Agen Filantropi itu Bernama Masjid
Ramadhan 1447 H. telah berlalu. Masjid-masjid tidak ramai lagi dengan banyaknya orang berkumpul untuk menunggu waktu dan berbuka puasa, menjalani salat tarawih berjamaah maupun ibadah itikaf.
Mungkin ada yang merasa rindu lagi, atau kaget bercampur kecewa soalnya yang sebulan ramai itu kini tidak seramai bulan Puasa lalu. Ada yang hilang. Surut pula keramaian lantunan ayat demi ayat Al-Qur'an dan hadits. Tidak ada lagi gerakan seirama dalam rakaat-rakaat Tarawih. Berlalu juga tingkah polah bocah berlarian sambil bercanda sayup terdengar menguji kekhusukan beribadah, dalam salat, dalam I'tikaf, tadarrus Alquran dan seterusnya.
![]() |
| Suasana kekhusukan dalam masjid (dok. Melipirnews) |
Belum jelas terdata berapa jumlah pastinya, namun sekarang ini seolah menjadi trend, masjid sebagai tempat kumpul. Di saat berbuka puasa, masjid menjadi titik pertemuan antaranggota keluarga, antarteman dan mungkin juga janjian bertemu di kala berbuka puasa. Tidak lagi layak atau tidaknya untuk menerima santunan menu berbuka menjadi ukuran. Justru sebaliknya, momen berbuka puasa di masjid menjadi perekat alias bounding bagi setiap kalangan. Gegas langkah menjelang adzan Maghrib ke meja-meja yang dipenuhi aneka menu berbuka puasa, atau suguhan di lantai yang disediakan panitia, bersambut dengan menu-menu yang siap melegakan mereka dari rasa lapar dan dahaga.
Mungkin muncul pertanyaan, dari mana menu-menu yang disajikan itu berasal. Dari mana menu sate, opor, es sirup/teh, aneka gorengan, nasi uduk, kurma dan kue-kue basah saat buka dan sahur itu terhidang? Jawabnya tentu saja simpel, kembali dari jamaah, kepada jamaah untuk jamaah. Aghniya, orang-orang kaya, berpadu dengan juru masak, juru saji dan akhirnya tertumpah di meja-meja menu yang sanggup menggoyang dan memanjakan lidah jamaah. Menu-menu yang sanggup mengisi perut jamaah yang seharian telah berpuasa. Ia habis hari itu juga. Buat membatalkan puasa dan santap sahur.
Baca juga: Menyemai Moderasi Beragama dan Kesadaran Ekologis dari Bandung
Bagi sebagian kalangan, fenomena ramainya bukber di masjid-masjid itu mengingatkan pada saat krisis moneter (krismon) 1997-1998. Di mana-mana disediakan makan gratis, atau makan dengan harga banting. Sangat membantu di kala banyak dapur terguncang saat itu karena krisis ekonomi. Di kantor-kantor instansi pemerintah, di sekolah, di kampus-kampus disediakan makanan gratis. Termasuk sebagian kecil juga di masjid.
Dalam ranah filantropi, praktik seperti ini lekat dengan sebutan karitas (charity). Derma yang habis untuk dikonsumsi saat itu. Derma pada level paling dasar. Esok derma lagi, sejauh layanan masih memungkinkan. Untuk mengukur dampaknya, tidak memerlukan ukuran statistik karena ia terkait dengan panggilan dari nafas ilahi. Sebuah panggilan kesucian.
Jika dulu memang betul-betul krisis, maka sekarang seolah dalam situasi krisis, namun tidak sungguh-sungguh krisis. Gerangan apa yang membuat keterpaduan antarjamaah tersebut, bisa jadi karena tetap merasa sama-sama krisis, mungkin saja krisis berkah. Merasa perlu mendapatkan berkah. Sebuah konsep yang abstrak, namun terbukti ampuh dalam mendorong orang untuk menggerakkan derma dan peribadatan di masjid. Apalagi di Bulan Ramadhan.
Tak heran jika seperti di Masjid Istiqlal, Jakarta, menu buka puasa yang disiapkan mencapai 5 ribu, bahkan lebih. Lalu di Masjid MBZ di Surakarta juga menjangkau angka yang hampir sama. Sebanyak 20.741 Nasi Kebuli yang berbasis 12.000 Jus Kurma dari Raja Salman menjadi menu buka puasa bersama (bukber) di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS). Konon ia mendapatkan rekor MURI. Masjid Raya Al Jabbar Bandung menyediakan sekitar 19.300 paket takjil gratis selama bulan Ramadan 2026, dengan rata-rata ratusan hingga seribuan porsi per hari. Kurang lebih 4.000 porsi berbuka disediakan di masjid Jogokaryan, dan sebagainya.
Setelah terpenuhi urusan perut, dari asupan bergizi untuk perut, bergeser asupan ke literasi keagamaan. Di masjid juga disediakan penguatan pemahaman keagamaan. Khususnya di Bulan Ramadhan. Dapat dilihat selama Ramadhan, serangkaian kajian tersaji dan dinikmati seluruh jamaah. Mulai dari semaan tadarrus Alquran, pembacaan hadist , hingga kajian tematik (maudluiyyah) yang digelar secara terjadwal. Termasuk kajian bagi para remaja dan pesantren kilat untuk anak-anak. Semuanya menandakan kehausan akan ilmu agama (tafaqquh fiddiin) dan penghambaan sepenuh diri kepada Allah Azza Wajalla.
Kepastian bahwa di saat Bulan Puasa pun Idul Fitri jangan sampai ada umat sekitar masjid mengalami kesulitan finansial dan bahan makanan pokok juga tak luput terpotret. Mereka kaum dhuafa yang harus diperhatikan. Sinyal seperti ini sudah lama ditangkap oleh kalangan intelektual Islam Tanah Air seperti KH. Sahal Mahfudz, Buya Syafi'i Ma'arif, Muslim Abdurrahman, Abdurrahman Wahid, Kuntowijo, Dawam Rahardjo, dan lain-lain. Tak dinyana, sungguh, antusiasme jamaah dalam menyokong kegiatan kegiatan santunan dan zakat (fitrah dan maal) di masjid-masjid sungguh sangat luar biasa. Puluhan juta hingga ratusan juta dana bergulir dari jamaah yang dikembalikan lagi kepada jamaah selama bulan Ramadhan berlangsung.
Baca juga: Mukhtasar Syamsuddin Menjawab Disrupsi Teknologi Dengan Konsep Neokonfusianisme
Satu hal yang dapat dibuat kesimpulan, umat Islam yang disatukan di rumah Allah SWT (baitullah) yakni masjid itu saat ini seperti memiliki kesadaran bersama; perlunya memakmurkan masjid dan mengentaskan kaum kurang berdaya (mustadlafiin). Apabila direfleksikan, masjid sekarang ini tepatlah menjadi agen filantropi. Mempertemukan kalangan mampu dengan kalangan kurang mampu. Maka sekarang tidak aneh jika di masjid-masjid ditawarkan berbagai program yang mampu menghimpun partisipasi jamaah dan sekaligus mempertemukan antarkelompok jamaah. Bahkan sebuah masjid di Jatinom, Klaten menawarkan program penyediaan sayur mayur. Agar ikatan antarjamaah dan antarkeluarga itu semakin kokoh, Dan, bukti nyata dakwah serta syiar itur dirasakan.
Zaenal Eko/Melipirnews


Komentar
Posting Komentar