Permaisuri Thailand yang Menyetir Sendiri Pesawat Tempur Hingga Boeing 737-800

Kabar terbaru, Suthida menyetir sendiri pesawat kerajaan yang membawanya ke Jepang

Dunia monarki Thailand goncang. Bukan karena aib atau persengketaan. Melainkan tengah jadi buah bibir dunia akibat sang ratu permaisuri yang melakukan tindakan di luar kebiasaan; mempiloti pesawat tempur dan pesawat kerajaan dengan tangannya sendiri. Terbaru, ia memiloti pesawat kerajaan Boeing 737-800) dari Bangkok menuju Hokkaido, Jepang, pada Rabu, 14 Oktober 2026 dan mendarat sempurna setelah memakan waktu selama 7 jam di udara. 

Ratu Suthida mengemudikan jet tempur

Adalah permaisur Suthida yang membuat heboh Kerajaan Thailand. Permaisuri raja yang juga memiliki pangkat tinggi di lingkungan militer Thailand ini menyetir sendiri pesawat kerajaannya hanya beberapa hari setelah dirinya mencetak sejarah sebagai ratu pertama di dunia yang berhasil menerbangkan sendiri jet tempur JAS 39C Gripen pada 8 Oktober 2026 di Provinsi Surat Thani, Thailand. Tidak heran, memang sang ratu dikenal sebagai pilot berpengalaman dengan jam terbang di atas 1.188 jam sejak 2010 dan juga mantan pramugari.

Dijadwalkan, sang Ratu memimpin delegasi Thailand dalam melakukan kunjungan selama 9 hari (14–22 Oktober 2026) atas kapasitasnya sebagai Women's Global Ambassador untuk Federasi Hoki Es Internasional (IIHF) guna menyiapkan Kejuaraan Hoki Es Wanita Asia IIHF 2027 di Sapporo.

Baca juga: Menimbang Keadilan Sosial di Balik Program Makan Bergizi Gratis

Jauh sebelum menikah dengan Raja Maha Vajiralongkorn pada tahun 2019, Ratu Suthida merupakan mantan pramugari Thai Airways. Setelah berhenti dari pekerjaannya sebagai pramugari Thai Airways, ia resmi bergabung dengan militer Thailand pada tahun 2010 dengan pangkat awal Letnan Dua. perjalanan karir kedirgantaraannya sepertinya tidak mau kalah dengan sang suami yang juga sangat piawai mengemudikan pesawat. Suthida sering kali bertindak sebagai kopilot mendampingi sang Raja dalam berbagai kunjungan kenegaraan, termasuk kunjungan kenegaraan ke Jerman dan Bhutan beberapa waktu lalu. 

Suthida lahir di Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand Selatan dan berasal dari keluarga biasa. Ayahnya, Kham Tidjai dan ibunya, Jangheang Tidjai merupakan keturunan Tionghoa-Thailand (etnis Hokkien). Ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Assumption (sebuah universitas swasta di Bangkok) dan kemudian bekerja secara mandiri sebagai pramugari di maskapai JALways dan Thai Airways International.

Kisah hidup Ratu Suthida sering digambarkan oleh media internasional seperti sebuah Cinderella story, karena perjalanannya yang murni dimulai sebagai warga biasa, kemudian menjadi pramugari, lalu melenting menjadi jenderal pengawal jet tempur, hingga akhirnya menjadi ratu yang menduduki takhta tertinggi di samping Raja Thailand. The New York Times misalnya menggambarkan pencapaiannya sebagai salah satu lompatan status sosial paling luar biasa di era modern. Global News (Kanada) juga menyorotinya kemampuan sang Ratu dengan merilis laporan utama berjudul “Flight attendant, general, royal: Meet Thailand's new queen” yang menyatakan bahwa penobatan Suthida akan menutup "kisah Cinderella yang tidak biasa" (an unusual Cinderella story), serta menyoroti transformasinya dari pramugari menjadi pengawal hingga menjadi anggota keluarga kerajaan.

Seorang perempuan dari rakyat biasa menjadi keluarga kerajaan memang bukan hal baru. Namun jika kemampuan sang Ratu terhitung sangat ekstrem dan mengundang decak kagum rakyatnya merupakan hal yang langka. Cerita yang mirip dialami Ratu Suthida ini mungkin dimiliki Ratu Silvia dari Swedia. Ia juga mantan pramugari/penerjemah. 

Ratu Silvia lahir dari keluarga kelas menengah (ayah Jerman, ibu Brasil) tanpa gelar bangsawan. Kariernya dimulia saat ia mulai bekerja sebagai pramugari untuk maskapai penerbangan Argentina dan kemudian menjadi penerjemah . Ia bertemu Raja Carl XVI Gustaf dari Swedia saat bertugas sebagai pemandu upacara di Olimpiade Munich 1972. Di titik inilah ada kemiripan dengan cerita Ratu Suthida. Suthida juga mengawali pertemuannya dengan calon suaminya, Raja Vajiralongkorn saat bertugas sebagai pramugari Thai Airways.

Baca juga: Sisi Pribadi Penuh Inspirasi Rahmi Hatta Diputar Kembali dalam Ultah Seabadnya

Tidak semua warga Thiland mengagumi kemampuan ekstrem Ratu Suthida. Sebagaian masyarakat Thailand masih saja menyorot kehidupan lux Istana. Terutama mereka adalah dari kalangan pengunjuk rasa pro-demokrasi dan aktivis muda. Persepsi terhadap Ratu Suthida tidak lepas dari kritik mereka terhadap institusi kerajaan yang dinilai sangat bergelimang kemewahan dan memegang kekuasaan politik yang terlalu besar.

Namun sebagian besar rakyat Thailand menaruh rasa hormat dan bangga atas keberhasilan Ratu Suthida mencetak sejarah sebagai ratu pertama yang menerbangkan jet tempur supersonik secara solo. Mereka menganggap pencapaian militernya membuktikan bahwa Ratu adalah sosok yang disiplin, berdedikasi tinggi, dan tangguh, bukan sekadar pajangan di istana. Selain itu, para loyalis kerajaan juga menilai Suthida sukses mengemban peran publiknya dengan keanggunan tradisional. Ia sering dipuji karena aktif mempromosikan warisan budaya Thailand, seperti kain sutra tradisional, serta melanjutkan berbagai yayasan amal kemanusiaan yang dahulu dirintis oleh Ibu Suri Ratu Sirikit yang wafat pada 24 Oktober 2025. 

Melipirnews, dari berbagai sumber.

Posting Komentar

0 Komentar