-->

Mahasiswi UPI Kembangkan Buku Pendamping Pendidikan Agama Buddha Berbasis Living Values Education

Proses pembelajaran dalam ajaran Buddha berlangsung melalui tiga tahap yang saling berkesinambungan

Sebuah terobosan penting bagi pendidikan karakter di Indonesia lahir dari riset doktoral Dian Tika Sujata, dosen Institut Nalanda Jakarta, di Program Studi Pendidikan Umum dan Karakter, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ujian terbuka promosi doktor berlangsung pada 20 Juli 2026. 

Dok. Istimewa 

Salah satu penguji dalam sidang tersebut adalah Prof. Idris Gautama So, yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar Dewan Pengurus Pusat Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI) sekaligus Guru Besar Universitas Bina Nusantara (Binus). Kehadiran tokoh akademik Buddhis terkemuka ini menambah bobot sidang dan menunjukkan perhatian serius dunia akademik terhadap pengembangan pendidikan karakter berbasis ajaran Buddha.

Baca juga: PkM STABN Raden Wijaya, Wonogiri: Penerapan Ekoteologi Lewat Ekonomi Sirkular dari Pupuk Fermentasi

Penelitian Dian berjudul "Desain Konten Living Values Education sebagai Pendidikan Karakter: Implementasi pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti di Sekolah Menengah Atas". Karya ini menjadi jawaban atas kebutuhan bahan ajar yang lebih autentik bagi siswa Buddha di tengah masyarakat majemuk.

Mengapa Pendidikan Agama Buddha Butuh Pendekatan Khusus?

Pendidikan agama Buddha di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Sebagai agama minoritas dengan jumlah penganut sekitar 0,72% dari total penduduk, siswa Buddha sering belajar dalam lingkungan yang beragam. Pendidikan Buddhis tidak sekadar mengajarkan ritual, tetapi membentuk manusia bijaksana melalui tiga pilar utama: moralitas (sīla), konsentrasi (samādhi), dan kebijaksanaan (paññā).

Proses pembelajaran dalam ajaran Buddha berlangsung melalui tiga tahap yang saling berkesinambungan. Pariyatti adalah tahap mempelajari ajaran secara intelektual. Patipatti adalah tahap mempraktikkan ajaran dalam kehidupan sehari-hari. Pativedha adalah tahap menembus dan merealisasi makna ajaran secara mendalam. Ketiga tahap ini bekerja secara spiral dan saling menguatkan—pemahaman membuka jalan bagi praktik, dan praktik yang konsisten mengantar pada realisasi yang mengubah karakter secara fundamental.

Ajaran Buddha juga menekankan metaetika, yaitu fondasi moral yang mendasari penilaian baik-buruk. Sebuah tindakan dinilai dari tiga kriteria: niat atau motif (cetana) yang melandasinya, hasil nyata yang ditimbulkan bagi diri sendiri dan orang lain, serta apakah tindakan tersebut mendukung perkembangan spiritual menuju pembebasan dari kekotoran batin.

Nilai-nilai universal Buddhis seperti cinta kasih (mettā), welas asih (karuṇā), kegembiraan simpati (muditā), dan keseimbangan batin (upekkhā) menjadi fondasi kuat bagi pembentukan karakter. Ajaran tentang Jalan Mulia Berunsur Delapan—yang mencakup pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar—memberikan kerangka etis yang utuh bagi kehidupan.

Living Values Education: Nilai Universal untuk Generasi Muda

Penelitian Dian mengintegrasikan Living Values Education (LVE), sebuah program pendidikan karakter berbasis nilai universal yang dikembangkan dengan dukungan UNESCO. LVE mengajarkan dua belas nilai: kedamaian, penghargaan, cinta, toleransi, kejujuran, kerendahan hati, kerja sama, kebahagiaan, tanggung jawab, kesederhanaan, kebebasan, dan persatuan.

