"Ngenepne Banyu": Saat Perempuan Semarang Bercerita tentang Air, Perjuangan, dan Kehidupan

Setetes air yang mengalir dari keran rumah kita setiap hari menyimpan pertanyaan besar: dari mana asalnya, siapa yang menjaganya, dan berapa banyak perjuangan tersembunyi di baliknya? 

Hanya dengan memasukkan botol plastik berisi air ke dalam bak kloset, Hotmauli Sidabalok menghemat 10 hingga 20 liter air per hari di tengah krisis aliran PDAM yang hanya menyala sekali dalam 48 jam. Siti Arifah menggendong balitanya menyusuri Kali Gading di musim kemarau hanya untuk bisa mencuci pakaian. Rita Diningsih diam-diam memotong bak mandi rumahnya menjadi separuh ukuran agar air tak terbuang percuma. Mereka adalah tiga dari 17 perempuan yang kisahnya dibukukan dalam "Ngenepne Banyu: Catatan Autoetnografi-Warga tentang Perawatan Air di Daerah Hulu, Tengah, dan Hilir DAS-DAS di Semarang Raya", terbitan Yayasan Amerta Air Indonesia (YAAI) dan Tim AirWarga Semarang pada Maret 2026—sebuah buku yang mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang air dari sudut pandang yang paling jarang didengar: suara perempuan Semarang.

Sumber: amerta-air.org

Judul buku—Ngenepke Banyu, bahasa Jawa untuk "mengendapkan air"—mengangkat praktik sederhana namun krusial yang dilakukan para perempuan ketika air keruh, berbau, atau kecokelatan. Mereka menampung air, membiarkannya mengendap semalaman, lalu menggunakan air jernih di bagian atas. Pengetahuan lokal yang sering tak diakui ini menjadi simbol bahwa kearifan warga biasa sama berharganya dengan teknologi canggih.

Tiga Wajah Semarang

Para penulis tersebar di empat daerah aliran sungai (DAS) dengan tiga topografi berbeda.

Di hulu pegunungan seperti Gempol, Siti Arifah bercerita tentang air yang dulu melimpah dari Gunung Ungaran. Sejak PDAM mengambil alih sumber air, debit menyusut. Kali Miri yang dulu jadi tempat mandi dan mencuci kini kering. Sawah padi berganti jagung dan singkong. Di musim kemarau, Siti harus ke Kali Gading sambil menggendong anaknya hanya untuk mencuci.

Baca juga: Waspada Gletser Puncak Carstensz dan Sungai Citarum

Di tengah perbukitan seperti Gedawang, Yohana Aneke berjuang dengan sumur sedalam 12 meter. Musim hujan membuat air keruh bercampur lumpur, pompa rusak, tandon kosong. Musim kemarau membuat pompa "masuk angin"—setiap pagi suaminya harus memancing pompa. Pembersihan endapan lumpur setebal satu meter menghabiskan biaya Rp800.000.

Di hilir pesisir seperti Mangkang, Slamet Rustijani merasakan air sumur yang dulu tawar kini mulai asin. Perbukitan yang dulu lebat kini dikeruk untuk industri dan perumahan. Mangrove ditebang untuk tambak udang. Banjir rob semakin parah. Pada 2023, banjir setinggi satu meter merendam kampungnya hingga rel kereta tak bisa dilalui dua hari.

Perempuan di Garda Terdepan

Gunawan Budi Susanto, penyunting buku, mencatat bahwa perempuan menjadi garda terdepan sekaligus yang paling terdampak dalam setiap perubahan soal air. Merekalah yang bangun paling pagi, paling merasakan ketika air habis, dan paling bertanggung jawab mengatur jatah air.

Rita Diningsih, yang masa kecilnya di Blora yang kerap kekeringan, kini sangat peka terhadap suara air mengalir berlebihan, bahkan dari rumah tetangga. Ia tak segan menegur pemborosan air. Ketika suaminya ingin bak mandi besar, Rita memotongnya menjadi separuh ukuran tanpa sepengetahuan suaminya.

