UIII Depok Perkuat Kerjasama dengan Deakin Lancaster Indonesia

Ridwan menyatakan bahwa saat ini, media sosial telah menjadi sumber informasi populer untuk menyediakan segala jenis berita—baik yang ringan maupun penting dan serius—termasuk informasi yang berkaitan dengan agama

Pada 13 Oktober 2026, Deakin Lancaster Indonesia (DLI) yang berlokasi di Bandung, tepatnya di Jalan Moch Thoha menjadi tuan rumah terselenggaranya APIR 2026. Kampus yang merupakan hasil merger Deakin University dan Lancaster University untuk Indonesia tersebut sukses menggelar acara APIR 2026 yang berpusat di ruang meeting DLI. 

Hadir sejumlah akademisi dari Deakin University, Lancaster University, UGM, UIN Jakarta, BRIN dan UIII. Beberapa akademisi dari kampus internasional di Depok ini diundang mempresentasikan riset terkini dan juga membangun jejaring. Acara dilakukan secara hybrid. 

Baca juga: Pendidikan Dasar Tanpa Pungutan: Siapa yang Menanggung Biayanya?

Tim DLI memfasilitasi kedatangan dan kepulangan peserta yang hadir di Lokasi dengan tiket Whoosh. Dr Hasyim dan Dr Al-Makassary dari UIII bertolak dengan menggunakan kereta Whoosh baik untuk keberangkatan maupun kepulangan. Demikian juga, sejumlah pembicara dan akademisi lain yang datang dari beberapa kampus dan pusat riset yang disebut terdahulu.  

Acara diskusi berlangsung sehari dengan menampilkan presentasi dari seluruh sarjana yang diundang. Dari UIII, hadir Dr Syafiq Hasyim dan Dr Ridwan al-Makassary, mewakili kampus tersebut. 

Bagi kalangan akademisi, acara seperti ini sangat penuh makna. Selain mendengarkan keynote speech, presentasi dan rehat di setiap sesi, ada pula acara khusus membangun jejaring dan mendiskusikan rencana kolaborasi internasional. Acara diakhiri dengan makan malam dan pembicaraan informal di antara sesama peserta. 

Topik-topik penelitian yang dipresentasikan beragam. Misalnya, dari tema studi komparatif transnasional mengenai agensi perempuan dalam proses pernikahan di antara Muslim dan penganut Khonghucu di Qufu, Tiongkok, arsitektur bantuan dan actor-aktor kepercayaan, konflik, Sains dan nilai Islam di sekolah-sekolah Indonesia, Industri halal dan perubahan iklim khususnya menyangkut kasus Indonesia, juga budaya, turisme, gender hingga teologi pembebasan Islam.

Ridwan al-Makassary sendiri mempresentasikan riset RKI PTNBHA 2026 tentang Media sosial di kalangan Generasi Z di Indonesia. Dalam paparannya, Ridwan menyatakan bahwa saat ini, media sosial telah menjadi sumber informasi populer untuk menyediakan segala jenis berita—baik yang ringan maupun penting dan serius—termasuk informasi yang berkaitan dengan agama. 

Meningkatnya penggunaan media sosial untuk komunikasi keagamaan juga memengaruhi cara orang menjalankan iman mereka. Beberapa studi menunjukkan bahwa berbagai praktik keagamaan—mulai dari pemberian amal hingga aktivitas virtual yang diyakini memperkuat iman dan keyakinan— kini semakin umum.

Lebih jauh, Ridwan menambahkan bahwa komunitas agama memiliki kebebasan untuk memilih bagaimana mereka berinteraksi dengan agama secara daring. Mereka dapat memilih berbagai pengaturan virtual sesuai preferensi mereka—baik yang menciptakan suasana diskusi yang nyaman dalam komunitas daring agama, yang  menciptakan ruang untuk doa bersama daring sebagai bentuk baru kesalehan, atau bahkan menjadi alternatif di tengah monoton narasi dakwah yang direproduksi oleh otoritas agama tradisional. 

Namun, ada juga mereka yang menggunakan media sosial untuk saling membenci antar komunitas agama—fenomena yang sering didukung oleh otoritas agama fundamentalis di dunia daring. Media sosial juga digunakan untuk menyebarkan keyakinan dan ideologi agama dalam konteks fenomena agama daring—misalnya, untuk menyebarkan interpretasi konservatif.

Lebih lanjut Ridwan berargumen bahwa studi ini memberikan gambaran bernuansa tentang keterlibatan Gen Z Indonesia dengan agama, toleransi, dan media sosial. Meskipun mereka sangat terpapar konten kebencian di platform seperti TikTok, mereka menunjukkan ketahanan yang signifikan, dengan mayoritas melaporkan tidak ada perubahan pandangan mereka. Ada paradoks yang jelas antara dukungan mereka terhadap hukum agama secara prinsip dan komitmen kuat mereka terhadap keberagaman dan non-kekerasan dalam praktik. 

Media sosial mungkin memperkuat bias yang ada, tetapi tampaknya tidak secara sistematis mengubah preferensi fundamental Gen Z terhadap intoleransi. Toleransi agama, yang diperkuat oleh pendidikan dan pemikiran kritis, bertindak sebagai mekanisme mediasi penting yang menghubungkan persepsi mereka tentang hukum agama dengan komitmen yang lebih luas terhadap kohesi sosial. 

Untuk mendorong masyarakat yang lebih kohesif, intervensi harus ditekankan pada memberdayakan Gen Z untuk beralih dari scrolling pasif ke keterlibatan aktif dan positif, sementara institusi pendidikan terus memainkan peran penting dalam membangun warga yang tangguh dan toleran. Penelitian di masa depan harus mengeksplorasi mekanisme algoritma yang mendorong paparan ini.

Baca juga: Di Tengah Gempuran Jurnal Ilmiah, Esai Kembali Diperbincangkan sebagai Ruang Reflektif

Sebelumnya tim UIII dan tim DLI telah saling berkunjung satu sama lain. Adalah Dr Syafiq Hasyim, yang juga warek bidang akademik di UIII telah berkunjung ke kampus DLI. Tim DLI juga telah berkunjung ke kampus UIII.   

Pada akhir pertemuan, atas nama DLI, Profesor Anna Halafoff, menghaturkan terima kasih ke semua peserta yang telah meluangkan waktu untuk bepergian ke DLI dan yang bergabung secara online dengan kami untuk pertemuan yang begitu luar biasa dan menginspirasi. 

Anna, menyatakan, “Kami sangat terhormat telah mendapat kesempatan untuk belajar lebih banyak dari penelitian Anda, dan berharap Anda juga menemukan pertukaran ini berharga. Kami tentu menantikan untuk melanjutkan percakapan dan mengeksplorasi peluang kolaborasi di masa depan”. Semoga terwujud jalinan kerjasama penelitian ke depan.

Penulis: Ridwan (UIII
Editor: Melipirnews

Posting Komentar

0 Komentar