Pengolahan Kurma di Timteng Sebagai Makanan Pokok dan Potensinya Mencegah Penyakit Regeneratif
Selama lebih dari 5.000 tahun, pohon kurma (Phoenix dactylifera L.) telah dibudidayakan di wilayah Mesopotamia.
Persebarannya meluas berabad-abad lamanya hingga ke Afrika Utara, Semenanjung Arab, subkontinen India, dan Amerika Serikat. Pada Desember 2019, UNESCO mencatatkan pohon kurma ke dalam warisan kebudyaan manusia tak beda secara global, dengan menyatakan bahwa pohon kurma dengan pengetahuan, keterampilan yang ada serta tradisi, dan praktiknya telah memainkan peran penting dalam memperkuat hubungan antara manusia dan tanah di wilayah Arab.
![]() |
| Sumber: https://agya.info/ |
Sifat Bioaktif Kurma: Menghubungkan Pengobatan Tradisional dan Regeneratif di Teluk
Selama sepuluh tahun terakhir, negara-negara Teluk – Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab – semakin menekankan kurma sebagai elemen penting dari warisan budaya Arab dan sumber daya lokal. Kurma menjadi bahan dasar serbaguna untuk kebutuhan pangan, penciptaan pendapatan, dan penggunaan medis. Penyelidikan terhadap buah kurma juga terus dilakukan sampai pada mengaitkannya dengan pengobatan tradisional dan untuk pencegahan penyakit regeneratif. Salah satu projek kesehatan memanfaatka buah kurma untuk mengibati kanker dirintis oleh Younis Baqi (Universitas Sultan Qaboos, Oman) dan Mohamed Abou El-Enein dari Rumah Sakit Universitas Charité, Jerman tahun 2019. "Buah pohon kurma memiliki nilai nutrisi dan terapeutik yang tinggi, dengan jumlah signifikan sifat antioksidan, antibakteri, antijamur, dan antiproliferatif," demikian disampaikan Baqi.
Baca juga: Rumah Sakit Herbal China Tawarkan Wisata Kebugaran
Lanjutnya, antioksidan dapat bereaksi dengan menetralkan ‘radikal bebas’, sehingga mencegah mereka menyebabkan kerusakan dan penyakit seperti kanker. Ke depannya, Baqi berharap dapat mengeksplorasi penggunaan buah kurma di bidang medis lain serta dalam pengembangan berbagai produk kesehatan alami. "Kurma adalah makanan super dengan banyak kemungkinan penggunaan nutrisi, komersial, dan medis. Oleh karena itu, penelitian lintas bidang sangat penting untuk membuka potensi luar biasanya," ungkapnya.
Mengeringkan Kurma dengan Tenaga Surya
Melihat kurma dari sudut yang berbeda, Amro Eltayeb (Pusat Penelitian Nasional, Sudan dan saat ini bekerja di Universitas King Saud, Arab Saudi) dan Philipp Blechinger (Institut Reiner Lemoine, Jerman) mengeksplorasi kurma sebagai potensi sumber ketahanan pangan dan mata pencaharian di Sudan. Meskipun memanfaatkan tenaga surya untuk mengeringkan kurma secara berkelanjutan bukanlah praktik baru, namun hal demikian ini masih kurang dimanfaatkan di negara tersebut. "Lebih dari 40% makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia di negara-negara Sub-Sahara Afrika hilang atau terbuang,' kata Eltayeb. Di sektor kurma Sudan, kerugian signifikan terjadi selama dan setelah panen akibat kurangnya fasilitas pengeringan yang memadai.
Menyadari adanya kesempatan untuk mempromosikan ketahanan pangan, penciptaan pendapatan, dan pertanian berkelanjutan, Eltayeb dan Blechinger terhubung dengan peneliti dari berbagai disiplin seperti ekonomi, teknik energi terbarukan, dan ilmu pangan untuk melakukan studi lapangan persiapan terkait praktik pasca-panen dan pengenalan teknologi di kebun kurma Sudan. Mereka kemudian merancang dan membangun prototipe pengering kurma tenaga surya, berteknologi rendah, dan berbiaya rendah. Institut asal Eltayeb di Sudan kemudian berhasil mereplikasi pengering kurma tenaga surya menggunakan bahan-bahan yang tersedia di pasar lokal. Mereka kemudian melakukan analisis laboratorium membandingkan kurma segar dengan sampel kurma yang dikeringkan di bawah sinar matahari terbuka maupun di pengering prototipe. Dengan fase percontohan yang telah selesai, Eltayeb kini berencana melakukan uji lapangan dengan para petani dan juga berharap ‘untuk menerapkan pengering tenaga surya yang dibuat ini pada buah-buahan dan sayuran musiman lainnya di Sudan’.
![]() |
| Sumber: https://agya.info/ |
Kurma untuk Pencegahan Penyakit
Para peneliti di Universitas King Saud di Riyadh juga menemukan bukti bahwa kurma Ajwa dari Madinah mengandung unsur aktif yang berguna dalam pencegahan penyakit seperti kanker, dan memiliki sifat anti-inflamasi yang mirip dengan obat-obatan seperti ibuprofen dan aspirin.
Baca juga: Prediksi Manfaat Program Makan Siang Gratis di Sekolah
Studi ini, yang diterbitkan dalam Journal for Agriculture and Food Chemistry yang berbasis di AS, juga menemukan bahwa kurma mengandung banyak glikosida flavonoid, yang memiliki sifat antioksidan. Tingkat penghambatan pada kurma Ajwa setara dengan suplemen antioksidan komersial. Manfaat lain adalah gula dalam kurma Ajwa berupa monosakarida, yang menjadikannya cocok untuk penderita diabetes Tipe 2. Dalam kurma Ajwa juga mengandung asam folat, belerang, protein, tembaga, zat besi, serat, dan kalium. Tujuh butir kurma Ajwa mengandung sekitar 120 kalori. Orang yang mengonsumsi lima hingga tujuh setiap hari ditemukan memiliki risiko lebih rendah terhadap karsinoma dan penyakit sirkulasi, demikian tulis hasil riset tersebut.
Zaenal Eko/Melipirnews.com, dikutip dari berbagai sumber


Komentar
Posting Komentar