Ketika ia merasa khutbah dari khotib yang sedang berdiri di mimbar dan didengarnya sesuai dengan seleranya, sontak si bos menyolek aktivis rohis itu sambil mengacungkan jari jempolnya, "ini baru kereen," kata si bos yang ditirukannya.
Inilah cerita segar dari mulut langsung orang yang pernah begitu dekat dengan aktor mafia kelas dunia yang begitu terkenal dan dicari-cari banyak orang, terutama kalangan penegak hukum. Kedekatan keduanya terjadi karena diikat oleh satu kepentingan yang sama; kepedulian terhadap ritual agama.
"Saya sebagai rohis di kantor, begitu kamis malam sudah deg degan saya. Bos saya itu nggak mau ada kotor sedikit pun di masjid kantor. Jadi saya harus memastikan semuanya bersih untuk dibuat shalat Jumat besok," ujarnya kepada Melipirnews.com. Ia juga menambahkan kalau bosnya itu pun sering memeriksa kaca dengan jari tangannya. Bila ada debu yang menempel, sontak ia tegur bagian kebersihan kantor.
Dan benarlah. Sewaktu salat Jumat tiba, si bosnya itu hampir lebih sering salat Jumat di kantornya. Si aktivis rohis pun makin tidak tenang. Apalagi posisi duduknya di masjid pun selalu dekat dengan aktivis rohis kantor ini. Si bos juga sangat perhatian dengan isi khutbah dari khotib di mimbar. Begitu pula sangat peduli dengan durasi khutbah. Ketika ia merasa khutbah dari khotib yang sedang berdiri di mimbar dan didengarnya sesuai dengan seleranya, sontak si bos menyolek aktivis rohis itu sambil mengacungkan jari jempolnya, "ini baru kereen," kata si bos yang ditirukannya.
Begitupun sebaliknya. Tatkala si bos jengkel karena khutbah terlalu lama atau temanya tidak disukainya, aktivis rohis ini dihujat habis-habisan. Mengapa khotib seperti itu diundang. Bukankah khutbah itu jangan lama-lama. Kasian kan para pekerja kantor yang segera buru-buru kembali bekerja atau makan siang terlebih dahulu. Begitu si aktivis rohis ini menirukan kalimat kemarahan sang bosnya.
Begitulah kepedulian si bos mafia ini pada prosesi salat Jumat. Kepedulian terhadap agama itu juga berbanding lurus dengan acara peringatan hari besar Islam. Ia tidak segan-segan mengucurkan lembaran demi lembaran dolarnya untuk kesuksesan acara tersebut. Bahkan ia tidak pikir panjang untuk memesan menu dari restoran mahal untuk santapan acara peringatan hari besar Islam yang diselenggarakan di kantornya.
Namun petaka datang tiba-tiba. Seluruh negara heboh. Si bos menjadi orang paling dibicarakan. Dampaknya, perkongsian si bos dengan aktivis rohis ini pun bubar setelah si bos menjadi incaran pihak yang berwajib. Si bos dituduh melakukan pengaturan harga sebuah komoditi yang membuat harga di pasar menjadi sangat mahal. Si bos juga yang dituduh mengatur lalu lintas distribusi barang yang mengakibatkan negara mengalami kerugian triliunan rupiah.
Si bos tiba-tiba pun pergi entah kemana. Menyisakan masalah kepada ribuan pegawainya dan juga lebih penting lagi, keluarganya. Ia cerai dengan istrinya. Anaknya menanggung semua ulahnya. Anaknya akhirnya berurusan dengan pihak penegak hukum. Tidak dapat bapaknya, dapat anaknya pun boleh. Mungkin begitu ungkapan hati para aparat penegak hukum. Anaknya pula yang harus menanggung kerugian negara akibat ulah bisnis yang dilakukan bapaknya. Banyak unit usahanya jatuh bergelimpangan. Hanya menyisakan torehan buram perjalanan bisnis pengusaha yang pernah dekat dengan elit di jamannya. Hubungan khusus dengan aktivis rohis ini, maka kepedulian dan kedermawanan si bos itu hanyalah menjadi cerita lalu.
Ia pun heran. Si bos saat begitu jayanya terkenal sangat royal. Mengapa kok sampai bisa berurusan dengan pihak yang berwajib? Ia sendiri sering mendapat bantuan langsung berupa uang tunai dari bosnya. Ia pun pernah mendapat bonus tahunan yang besarannya belasan kali dari gajinya. Si bos pula yang membantunya untuk membeli rumah. Di acara perkawinan anaknya, si bos memberi panitia bonus jutaan rupiah. Belum lagi kalau lagi si bos senang, gampang sekali uang berpindah tangan dari kantongnya untuk para karyawannya. Aksi-aksi kedermawanan si bos itu masih terus terngiang di ingatannya.
Baca juga: Menyelami Makna Kedaulatan Menurut Mahfud MD
Namun jika si bos sedang tidak senang atau marah dengan anak buahnya, tidak segan-segan si bos main tangan. Di depan karyawan lain, sosok karyawan yang membuatnya marah itu dihukum tangan dan juga tidak jarang kopi di gelar disiramkan kepada karyawan yang membuatnya kecewa. Di balik kedermawanannya itu, tersimpan nafsu buas untuk melampiaskan kekerasan kepada anak buahnya yang dianggapnya bersalah.
Akhir dari seluruh perjalanan bisnisnya malah membuat si bos merasakan penderitaan. Kedekatannya dengan para elit penguasa tidak juga membebaskannya dari dakwaan hukum. Dirinya terus dikejar-kejar, walaupun hingga hari ini belum tertangkap. Seakan ia rela mengorbankan anaknya yang kini tengah dipenjara, untuk menanggung semua ulah bisnis lancungnya. Ia ceraikan istrinya yang setia menemani dan memberinya buah hati. Gosip yang berkembang, ia pun kecantol perempuan lain. Bahkan saatnya ibunda si bos meninggal, bekas istrinya pun dilarang untuk melayat.
Senjakala sang mafia.
Melipirnews

0 Komentar