Prediksi Manfaat Program Makan Siang Gratis di Sekolah

Makan siang gratis atau makan siang bergizi gratis (MBG) telah diluncurkan pemerintah Indonesia. Secara bertahap, program ini telah dimulai di awal tahun 2025 ini, dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah.

Indonesia menjadi negara kesekian yang mengimplementasikan makan siang gratis sebagai perangkat penting bagi kesuksesan pendidikan penduduknya sejak dari usia dini. Brazil dikenal telah mulai menerapkan program ini sejak tahun 1940-an, walau saat itu hanya dikhususkan pada kelompok masyarakat miskin. Program makan siang gratis di sekolah menjadi program yang disatukan dengan sistem pendidikan negara dimulai dari Swedia di tahun 1945 dan Finlandia di tahun 1948. Lalu, belakangan beberapa negara mengikuti kebijakan tersebut, termasuk Kanada dan Amerika Serikat.

Baca Juga: Komunitas Agama Global Beserta Pantangan Makanan dan Minumannya

Ilustrasi makanan sehat (Sumber: freepik.com)

Sejauh mana manfaat dari program ini? Situs www.foodforgood.ca menyebutkan makan siang gratis di sekolah membantu menurunkan kerawanan pangan sebesar 3,8 persen. Makan siang gratis di sekolah membantu siswa makan lebih baik, mengontrol berat badan, dan menjadi lebih sehat secara keseluruhan. Program ini juga meningkatkan kinerja sekolah dengan membantu anak-anak berpikir lebih tajam dan lebih sering masuk kelas.

Di Kanada, program makan siang di sekolah memberikan banyak manfaat, antara lain mengatasi kerawanan pangan, memperbaiki pola makan siswa, dan menjaga siswa tetap sehat. Sebuah penelitian menunjukkan program ini mampu meningkatkan prestasi anak-anak di sekolah. Pikiran siswa menjadi lebih tajam, lebih fokus, dan mengurangi frekuensi siswa bolos sekolah.

Berikut beberapa manfaat program makan siang gratis di Kanada:

1. Mengatasi Kerawanan Pangan

Program makan siang di sekolah sangat penting dalam upaya memerangi kerawanan pangan sekitar 3,8 persen. Program ini memastikan siswa mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan tubuh mereka. Program ini membantu siswa belajar lebih baik sepanjang hari. Hal ini membantu mengurangi kekhawatiran tidak tersedianya cukup makanan di rumah, terutama bagi anak-anak dari keluarga tidak berkecukupan.

2. Mengurangi Kelaparan dan Gizi Buruk

Progam makan siang gratis di sekolah ini merupakan salah satu kunci penting dalam mengatasi kelaparan dan kekurangan gizi. Anak-anak yang mengonsumsi makanan di sekolah cenderung tidak kekurangan nutrisi. Mereka semakin mengakrabi makanan sehat dengan mengonsumsi lebih banyak buah, sayuran, dan susu.

3. Menurunkan Potensi Obesitas

Program makan siang gratis di sekolah sangat membantu kesehatan anak-anak terutama dalam mengurangi obesitas sebesar 17 peren. Anak-anak yang mengonsumsi makanan sekolah dari program pemerintah memiliki indeks massa tubuh (body mass index) yang lebih rendah. Program ini juga menurunkan kemungkinan kesehatan yang buruk sebesar 29 persen.

4. Meningkatkan Kesehatan Secara Keseluruhan

Program makan siang gratis di sekolah juga bukan hanya memerangi obesitas; mereka juga membantu kesehatan secara keseluruhan. Tingkat nutrisi dalam makanan yang disediakan pemerintah ini melebihi apa yang kebanyakan anak-anak dapatkan di rumah. Nilai gizi dalam makan siang di sekolah membantu kesejahteraan dan kesehatan siswa.

5. Meningkatkan Konsentrasi dan Fokus

Program makan siang gratis di sekolah juga berpotensi meningkatkan fokus dan konsentrasi siswa. Makanan yang baik dapat membuat perbedaan besar dalam prestasi akademis siswa. Progam ini membantu mereka untuk aktif dan memperhatikan pelajaran di kelas.

6. Mengurangi Bolos Sekolah dan Keterlambatan

Ditinjau dari sudut pandang kedisiplinan, program makan siang gratis di sekolah juga mampu mengurangi angka siswa yang tidak hadir atau terlambat ke sekolah. Ketika anak-anak tersedia cukup makanan, mereka akan lebih mungkin hadir di sekolah dan juga datang tepat waktu. Dengan demikian, berarti mereka dapat belajar lebih baik dan mencapai hasil pendidikan lebih banyak.

7. Aspek Lingkungan dan Keberlanjutan

Sekolah lebih fokus pada praktik ramah lingkungan dengan cara membeli bahan makanan di sekitar sekolah. Hal ini menunjukkan kepada siswa pentingnya makanan lokal dan tradisi yang tersembunyi di baliknya. Pembelian pangan lokal akan membantu masyarakat dan mengurangi dampak buruk yang ditimbulkan oleh produksi dan pengiriman pangan terhadap kelestarian lingkungan. Bahan makanan dapat diperoleh dari peternakan terdekat. Keberlanjutan lingkungan juga terpelihara dengan mengurangi polusi yang disebabkan oleh perpindahan makanan dari jarak jauh. Hal ini juga berarti siswa belajar dari mana makanan mereka berasal dan mengapa mendukung pertanian lokal.

Pengalaman di Amerika, Jeremy Engle menuliskan seperti dilaporkan situs https://www.nytimes.com/, lebih dari 95.000 sekolah di Amerika Serikat menyajikan makan siang gratis kepada 21 juta siswa setiap hari, dan masih ada seruan untuk memperluasnya. Makanan sekolah gratis dapat mencegah “lunch shaming,” sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan apa yang terjadi pada keluarga yang memiliki hutang makanan sekolah yang belum dibayar.

Baca Juga:  Apa Saja Faedah Meditasi dan Yoga? (Menyambut Hari Yoga Sedunia)  

Namun dampak bagi negara dan masyarakat pembayar pajak tentu makin nyata. Program makan siang gratis di sekolah ini tentu meningkatkan biaya pemerintah, dan beberapa orang mempertanyakan mengapa negara harus membayar agar siswa dari keluarga kaya dapat makan gratis.

MN, dari berbagai sumber

Komentar

POPULER SEPEKAN

Polemik Chattra Borobudur: Mencari Titik Temu dalam Tata Kelola Warisan Dunia

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Mengintip Kolej Pelajar di Malaysia

Hati-Hati! Driver Ojol Malaysia Bisa Meng-cancel Pesanan dan Mengenakan Denda

Jakarta dalam Peta Kota Budaya Dunia: Dari Museum Bahari hingga Strategi Urban Global

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Ketika Iklim Mengalahkan Ekonomi: Kecemasan Baru Warga Asia Tenggara

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

FAVORIT LAINNYA

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Jakarta dalam Peta Kota Budaya Dunia: Dari Museum Bahari hingga Strategi Urban Global

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

Nyadran Masyarakat Etnis Jawa di Ranah Melayu Jambi

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Polemik Chattra Borobudur: Mencari Titik Temu dalam Tata Kelola Warisan Dunia

Mengintip Kolej Pelajar di Malaysia

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Anne Scheiber: "Saat Gaji Naik Tipis, Ketahanan Finansial Jadi Kunci"

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.