSU, atau Suster Lusi, dalam merawat sejarah komunitas Ursulin melalui Galeri Ursulin Malang.
Melalui pengumpulan arsip, foto, artefak, dan berbagai jejak perjalanan komunitas, sejarah yang sebelumnya tersimpan dalam fragmen-fragmen dirawat dan disusun kembali menjadi narasi yang dapat dipelajari. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tidak hanya dihasilkan melalui penelitian formal. Kerja mendokumentasikan, mengumpulkan arsip, menelusuri sejarah, dan merangkai kembali cerita juga merupakan proses produksi pengetahuan.
Dalam konteks KCIF, pengalaman seperti ini memperoleh ruang untuk dipertemukan dengan berbagai perspektif lain. Apa yang tumbuh dari praktik kehidupan dapat dibawa ke ruang percakapan yang lebih luas, didiskusikan, dan dibaca kembali bersama. Di sinilah makna KCIF sebagai ruang bertemu dan berpengetahuan menemukan bentuknya.
Di Tengah Polarisasi
Tema KCIF 2026 berangkat dari situasi dunia yang semakin kompleks. Polarisasi politik membuat perbedaan mudah berubah menjadi pertentangan. Ketimpangan ekonomi menciptakan berbagai bentuk kerentanan. Sementara teknologi digital menghadirkan peluang untuk memperluas percakapan, sekaligus membuka ruang bagi disinformasi, kebencian, dan kekerasan.
Baca juga: Kopi, Chai Latte, dan Kecerdasan Buatan: Bisakah AI Membaca Perasaan Kita pada Suatu Tempat?
Dalam situasi seperti itu, membangun ruang perjumpaan menjadi pekerjaan penting. KCIF tidak berusaha menyeragamkan pengalaman atau pandangan. Justru keberagaman menjadi bagian dari kekuatan konferensi ini.
Berbagai pengalaman perempuan, komunitas, aktivis, dan peneliti dapat bertemu tanpa harus kehilangan kekhasan masing-masing. Memasuki tahun keempat penyelenggaraannya, KCIF terus mengembangkan tradisi aktivisme akademik feminis Indonesia yang inklusif. Konferensi ini juga diselenggarakan secara gratis melalui kontribusi dan kerja bersama berbagai pihak yang terlibat.
Di tengah dunia yang semakin mudah terpolarisasi, barangkali ruang seperti ini menjadi semakin diperlukan. Sebab, seperti semangat yang dibawa KCIF, pengetahuan tidak selalu lahir dari satu tempat atau satu suara. Pengetahuan tumbuh dari keberanian untuk bertanya, kesediaan mendengarkan pengalaman orang lain, dan kemauan untuk membangun pemahaman bersama. KCIF 2026 menjadi pengingat bahwa di tengah polarisasi, bertemu dan berpengetahuan bersama dapat menjadi salah satu cara untuk terus merawat kepedulian sosial.
Latifah/melipirnews.com

0 Komentar