Nur Khasanah di Semarang Utara mengalami kualitas air sangat buruk—berbau karat, meninggalkan noda kuning, membuat kulit kering. Demi melindungi bayi nya, ia membeli air galon khusus untuk mandi sang anak hingga usia 1,5 tahun. Banjir 2021 membuat sumurnya terisi sampah plastik dan peralatan rumah tangga.

Konflik Air

Masyarakat Jawa berkata, banyu iku adhem nanging isa gawe panas—air itu dingin tapi bisa membuat panas.

Maudiya Eka bertengkar dengan ayahnya setelah perusahaan melon menyedot air Pamsimas dari rumah mereka. Ia sudah memperingatkan pompa tak akan kuat. Konflik memuncak hingga ia memblokir komunikasi dengan ayahnya sendiri.

Siti Arifah mendapati tetangga menggunakan air Pamsimas untuk mengairi ladang, bukan kebutuhan rumah tangga. Warga di RT atas kerap kehabisan air. Kini setiap kemarau, Siti dan suaminya harus bergadang semalaman (ngelep) untuk mengairi sawah.

Hotmauli Sidabalok mengamati bahwa pertemuan warga dengan PDAM hampir selalu dihadiri laki-laki, padahal perempuan lebih tahu kebutuhan air keluarga. Suara mereka diabaikan. Praktik korupsi air masih marak—petugas PDAM pernah menawarinya sambungan ilegal untuk aliran 24 jam.

Paradoks Modernitas

Mila Karmilah beralih ke PDAM setelah sumur artesisnya kering meski sudah diperdalam hingga 100 meter. Namun air PDAM mengandung kalsium karbonat—terbukti dari kerak putih di teko. Di musim hujan, air sering cokelat seperti kopi susu. Aliran bisa mati tiga hari ketika pipa pecah.

Sebaliknya, Taslimatun, Maryanah, dan Juminem dari Podorejo tetap setia pada air sendang (mata air) yang jernih, segar, bahkan bisa diminum langsung tanpa direbus. Taslimatun memilih kompromi: air Pamsimas untuk mandi dan cuci, air sendang untuk minum dan memasak.

Tradisi Leluhur yang Masih Hidup

Iriban (bersih-bersih mata air) masih dilakukan setiap tahun di Gempol. Dania Sindi, dengan anak kembarnya Banyu dan Bhumi, ikut menghidupkan tradisi ini pada 2023. Dalam ritual itu, pemangku dusun mengingatkan: ananing banyu amerga ananing alas—ada air karena ada hutan. Menjaga hutan sama dengan menjaga sumber air.

Baca juga: Saat Kredit Plastik Hanya Jadi Mitos di Lapangan

Nyadran di Podorejo setiap bulan Sura mengumpulkan seluruh warga untuk membersihkan sendang dan makan bersama. Martha Kumala Dewi menulis tentang tradisi serupa di Blora yang disebut gas desa, di mana warga percaya pada penjaga sendang bernama Mbah Sumur Kidul.

Merawat Air sebagai Tanggung Jawab Kolektif

Bagas Yusuf Kausan menegaskan bahwa medan kerja merawat air harus bergeser dari individu ke kolektif. Mengendapkan air di rumah tak akan cukup jika pohon di hulu terus ditebang. Menghemat air tak berarti jika perusahaan terus mengeksploitasi air tanah.

Yohana Aneke memberi contoh: ia hanya membangun di 20 persen lahannya. Sisanya dibiarkan sebagai "hutan" kecil dengan pohon-pohon besar dan bambu pengikat air. Sepuluh lubang biopori memastikan tak ada genangan saat hujan lebat.

Eka Handriana merasakan mahalnya biaya merawat air. Perumahannya berdiri di bantaran kali yang diuruk tak sempurna. Tanah "bergerak", pipa pecah berulang kali, longsor terjadi, dan biaya perbaikan terus membengkak. "Ya, karena air hidup kami berbiaya mahal," tulisnya.

