Moh. Zaenal Abidin Eko Putro
Pemimpin Redaksi Melipirnews.com
Di sini konteksnya adalah peran vital Pak Nuh di era kepresidenan Prabowo sekarang ini. Prabowo amat terobsesi dengan sekolah Rakyat yang mungkin dibayangkan akan dapat bersaing dengan pondok pesantren
PBNU melalui suratnya bernomor 2/PB.01/A.II.01.01/99/09/2026 telah merilis komposisi pengurus inti PBNU masa khidmah 2026-2031. Mencermati komposisi kepengurusan PBNU yang baru, salah satu kesan yang paling kuat adalah berkumpulnya para teknokrat-santri, sementara tetap tidak bisa dikesampingkan tentunya keberadaan para kyai kharismatik. Dugaan sementara penulis, Prabowo Subianto mengunci kepengurusan PBNU periode sekarang ini pada sosok Mohammad Nuh (Pak Nuh), sang Katib Aam.
Menyukseskan Sekolah Rakyat
Di sini konteksnya adalah peran vital Pak Nuh di era kepresidenan Prabowo sekarang ini. Prabowo amat terobsesi dengan sekolah Rakyat yang mungkin dibayangkan akan dapat bersaing dengan pondok pesantren. Sekolah rakyat yang menjamin totalitas belajar dengan cara boarding. Per September ini, dilaporkan oleh Kementerian Sosial telah berdiri 182 titik sekolah rakyat di seluruh Indonesia. Tentu jumlah yang tidak main-main.
Baca juga: NU Tak Butuh Dua Matahari (Catatan Paska Muktamar NU Ke-35)
Maka ditaruhlah Pak Nuh, sosok yang selama ini menggawangi sekolah rakyat, di tubuh pengurus inti mendampingi Kyai Miftakhul Akhyar di posisi Rois Aam. Pengalamannya di dunia teknokrat kampus, di jajaran pengurus NU dan di birokrasi menjadi jaminan bahwa sekolah rakyat itu akan menjadi program yang layak diandalkan Prabowo. Apalagi ditambah kehadiran Ainun Naim, orang yang pernah menduduki jabatan penting di Kemendikbudristek sejak era Pak Nuh, juga didapuk jadi bendahara PBNU. Kesampingkan dulu isu primordialisme, karena baik Rois Aam dan Katib Aam berasal dari daerah yang sama.
Oleh karenanya, suka tidak suka, gerbong istana, termasuk SY dan NW yang lagi ramai dibongkar "patut diduganya" oleh seorang gus dari Madura itu, harus turut melangkah mengarah ke sana. Kedua sosok itu tidak bisa juga suka-suka hati melenceng dari garis istana. Atau memang, sejak awal keduanya mendapatkan arahan untuk mengamankan dan menyukseskan sekolah rakyat dengan diduga bermain di arena Muktamar NU Ke-35 di Jombang akhir Agustus lalu. Keberadaan keduanya sebagai paket istana terkonfirmasi dengan keduanya menjadi pengurus seperti yang dilansir dalam surat keputusan di atas.
Dengan begitu, maka cukup beralasanlah sinyalemen bahwa sejak pra Muktamar itu sebenarnya pantauan dan komando terus datang dari Istana, walaupun ada oknum-oknum yang mencoba memainkan genderang "pesta kecil" di Sukolilo.
Sebagai akibatnya, mungkin ini terlalu dini, namun bolehlah saatnya mengucapkan untuk selamat berpisah sementara dengan gagasan NU mendunia dan berperadaban global, kemilau tambang eks KPC, begitu pula Islam Nusantara, Moderasi beragama, dan seterusnya.
Perubahan pada Perguruan Tinggi NU
Namun demikian, selain sekolah rakyat yang musti di-maintain, ada secercah harapan bagi masa depan perguruan tinggi di bawah NU. Pak Nuh, katib aam PBNU, dan Pak Ainun Naim, bendahara umum PBNU, keduanya adalah santri profesor yang sudah kenyang pengalaman berkarir di dunia pendidikan tinggi. Dan saat ini keduanya memiliki peran sangat strategis di PBNU.
Harapannya tentu pengalaman keduanya dalam mengelola perguruan tinggi dan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang mendorong kemajuan perguruan tinggi, mampu membuat perguruan tinggi di lingkungan NU dapat bersaing di tingkat nasional, bahkan internasional. Diperoleh data, bahwa perguruan tinggi inggi yang terdaftar dan berada di bawah koordinasi Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU PBNU) saat ini berjumlah lebih dari 270 perguruan tinggi di seluruh Indonesia, baik bernaung di bawah payung Kemenag maupun Kemendiktisaintek.
Baca juga: Menyambut Muktamar NU Ke-35: Mengenang Jejak Langkah KH. Abdul Wahab Hasbullah
Di antara isu yang perlu diperhatikan dengan hadirnya dua "begawan" pendidikan perguruan tinggi itu, adalah sejauh mana perguruan tinggi di bawah NU mampu menjadi orientasi utama bagi warga Nahdliyyin untuk memilih kampus. Agak kikuk melihat kenyataan baru-baru ini di media sosial yang viral, bahwa sebuah perguruan tinggi di lingkungan Muhammadiyah ternyata mayoritas mahasiswanya berlatar belakang Nahdliyyin.
Cukup beralasanlah jika keberadaan kaum santri-teknokrat yang memegang sektor kunci di PBNU sekarang ini diharapkan membawa perbaikan di berbagai sektor yang menjadi titik lemah di kalangan kaum Nahdliyyin.@


0 Komentar