Muhamad Ali Wafa
Dosen Universitas Islam Cordoba, Banyuwangi
Bulan Oktober bukan sekadar bulan dengan tiga peringatan kebangsaan. Bukan pula sekadar perlu dihafalkan. Oktober adalah bulan ketika sejarah Indonesia seolah meminta kita berhenti sejenak untuk bercermin. Pada 1 Oktober 2026, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Pada 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri Nasional. Seminggu kemudian, 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Tiga momentum tersebut memiliki latar belakang sejarah yang berbeda, tetapi bertemu pada satu pertanyaan mendasar: sejauh mana generasi hari ini masih memiliki komitmen untuk menjaga Indonesia?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika kehidupan kebangsaan menghadapi tantangan yang tidak selalu kasat mata. Ancaman terhadap persatuan tidak lagi hanya berbentuk konflik terbuka. Ia dapat hadir melalui praktik atau perilaku intoleransi, fanatisme, politik identitas, disinformasi, polarisasi media sosial, hingga penetrasi berbagai gagasan ideologis yang berpotensi menggerus konsensus kebangsaan.
Memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada setiap tanggal 1 Oktober, tidak cukup hanya dengan upacara dan pengibaran bendera merah-putih. Lebih dari itu, Pancasila harus kembali ditempatkan sebagai living ideology, ideologi yang hidup dan tercermin dalam perilaku masyarakat. Fondasi pemikiran seluruh anak bangsa.
Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan. Nilai Ketuhanan harus melahirkan keberagamaan yang toleran. Kemanusiaan harus melahirkan penghormatan terhadap martabat sesama. Persatuan harus menumbuhkan kesediaan merawat perbedaan. Musyawarah harus melahirkan budaya dialog. Sementara itu, keadilan sosial harus menjadi orientasi dalam membangun kehidupan bersama.
Baca juga: Sekolah Rakyat Diperuntukkan Bagi Kaum Miskin
Dalam konteks tersebut, kewaspadaan terhadap berkembangnya komunisme dan berbagai ideologi yang bertentangan dengan Pancasila perlu ditempatkan secara rasional dan konstitusional. Generasi muda perlu memiliki kemampuan membaca sejarah secara kritis, memahami ideologi secara akademis, sekaligus mengenali berbagai bentuk indoktrinasi yang berpotensi mengancam persatuan bangsa.
Namun, benteng ideologi yang paling kokoh bukanlah ketakutan, melainkan pengetahuan. Generasi yang memahami sejarah tidak mudah dimanipulasi oleh propaganda. Generasi yang memiliki literasi digital tidak mudah menjadi korban disinformasi. Generasi yang memiliki fondasi moral juga tidak mudah kehilangan arah ketika berhadapan dengan berbagai arus pemikiran.
Di sinilah pesantren memiliki posisi strategis. Sejak lama, pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kesadaran kebangsaan. Tradisi pesantren mengajarkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya. Nilai keislaman pun tidak ditempatkan dalam posisi berlawanan dengan keindonesiaan.
Nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i'tidal, yang menjadi bagian penting dari tradisi keislaman pesantren, dapat menjadi modal untuk membangun generasi yang religius sekaligus nasionalis. Pesantren bahkan dapat menjadi laboratorium kebhinekaan karena para santri belajar hidup bersama dalam perbedaan latar belakang, daerah, karakter, dan tradisi.
Hari Santri Nasional pada 22 Oktober menjadi momentum untuk mengingat kembali bahwa nasionalisme memiliki akar yang kuat dalam sejarah pesantren. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 menunjukkan bagaimana kecintaan kepada tanah air dapat tumbuh dan memperoleh legitimasi moral dari tradisi keagamaan. Mars Ya Lal Wathon semakin memperkuat rasa cinta Tanah Air, setelah dinyanyikan meneruskan kumandang lagu Indonesia Raya.
Namun, tantangan santri hari ini berbeda dengan tantangan pada masa lalu. Santri tidak lagi hanya berhadapan dengan ancaman fisik, tetapi juga dengan arus informasi yang bergerak tanpa batas, penyimpangan ideologi, propaganda yang mengadu domba, hoaks, ujaran kebencian, dan berbagai bentuk ekstremisme yang dapat masuk ke ruang pribadi melalui layar telepon genggam.
Baca juga: Menimbang Keadilan Sosial di Balik Program Makan Bergizi Gratis
Karena itu, pesantren perlu terus bertransformasi. Santri masa kini harus menguasai kitab sekaligus teknologi, memiliki kedalaman spiritual sekaligus kemampuan berpikir kritis, serta mampu menjadi pengguna media sosial yang cerdas dan bertanggung jawab.
Di sisi lain, Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober mengingatkan kita bahwa pemuda selalu memiliki posisi penting dalam perjalanan bangsa. Pada 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang memilih persatuan di atas identitas primordial. Mereka menyadari bahwa Indonesia terlalu besar untuk dibangun dengan ego kelompok.
Ironisnya, tantangan generasi sekarang justru dapat muncul dari ruang yang semestinya mendekatkan manusia satu sama lain: media sosial. Algoritma dapat membuat seseorang hanya bertemu dengan pandangan yang sama, memperkuat prasangka, dan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan.
Oleh karena itu, semangat Sumpah Pemuda perlu terus diperbarui. Pemuda Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga harus menjadi penjaga nalar publik, penyaring informasi, dan penggerak perubahan yang berlandaskan pengetahuan serta tanggung jawab kebangsaan.
Pesantren dan pemuda kemudian menemukan titik temu yang strategis. Pesantren memiliki modal moral, spiritual, dan tradisi keilmuan. Pemuda memiliki energi, kreativitas, penguasaan teknologi, dan keberanian melakukan perubahan. Jika keduanya berjalan bersama, lahirlah kekuatan sosial yang tidak hanya mampu mempertahankan identitas bangsa, tetapi juga mendorong Indonesia bergerak maju.
Baca juga: Kontes Debat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)
Ketahanan ideologi bangsa juga tidak boleh dibangun dengan cara menutup pintu terhadap perbedaan. Indonesia justru akan menjadi kuat ketika mampu mengelola perbedaan secara dewasa. Karena itu, kebinekaan bukan ancaman terhadap persatuan. Kebinekaan adalah kenyataan bangsa yang harus dirawat dan dikelola dalam bingkai Pancasila.
Pada akhirnya, tiga momentum Oktober tersebut sesungguhnya merupakan satu rangkaian pesan. Hari Kesaktian Pancasila mengingatkan pentingnya fondasi ideologi bangsa. Hari Santri meneguhkan kontribusi agama dan pesantren dalam membangun karakter serta moralitas bangsa. Sementara itu, Hari Sumpah Pemuda menghidupkan kembali energi persatuan generasi muda untuk menggerakkan kreativitas dan perubahan.
Ketiganya bermuara pada satu komitmen: merawat Indonesia bukan sekadar dengan mengingat sejarah, melainkan dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila, religiusitas, persatuan, dan kebhinekaan sebagai praksis kehidupan sehari-hari. Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik kita mengenang sejarah, tetapi juga oleh seberapa sungguh-sungguh kita menghidupkan nilai-nilai yang diwariskan sejarah tersebut.@

0 Komentar