Yang Bisa Dilakukan

Buku ini mendokumentasikan tool kit perawatan air: memasukkan botol ke kloset, memanfaatkan air bilasan beras, menanam pohon tancang, membuat lubang biopori. Praktik sederhana yang tak butuh teknologi canggih. Di tengah keterbatasan aliran air PDAM yang hanya mengalir sekali dalam 48 jam dan bertahan tak lebih dari dua jam, Hotmauli Sidabalok terpaksa berpikir keras menghemat setiap tetes air di rumahnya di Gombel Permai, Semarang. Meski keluarganya sudah memiliki tandon bawah berkapasitas 5.000 liter dan dua tandon atas masing-masing 1.500 liter, ketidakpastian aliran air—apalagi di musim kemarau panjang—memaksanya untuk tak menyia-nyiakan air. 

Baca juga: Membaca Krisis Air Lewat Folklor dan Ekoteologi

Salah satu trik sederhana namun brilliant yang ia lakukan adalah memasukkan botol-botol plastik berisi air ke dalam bak tampungan kloset. Dengan ruang yang terisi botol, volume air yang masuk ke bak kloset berkurang, sehingga setiap kali menyiram, air yang terbuang lebih sedikit—bisa menghemat 10 hingga 20 liter per orang per hari. Dalam tulisannya, Hotmauli menjelaskan, "Bahkan di bak tampungan kloset di kamar mandi, saya menambahkan botol-botol berisi air untuk mengurangi jumlah air tampungan. Cara itu dapat membuat air yang disetorkan saat buang air besar jadi lebih sedikit dibandingkan dengan sebelumnya." Trik ini hanyalah satu dari sekian banyak strategi penghematan yang ia terapkan, mulai dari menggunakan shower daripada gayung saat mandi, menampung air bekas cucian dari mesin cuci untuk mengepel lantai, menampung air cucian beras dan sayur untuk menyiram tanaman, hingga menadah air hujan. Bagi keluarga kecilnya yang terdiri dari tiga orang, praktik-praktik sederhana ini sangat berarti, terutama ketika air PDAM tak kunjung mengalir selama berhari-hari.

Buku ini juga menjadi bukti bahwa pengetahuan lokal layak menjadi dasar kebijakan. Wijanto Hadipuro mendorong agar RUU Air Minum dan Sanitasi yang masuk Prolegnas Prioritas 2026 memasukkan poin-poin perawatan air.

Harry Surjadi mengingatkan bahwa krisis air bukan sekadar masalah hidrologi, tapi hasil interaksi alam dan masyarakat. Setiap kali membahas air, kita perlu bertanya: siapa yang diuntungkan sekarang, dan siapa yang membayar nanti? Akhirnya, buku ini adalah panggilan untuk tidak melupakan. Manusia mudah lupa saat air melimpah. Buku ini berfungsi sebagai memori kolektif, arsip tentang bagaimana rasanya ketika air sulit.

Latifah/Melipirnews.com

Komentar

POPULER SEPEKAN

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Rencana Investasi Bisa Ambyar Jumpai Tanah Bersertifikat Ganda

Terasa di Sini, Kretek Indonesia Masih Jaya

Sunset, Ular, dan Tri Sandya di Tanah Lot

Selain Irit, Pemudik Roda Dua Juga Bisa Jadi Duta Kampung Halamannya

Langkah Kecil untuk Atasi Masalah Sampah Perkotaan yang Membesar

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Keris: Jiwa Budaya yang Tetap Berdenyut dari Masa ke Masa

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

FAVORIT LAINNYA

Gedung Megah Kampus Buddhis Bukan Pajangan, Tapi Tempat Lahirkan Gagasan

Kopi, Dipopulerkan Para Sufi Hingga Filsof Sir Francis Bacon

Petani di Depok Panen Uwi Berukuran Jumbo

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Terasa di Sini, Kretek Indonesia Masih Jaya

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Untuk pengembangan kanal ini, kami membuka donasi melalui link Paypal di SINI. Terima kasih