Kabut asap ini memicu krisis kesehatan masyarakat berupa penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, hingga penyakit paru-paru kronis
Derita akibat terbakarnya lahan gambut belum usai seiring dengan masih terus menyalanya lahan gambut. Api ternyata masih membara di bawah tanah. Di Kalimantan telah membawa korban. Selain manusia juga hewan-hewan langka yang dilindungi seperti orangutan misalnya.
Tidak seperti kebakaran hutan biasa yang membakar pohon yang berdiri, kebakaran gambut terjadi di bawah tanah. Gambut kering bersikap seperti batu bara. Api bisa terus membara tanpa terdeteksi berminggu-minggu setelah api di permukaan padam dan bisa bergerak di bawah tanah, melepaskan campuran tebal dan beracun dari karbon monoksida, metana, dan partikel halus (PM2,5).
Berikut adalah alasan utama mengapa kebakaran lahan gambut sangat berbahaya bagi lingkungan, kesehatan, dan iklim global:
Pelepasan Emisi Karbon yang Masif (Bom Karbon)
Meskipun hanya menutupi 3 persen permukaan daratan dunia, lahan gambut menyerap karbon alami paling efektif di bumi. gambut menyimpan karbon dua kali lebih banyak daripada seluruh hutan di dunia.
Baca juga: "Ngenepne Banyu": Saat Perempuan Semarang Bercerita tentang Air, Perjuangan, dan Kehidupan
Parahnya, saat gambut kering dan terbakar, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun langsung terlepas ke atmosfer dalam bentuk karbon dioksida (CO₂) dan metana. Sebagai contoh, pada puncak kebakaran gambut Indonesia tahun 2015, emisi harian yang dihasilkan sempat melebihi total emisi harian seluruh perekonomian Amerika Serikat.
Kebakaran Bawah Tanah yang Sulit Dipadamkan
Kebakaran gambut bersifat smoldering (membara tanpa api yang menyala besar) di bawah permukaan tanah. Api di bawah tanah bisa menjalar di kedalaman beberapa meter di bawah tanah secara diam-diam.
Itulah sebabnya, petugas pemadam tidak bisa sekadar menyiram air dari atas permukaan karena api di bawah tanah tetap menyala. Api bawah tanah ini dapat muncul kembali ke permukaan di tempat yang berbeda beberapa minggu kemudian. Kebakaran ini sering kali baru benar-benar padam setelah datangnya musim hujan yang lebat secara terus-menerus.
Kabut Asap Beracun bagi Kesehatan
Asap yang dihasilkan dari pembakaran gambut jauh lebih tebal dan beracun daripada asap kayu biasa. Gambut mengandung material organik yang tidak terurai sempurna, sehingga pembakarannya menghasilkan campuran zat berbahaya seperti karbon monoksida (CO), sianida, amonia, dan partikel halus (PM 2.5).
Kabut asap ini memicu krisis kesehatan masyarakat berupa penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, hingga penyakit paru-paru kronis. Karena partikelnya sangat halus, asap ini bisa melintasi batas negara (seperti kabut asap lintas batas antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Kerusakan Permanen Ekosistem dan Kerugian EkonomiAncaman nyata juga terjadi pada kelestarian keanekaragaman hayati. Lahan gambut adalah habitat bagi spesies langka seperti Orangutan, Harimau Sumatra, dan beruang madu. Bencana kebakaran lahan gambut memusnahkan habitat fauna yang dilindungi dan memaksa mereka masuk ke pemukiman warga.
Lahan gambut yang terbakar juga menyebabkan subsiden tanah seperti tanah yang ambles dan tanah yang kering yang menyusut volumenya secara drastis. Akibatnya, begitu musim hujan datang memicu risiko banjir permanen karena lahan tersebut kehilangan kemampuan menyerap air.
Baca juga: Susi Pujiastuti Eks Menteri: "Kita Tidak Boleh Diam"
Dampak sosial ekonomi juga demikian nyata. Kebakaran lahan gambut berakibat penutupan bandara, sekolah, gangguan aktivitas bisnis, dan biaya perawatan medis yang bisa mencapai miliaran dolar.
Global Peatlands Initiative (GPI)
Diinisiasi oleh Program Lingkungan PBB (UNEP), jaringan ini menyatukan ratusan pakar global lahan gambut untuk merilis dokumen penting seperti Global Peatland Hotspot Atlas. Salah satu tokoh kuncinya adalah Dianna Kopansky, yang mengoordinasikan aksi global untuk memperingatkan bahaya "bom karbon" dari gambut yang rusak
“Melalui negosiasi, negara anggota menyadari bahwa jika mereka menginginkan aksi global terkait lahan gambut, resolusi apa pun harus mencakup semua lahan gambut, bukan hanya lahan gambut tropis,” kata Dianna Kopansky pada sebuah konferensi lahan gambut yang diselenggarakan PBB tahun 2025 lalu.
Meski Indonesia tengah menjadi sorotan karena berbagi upayanya dalam mengatasi kebakaran berulang akibat pengeringan lahan gambut, Indonesia bukan satu-satunya pemilik lahan gambut. Indonesia perlu inisiatif restorasi dan konservasi skala besar, apalagi berada di wilayah tropis.
Ekosistem lahan gambut ini ditemukan di sekitar 180 negara. Baru-baru ini, UN Environment menyoroti lahan gambut permafrost yang luas di wilayah utara dunia, dan pentingnya melestarikannya sebagai langkah perlindungan terhadap kemungkinan perubahan iklim yang parah.
Melipirnews

0 Komentar