-->

Hari Anak Nasional: Saat Anak-anak Kehilangan Hak atas Lingkungan yang Sehat

Peringatan Hari Anak Nasional setiap 23 Juli umumnya dipenuhi pesan tentang pendidikan, perlindungan, dan tumbuh kembang anak

Namun tahun ini, ada pertanyaan yang layak diajukan, bagaimana anak-anak dapat tumbuh optimal jika lingkungan tempat mereka bermain, belajar, dan bernapas semakin terancam oleh perubahan iklim, persoalan sampah, serta polusi suara?



Laporan Analisis Lanskap Iklim untuk Anak-anak di Indonesia yang disusun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama UNICEF menunjukkan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan menghadapi dampak krisis lingkungan. Ancamannya tidak hanya berupa bencana alam, tetapi juga gangguan terhadap kesehatan, pendidikan, akses air bersih, sanitasi, hingga perlindungan anak. 


Data dalam laporan tersebut menunjukkan sekitar 28 juta anak Indonesia terpapar risiko banjir pesisir, 15 juta anak menghadapi gelombang panas, sementara sebagian besar anak hidup dalam paparan polusi udara. Peristiwa cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi juga berpotensi mengganggu layanan pendidikan, kesehatan, dan sanitasi yang menjadi hak dasar anak. 

Namun, ancaman terhadap masa kecil anak Indonesia sesungguhnya tidak selalu datang dalam bentuk banjir atau gelombang panas. Krisis lingkungan juga hadir dalam pengalaman sehari-hari, yaitu ruang terbuka hijau yang semakin sempit, sungai yang dipenuhi sampah, udara yang tercemar, hingga lingkungan yang semakin bising.

Ketika Sampah Menggerus Ruang Bermain
Bagi banyak anak, halaman bermain kini tidak lagi identik dengan tanah lapang atau pepohonan. Di berbagai permukiman, ruang terbuka berubah menjadi area parkir, bangunan, atau bahkan tempat penumpukan sampah. Sungai yang dahulu menjadi ruang bermain alami berubah menjadi saluran yang dipenuhi limbah.

Persoalan sampah bukan hanya soal estetika kota. Sampah yang tidak dikelola dengan baik menjadi tempat berkembangnya lalat, nyamuk, dan tikus pembawa penyakit. Air yang tercemar meningkatkan risiko diare, penyakit kulit, hingga infeksi saluran pernapasan yang banyak menyerang anak-anak.

Di lingkungan sekolah, persoalan ini juga belum sepenuhnya teratasi. Sebuah penelitian di sekolah dasar menunjukkan bahwa 50 persen siswa masih memiliki pengetahuan yang rendah mengenai pengelolaan sampah, 70 persen menunjukkan sikap yang kurang peduli terhadap lingkungan, dan 55 persen masih membuang sampah sembarangan. Penelitian tersebut juga menemukan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan lingkungan dengan perilaku peduli lingkungan siswa. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari upaya melindungi kesehatan anak.

Ancaman yang Tak Terlihat: Polusi Suara

Selain sampah dan pencemaran lingkungan, anak-anak juga semakin akrab dengan bentuk polusi lain yang sering luput dari perhatian, yakni polusi suara. Di Malang Raya, misalnya, perdebatan mengenai sound horeg selama beberapa waktu terakhir lebih banyak dipandang sebagai persoalan ketertiban umum, hiburan, atau budaya. Padahal, dari perspektif hak anak, kebisingan yang berulang juga layak menjadi perhatian.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama mengingatkan bahwa paparan kebisingan lingkungan secara terus-menerus dapat mengganggu kualitas tidur, meningkatkan stres, serta mempengaruhi kemampuan belajar dan perkembangan kognitif anak. Meskipun belum ada penelitian yang secara khusus mengkaji dampak sound horeg terhadap anak-anak, bukti ilmiah mengenai dampak kebisingan terhadap kesehatan anak menunjukkan bahwa lingkungan akustik yang sehat merupakan bagian penting dari kualitas hidup mereka.

Bagi anak-anak, lingkungan yang sehat bukan hanya berarti udara yang bersih dan bebas sampah, tetapi juga lingkungan yang memungkinkan mereka tidur dengan nyenyak, belajar dengan tenang, dan bermain tanpa paparan kebisingan berlebihan.

Hak Anak Lebih dari Sekadar Sekolah

Selama ini pembicaraan mengenai hak anak lebih sering berfokus pada pendidikan, kesehatan, gizi, atau perlindungan dari kekerasan. Padahal, seluruh hak tersebut sangat dipengaruhi oleh kualitas lingkungan tempat anak tumbuh.


Anak yang tinggal di kawasan rawan banjir lebih sering kehilangan hari belajar. Anak yang hidup di lingkungan penuh sampah lebih rentan terserang penyakit. Anak yang setiap akhir pekan harus menghadapi kebisingan berintensitas tinggi berpotensi kehilangan waktu istirahat yang berkualitas. Ketiganya menunjukkan bahwa krisis lingkungan bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga persoalan kesejahteraan anak.

Laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama UNICEF juga menekankan pentingnya melibatkan anak dan remaja dalam kebijakan lingkungan dan perubahan iklim. Anak tidak hanya dipandang sebagai kelompok yang harus dilindungi, tetapi juga sebagai generasi yang perlu dilibatkan dalam membangun solusi bagi masa depan bumi. 

Momentum Hari Anak Nasional

Hari Anak Nasional semestinya tidak berhenti pada seremoni tahunan atau lomba-lomba untuk anak. Momentum ini juga mengajak masyarakat melihat kembali lingkungan yang sedang diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebab, hak anak bukan hanya memperoleh pendidikan yang baik atau perlindungan dari kekerasan. Mereka juga berhak menghirup udara yang bersih, menikmati ruang bermain yang hijau, belajar di sekolah yang bebas dari tumpukan sampah, tidur tanpa gangguan kebisingan berlebihan, dan tumbuh di lingkungan yang mampu mendukung kesehatan fisik maupun mental mereka.

Ketika krisis iklim semakin nyata, sampah terus menggunung, dan polusi suara mulai menjadi bagian dari keseharian, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kualitas lingkungan, melainkan kualitas masa depan anak Indonesia. 

Latifah/melipirnews.com

Posting Komentar

0 Komentar