Prinsip utama LVE menegaskan bahwa nilai tidak dapat diajarkan secara efektif melalui instruksi satu arah. Nilai harus dieksplorasi, dihayati, dan diinternalisasi melalui pengalaman langsung, refleksi, bermain peran, diskusi terbuka, dan ekspresi kreatif dalam lingkungan yang aman dan saling menghormati. Pendekatan ini selaras dengan pedagogi Buddha yang menekankan pembelajaran melalui pengalaman dan kesadaran diri.

Menjawab Tantangan Karakter Generasi Muda

Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius dalam pembentukan karakter generasi muda. Data menunjukkan peningkatan kasus kekerasan, perundungan, penyalahgunaan narkoba, dan gangguan kesehatan mental di kalangan remaja. Pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak, dan agama memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai luhur.

Penelitian Dian menghasilkan dua produk utama: buku pendamping siswa dan buku guru. Buku siswa berjudul Jejak Sejarah dan Peran Tokoh: Dinamika Agama Buddha dari India ke Indonesia dan buku guru sebagai panduan implementasi.

Yang menarik, buku siswa menghadirkan enam tokoh siswa dengan latar daerah dan gaya belajar beragam. Ada Rizky dari Medan yang belajar efektif melalui gambar, Intan dari Makassar yang memeriksa pemahaman dengan menjelaskan ulang, hingga Yasintha dari Soe yang menggunakan kursi roda—menyampaikan pesan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi pertumbuhan spiritual dan intelektual. Kehadiran tokoh-tokoh ini menjadi cermin identifikasi bagi siswa pembaca. Buku ini juga mengintegrasikan prinsip-prinsip moderasi beragama: komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi lokal. 

Lahir dari Riset dan Masukan Guru serta Siswa

Keberhasilan buku pendamping ini tidak terlepas dari proses pengembangan yang melibatkan langsung para guru dan siswa sebagai pengguna. Penelitian diawali dengan survei dan wawancara mendalam untuk memetakan apa yang sebenarnya dibutuhkan di kelas. Masukan dari para pendidik yang tergabung dalam Perhimpunan Guru Agama Buddha Indonesia (PERGABI) menjadi fondasi utama dalam penyusunan materi. Setelah prototipe selesai, buku ini diuji coba dan direvisi berulang kali, memastikan setiap aktivitas dan materi di dalamnya benar-benar sesuai dan mudah digunakan dalam situasi pembelajaran nyata.

Baca juga: Masyarakat Plural-nya Furnivall Dibincangkan di STABN Sriwijaya Dikaitkan Moderasi Beragama

Dari penelitian ini dirumuskan lima prinsip desain yang menjadi panduan bagi pengembangan bahan ajar pendidikan karakter berbasis ajaran Buddha: integrasi LVE, metakognisi, dan Dhamma; struktur pembelajaran bertahap yang mendorong kemandirian; kontekstualisasi nilai Dhamma dalam realitas remaja; pembelajaran berkesadaran sebagai benang merah; serta kepraktisan dalam konteks keterbatasan.

Sosok di Balik Karya

Dian Tika Sujata mengawali karier sebagai guru Pendidikan Agama Buddha di SMP Bina Budi Mulia, Malang, sebelum menjadi dosen di Institut Nalanda. Alumnus Sekolah Tinggi Agama Buddha Kertarajasa ini juga aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan pemberdayaan masyarakat.

Di luar kampus, ia adalah pendiri Batik Kinnara-Kinnari, sebuah usaha sosial yang mengembangkan motif batik berbasis simbol-simbol ajaran Buddha sebagai media pelestarian nilai dan budaya. Ia juga menginisiasi berbagai program pemberdayaan masyarakat, termasuk pengembangan desa wisata berbasis sosio-religius di Dusun Krecek, Temanggung. Dian menjadi tim penulis modul pengayaan Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila yang diterbitkan BPIP.

Dengan diraihnya gelar doktor ini, Dian berharap hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan bagi para pengambil kebijakan, pengembang kurikulum, dan pendidik dalam merancang bahan ajar yang lebih autentik dan bermakna.

Latifah/melipirnews.com

Posting Komentar

0 Komentar