Mental Baja Mohammad Zaki Ubaidillah Teruji di Asian Games 2026

Saat jutaan pasang mata mulai pesimis akan terlibasnya tim bulutangkis Indonesia dari China karena telah tertinggal 0-2, anak-anak muda itu bangkit. Mental baja Ubed menyegelnya menjadi emas

Pada hari Kamis, 24 September 2026, Gelanggang olahraga Ichinomiya City Municipal Gymnasium (atau secara lokal juga dikenal sebagai Ichii Shinkin Arena), di kota Ichinomiya, Prefektur Aichi, Jepang menjadi saksi bisu keuletan dan ketangguhan mental baja para atlet bulutangkis Indonesia. Alwi Farhan yang memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2, pasangan ganda Leo/Daniel yang membuat angka seimbang dan akhirnya, di tangan Ubed, panggilan akrab Mohammad Zaki Ubaidillah, China akhirnya benar-benar dapat terkalahkan. 

Perjuangan atlet beregu bulutangkis putra Indonesia di ajang Asian Games 2026 ini seperti membeberkan fakta, bahwa tidak ada kata tidak mungkin dalam meraih kesuksesan. Keberhasilan terkadang harus dilalui dengan kegagalan terlebih dahulu dan kadang posisi juga sudah di ujung tanduk. Anak-anak muda timnas bulutangkis Indonesia itu memberikan bukti nyata dan bukan hanya kata-kata motivasi semata. 

Lalu, Ubed, anak muda yang masih berusia 19 tahun benar-benar menunjukkan mental bajanya di ajang final melawan China itu. Bermain di pertandingan kelima dan terakhir final tim putra melawan China adalah salah satu situasi dengan tekanan tertinggi dalam bulu tangkis. Meski usianya masih sangat muda dan dibebani dengan kekeringan gelar selama 28 tahun, Ubed tetap sangat tenang untuk mengalahkan lawannya yang memiliki ranking lebih tinggi, 22 dunia, Weng Hongyang dengan straight game (23-21, 21-13).

Baca juga: Sulitnya Pendakian Gunung Rinjani Bagi Pemula

Mohammad Zaki Ubaidillah, yang lebih dikenal dengan julukan Ubed, adalah pemain bulu tangkis tunggal putra Indonesia kelahiran 26 Juni 2007 di Sampang, Madura. Bersama Alwi Farhan, keduanya sering dianggap sebagai bintang masa depan bulu tangkis Indonesia yang paling menjanjikan. 

Ubed betul-betul menunjukkan ketangguhan mentalnya. Hal yang sama ia pernah tunjukkan saat meraih gelar Thailand Masters 2026, saat mengalahkan favorit tuan rumah, Panitchaphon Teeraratsakul. Dia terus tertinggal poin dan bermain di bawah tekanan besar dari sorak sorai penonton Thailand, namun dia berhasil mengamankan poin-poin penting di akhir set untuk menang 21-19, 20-22, 21-19. Adalah kejelian jajaran pelatih yang dikepalai pelatih bertangan dingin Mulyo Handoyo, potensi Ubed ini betul-betul dapat dimanfaatkan di saat yang tepat untuk mengharumkan nama bangsa di kancah dunia internasional. 

Dalam momen final seperti Asian Games itu, ketahanan mental sangat penting. Mental sekeras baja seringkali menjadi pembeda antara memenangkan medali emas atau pulang dengan tangan kosong. Dalam pertandingan olahraga di mana shuttlecock dapat meluncur lebih dari 400 km/jam dan reli-reli panjang dan juga kadang ditentukan dalam hitungan milidetik, pikiran seorang pemain, serta daya tahan menghadapi tekanan sama pentingnya dengan kebugaran fisiknya.

Lee Chong Wei, legenda bulutangkis Malaysia, berulang kali menegaskan bahwa bakat dan teknik saja tidak cukup untuk melahirkan seorang juara dunia. Menjelang turnamen besar seperti Olimpiade atau Thomas Cup, ia selalu mengingatkan para pemain bahwa ketangguhan mental jauh lebih krusial untuk diprioritaskan ketimbang kecakapan lainnya. 

Chong Wei benar. Bayangkan, mengikuti sistem skor bulu tangkis dengan rally point sampai 21 yang berarti keunggulan bisa hilang dalam hitungan menit. Ketika seorang pemain hampir menang (misalnya, memimpin 20-18), otak secara alami mulai memikirkan kemenangan daripada pukulan berikutnya. Di sinilah tekanan besar hadir beriringan dengan gelombang kecemasan yang tiba-tiba membuat otot menegang, kadang menyebabkan kesalahan servis atau pukulan terburu-buru.

Saat inilah kadang pemain yang memiliki mental kuat, menggunakan trik tertentu seperti mengatur pernapasan dalam, atau menyeka keringat untuk mengembalikan fokus sepenuhnya pada poin berikutnya. Mereka juga  tetap terlihat tenang walau selepas melakukan kesalahan pukulan. Apalagi menghadapi teriakan penonton yang lebih mengunggulkan pemain lawan ketimbang dirinya. Atlet bulutangkis yang bermental baja berlatih untuk menghapus sensoriknya dalam arti mengabaikan kebisingan eksternal, dan lebih fokus sepenuhnya pada batas lapangan serta gerakan shuttlecock.

Baca juga: Elkan Baggott dan Bayangan Joel Matip-nya Timnas Indonesia

Ketenangan dan kekuatan mental Ubed ini mengingatkan pada petenis mantan nomor 1 dunia, Novak Djokovic. Bisa dibilang, ketahanan mental Ubed berada di spektrum yang sama dengan petenis Novak Djokovic. Pemenang 101 gelar tunggal ATP Tour sepanjang karier profesionalnya, termasuk 24 di antaranya gelar Grand Slam, Djokovic diakui sebagai atlet dengan mental terkuat dalam sejarah olahraga modern karena kemampuannya membalikkan keadaan saat menghadapi match point lawan di tengah kepungan sorakan penonton yang bahkan memusuhinya. Mungkin sedikit agak berlebihan. Akan tetapi, Ubed memperlihatkan potret mental tangguh ini saat menjuarai Thailand Masters 2026, di mana ia terus-menerus ditekan oleh ribuan suporter tuan rumah namun tetap mampu mencuri poin-poin penentu kemenangan.

Menggambarkan mental baja Mohammad Zaki Ubaidillah (Ubed) paling tepat dilakukan dengan melihat bagaimana ketenangan dan kedewasaan bertandingnya melampaui usianya yang masih 19 tahun. Di kalangan pengamat bulutangkis, mental baja Ubed sering dijuluki sebagai "Ice in His Veins" (Darah Dingin) karena kemampuannya untuk tetap tenang di bawah tekanan yang bisa membuat pemain senior sekalipun panik.

SBA/Melipirnews.com

Posting Komentar

0 Komentar