Gedung Jor Jesu Sempat Dibakar Pejuang Guna Usir Belanda

"Bangunan ini mulai dari tahun 1900. Dan dibangun dua tingkat. Tapi pada waktu tahun 1947 pada waktu Malang bumi hangus. Nah, Cor Jesu juga ikut dibakar oleh tentara Indonesia supaya Belanda tidak masuk lagi."

Di tengah gempuran era digital, Radio Republik Indonesia (RRI) Malang menjelma bukan lagi sekadar media audio. Kini, mereka hadir sebagai platform audio visual yang dinamis, salah satunya melalui program podcast "Ruang Tamu". Transformasi ini menjadi bukti nyata komitmen RRI sebagai radio publik berbasis multiplatform. 

(Sumber: Mira Miranti, Produser RRI Malang)

Podcast ini menghadirkan visual yang kaya seperti keindahan arsitektur kolonial gedung yang telah berdiri sejak 1900, artefak bersejarah, serta wawancara mendalam dengan tiga narasumber utama. Sr. Inggrid Widhiningsih, OSU (kepala biara), salah satu narasumber menuturkan awal mula bangunan bersejarah ini: "Bangunan ini mulai dari tahun 1900. Dan dibangun dua tingkat. Tapi pada waktu tahun 1947 pada waktu Malang bumi hangus. Nah, Cor Jesu juga ikut dibakar oleh tentara Indonesia supaya Belanda tidak masuk lagi."

Baca juga: Menyusuri 125 Tahun Dedikasi Ursulin dalam Pendidikan di Malang

Di tengah kobaran api dan gejolak revolusi, peran para biarawati Ursulin sebagai pelopor pendidikan inklusif menjadi sorotan. Sr. Lucia Anggraini, OSU (sejarawan Ursulin) menekankan, "Yang paling berkesan bagi saya bahwa suster-suster Ursulin sebelum kemerdekaan sudah memulai pendidikan bukan hanya untuk orang-orang Belanda, anak Belanda, tetapi terbuka untuk orang-orang pribumi, anak-anak pribumi. Sehingga sebetulnya Cor Jesu itu mempunyai alumni yang banyak sekali. Sejak 1900 kita sudah mulai pendidikan sekolah."

Sementara itu, FX Domini BB Hera atau Sisco, seorang sejarawan Kota Malang, menguraikan bahwa di tengah kekacauan transisi kekuasaan dari Jepang ke Sekutu dan Belanda, sekolah ini menjadi salah satu dari sedikit institusi pendidikan yang tetap beroperasi. Ia mengungkapkan, "Yang menarik adalah di sekolah ini juga menerima para pejuang. Tentara-tentara yang juga adalah para pelajar. Jadi mereka sekolah tapi mereka juga bertempur, bertempur tapi juga sekolah. Dan gedung ini menyimpan saksi bisu dari para pejuang-pejuang revolusioner yang mereka adalah para pelajar. Ditambah tidak banyak sekolah yang masih beroperasi. Salah satunya tempat ini masih beroperasi di tengah kekacauan itu."

Di akhir perjalanan menyusuri sejarah, pembawa acara, Irene, menyampaikan sebuah refleksi mendalam yang menjadi intisari dari seluruh kisah ini. Baginya, kemerdekaan Indonesia bukan sekadar tentang peristiwa proklamasi. "Tiga tahun mulai dari 1945, '46, dan '47 memperlihatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang proklamasi, tapi kemerdekaan adalah tentang keberanian untuk terus bertahan, tentang pendidikan yang terus berjalan, dan mungkin itulah pesan yang masih tersimpan di balik Cor Jesu hingga hari ini," tegasnya.

Baca juga: Jadi Nama Rumah Sakit dan Jalan, Tapi Kurang Sepopuler Cut Nyak Dien

Pesan ini menjadi cerminan nyata dari perjuangan para suster Ursulin yang tanpa lelah mempertahankan pendidikan di tengah gejolak revolusi. Dedikasi mereka yang terekam dalam setiap sudut gedung bersejarah ini mengajarkan bahwa esensi kemerdekaan terletak pada kegigihan menjaga nilai-nilai luhur, terutama pendidikan, agar tetap menjadi lentera bagi generasi masa depan.

Melalui "Ruang Tamu", RRI Malang membuktikan bahwa radio tidak lagi hanya untuk didengar. Dengan menghadirkan konten visual yang mendalam dan narasi sejarah yang autentik, RRI mampu menyampaikan informasi sejarah secara lebih kaya, sekaligus menjangkau generasi digital native. Program ini menjadi contoh bagaimana media publik beradaptasi dengan perkembangan zaman, mengemas nilai-nilai sejarah dan pendidikan dengan cara yang menarik, tanpa kehilangan esensinya sebagai pencerah kehidupan bangsa. Siaran ini dapat diakses di  https://www.youtube.com/watch?v=xLtXs1BCnV4

Latifah/Melipirnews 

Posting Komentar

0 Komentar