Sagu sebagai bahan makanan lokal Indonesia sudah begitu amat terkenal, khususnya di wilayah bagian timur Indonesia . Lalu bagaimana jika dibuat jajanan lokal? Kota Kendari sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara menawarkan olahan makanan dari sagu.
Sagu, yang berbentuk tepung atau olahan pati dari proses ekstraksi teras batang rumbia atau pohon sagu, merupakan makanan pokok yang cukup populer bagi sebagian masyarakat yang menetap di Provinsi Sulawesi Tenggara, termasuk kota Kendari dan sekitarnya. Wilayah kota ini tergolong dalam kawasan darat Sulawesi Tenggara. Badan Ketahanan Pangan Propinsi Sulawesi Tenggara, 2013 mencatat sejumlah hampir 30 persen kebutuhan karbohidrat masyarakat Sulawesi Tenggara bersumber dari tepung sagu. Ajaibnya, pati sagu merupakan bahan pangan yang potensial, yang dapat digunakan sebagai makanan pokok, bahan baku makanan ringan seperti empek-empek, bakso, onde-onde, cendol, dodol, maupun kue kering chip yang berwarna coklat.
Di Sulawesi Tenggara (Sultra), sagu tumbuh subur di kawasan daratan seperti di Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Kolaka, Kolaka Utara, Kolaka timur, dan Bombana. Kabupaten Konawe merupakan daerah dengan kawasan tanaman sagu terluas di provinsi ini, yang tercatat mencapai 38,6 persen dari total lahan sagu di Sulawesi Tenggara. Pada tahun 2012, luas areal lahan sagu di Kabupaten Konawe mencapai 2.013 ha dengan produksi sebesar 1.274 ton per tahun.
Dodol Sagu
Lalu, apa saja makanan olahan sagu yang mulai menjadi ikon kota Kendari? Yang wajib diketahui adalah dodol sagu. Dodol sagu sudah mulai dikenal menjadi salah kuliner oleh-oleh khas Kendari. Bahan yang digunakan untuk menjadi dodol sagu cukup sederhana, antara lain tepung sagu, tepung ketan, gula pasir, gula merah, dan kelapa serta bahan penolong lainnya seperti biji wijen dan daun pandan tercukupi. Namun walaupun sederhana, jika tidak diolah dan dimasak dengan benar, tentu hasilnya akan sulit terwijid seperti yang diharapkan.
Baca juga: Ayam Lodho Trenggalek: Dari Ritual Sakral hingga Kuliner Legendaris
Lani Saleh dari Universitas Lakidende menyebutkan, adalah komunitas Youngpreneur yang merupakan tempat berkumpulnya para mahasiswa yang menekuni bidang entrepreneur termasuk kelompok yang menciptakan olahan makanan dari sagu berupa dodol ini. Komunitas Youngpreneur ini dipimpin Misbahul Ma’ruf yang beranggotakan sekitar 40 orang. Kelompok inilah yang mendorong agar dodol sagu menjadi makanan tradisional yang menjadi oleh-oleh khas kota Kendari.
Chip Sagu
Selain dodol sagu, olahan unik berasal dari tepung sagu juga dapat dijumpai di Kelurahan Bungkutoko, Kota Kendari. Di kelurahan ini terdapat home industry pengolahan chips sagu. Penopang utama dari pembuatan chip sagu ini adalah kalangan perempuan yang aktif dalam kegiatan kelurahan.
Bagaimana tepung sagu menjadi kue kering, chip? Sukmawati Abdullah dkk. dari Universitas Halu Oleo memaparkan bahwa pengolahan tepung sagu menjadi chips sagu melibatkan beberapa tahapan penting untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Bentuk akhirnya sangat crispy. Chips sagu, sebagai salah satu produk olahan sagu, tidak hanya menawarkan cita rasa yang unik tetapi juga memberikan nilai tambah bagi sumber daya lokal. Kelompok Usaha Arma Jaya, sebuah usaha rumahan yang berfokus pada pengolahan sagu menjadi produk inovatif seperti chips sagu di Kelurahan Bungkutoko ini.
Baca juga: Pengolahan Kurma di Timteng Sebagai Makanan Pokok dan Potensinya Mencegah Penyakit Regeneratif
Olahan berbagai makanan dari sagu ini tentu akan menambah meriahnya suasana pariwisata di Kendari, yang memiliki banyak pantai yang indah seperti Pantai Nambo yang berada di kelurahan Nambo, maupun pantai Mayaria di kelurahan Kessilampe dan juga kawasan wisata air terjun seperti air terjun Nanga-Nanga di kelurahan Mokoau dan air terjun Amarilis di kelurahan Watu-Watu.
Melipirnews

0 Komentar