Waspada Gletser Puncak Carstensz dan Sungai Citarum
"Karena tidak ada yang terjadi di pegunungan yang hanya tinggal di pegunungan.”
Setiap tetes air yang mengalir dari pegunungan membawa kehidupan bagi miliaran orang di dunia. Namun, laporan terbaru PBB yang dirilis UNESCO pada 2025 mengungkapkan fakta yang tak bisa diabaikan, yaitu menara-menara air dunia ini mencair di depan mata kita dan Indonesia berada di garis depan krisis tersebut.
Laporan The United Nations World Water Development Report 2025 - Mountains and glaciers: Water towers memberikan gambaran komprehensif tentang krisis yang sedang terjadi di ketinggian. Lebih dari sekadar pemandangan indah, pegunungan dan gletser menyediakan 55 hingga 60 persen aliran air tawar tahunan global. Pegunungan dan gletser adalah sumber kehidupan bagi lebih dari 1,1 miliar orang yang tinggal di kawasan pegunungan, atau sekitar 15 persen populasi dunia, serta 2 miliar jiwa lainnya di daerah hilir yang bergantung pada air lelehan gletser.
Gletser Terakhir Papua: 99 Persen Telah Lenyap
Di ujung timur Indonesia, Puncak Carstensz di Papua menyimpan fakta menyedihkan. Laporan UNESCO secara khusus menyoroti ancaman terhadap gletser di kawasan tropis. "Gletser diproyeksikan akan lenyap sebelum 2030 di Gunung Kenya dan Pegunungan Rwenzori, dan pada 2040 di Gunung Kilimanjaro". Meski tidak menyebut Papua secara eksplisit, ancaman yang sama membayangi gletser tropis Indonesia. Secara global, laporan tersebut mencatat, "Sebagian besar gletser di dunia, termasuk yang ada di pegunungan, mencair dengan laju yang semakin cepat di seluruh dunia." Di kawasan tropis, ancaman ini bahkan lebih akut karena suhu yang lebih tinggi dan pola curah hujan yang bervariasi.
Citarum dan Tantangan yang Sama
Laporan UNESCO tidak secara spesifik menyebut Sungai Citarum. Namun, tantangan yang diuraikan dalam laporan ini sangat relevan dengan perjuangan panjang mengelola DAS terbesar di Jawa Barat tersebut.
Baca juga: Minggir di Umbul Gemulo: Menemukan Ketenangan di Tengah Perlawanan Sunyi Sebuah Mata Air
Laporan mencatat bahwa secara global, urbanisasi di kawasan pegunungan dan daerah aliran sungai menghadapi tantangan serius. "Urbanisasi yang cepat dan tidak terencana di kawasan pegunungan memberikan tekanan pada ekosistem pegunungan yang rapuh, mempengaruhi ketersediaan, kualitas, dan keamanan air." Kondisi ini persis tergambar di kawasan hulu Citarum, tempat pertumbuhan pemukiman dan industri yang pesat telah lama menjadi akar masalah.
Tantangan ini diperparah oleh pencemaran dari aktivitas industri. Laporan tersebut menyebutkan, "Kawasan pegunungan terpencil dapat sulit diatur, mengakibatkan pengambilan air dan pembuangan limbah yang tidak terkendali, termasuk polutan." Citarum, dengan ribuan industri tekstil di sepanjang alirannya, adalah contoh nyata dari fenomena ini.
Degradasi Ekosistem dan Dampak Berantai
Laporan UNESCO juga menyoroti bagaimana degradasi ekosistem hulu berdampak pada seluruh DAS. "Degradasi ekosistem pegunungan mengurangi kemampuan untuk menyimpan dan memasok air ke hilir. Ini khususnya terjadi pada deforestasi hutan pegunungan yang sangat penting."
Di DAS Citarum, deforestasi di kawasan hulu seperti kawasan Bandung Utara telah menyebabkan peningkatan erosi dan sedimentasi yang signifikan. Laporan UNESCO menegaskan, "Tanah pegunungan mudah dan sering terdegradasi oleh berbagai aktivitas manusia, terutama penggundulan vegetasi yang membuka tanah kosong."
Lebih jauh, dampak perubahan hidrologi ini tidak hanya dirasakan di hulu. Laporan tersebut menyatakan, "Perubahan dalam waktu dan volume periode puncak dan rendahnya aliran serta peningkatan beban erosi dan sedimen akan mempengaruhi sumber daya air di hilir, dalam hal kuantitas, waktu, dan kualitas." Bagi Jakarta yang menerima 80 persen air bakunya dari Citarum, ini bukan sekadar ancaman, melainkan kenyataan yang dihadapi setiap musim kemarau.
Seruan untuk Tata Kelola yang Terintegrasi
Laporan UNESCO secara eksplisit menyerukan pendekatan tata kelola yang lebih terintegrasi. "Manajemen sumber daya air yang terpadu, dengan mempertimbangkan sumber daya air pegunungan, dapat memberikan manfaat bagi negara-negara riparian." Pendekatan ini sejalan dengan program Citarum Harum yang diluncurkan pemerintah sejak 2018.
Mengenai pendanaan, laporan tersebut mencatat, "Sumber daya keuangan yang substansial berpotensi tersedia untuk investasi dalam pembangunan berkelanjutan di kawasan pegunungan, namun akses terhadap program dukungan utama relatif terbatas." Hal ini menunjukkan, "Pilihan respons yang signifikan masih kurang dimanfaatkan."
Menatap Masa Depan
Laporan UNESCO menutup dengan kalimat yang menggugah, "Karena tidak ada yang terjadi di pegunungan yang hanya tinggal di pegunungan. Dengan satu atau lain cara, kita semua tinggal di daerah hilir."
Bagi Indonesia, pesan ini sangat relevan. Ketika gletser Carstensz mencair, itu adalah alarm bahwa sistem iklim global sedang tak baik-baik saja. Ketika Citarum masih berjuang lepas dari beban polusi dan sedimentasi, itu adalah pengingat bahwa tata kelola air yang terintegrasi bukan sekadar pilihan, tapi keharusan.
Baca juga: Langkah Kecil untuk Atasi Masalah Sampah Perkotaan yang Membesar
Laporan UNESCO mengingatkan, "Tata kelola air di pegunungan belum mendapat perhatian sebanyak di dataran rendah." Padahal, "pembangunan di pegunungan umumnya lebih mahal dan sulit." Namun investasi untuk melindungi menara air ini bukan sekadar biaya, melainkan investasi untuk kelangsungan hidup miliaran manusia.
Karena pada akhirnya, ketahanan air Indonesia akan ditentukan oleh bagaimana kita menjaga menara-menara air kita—dari Puncak Carstensz yang tersisa satu persen es-nya, hingga hulu-hulu sungai seperti Citarum yang mengaliri sawah dan rumah kita semua.
Dalam krisis air, seperti yang ditegaskan laporan UNESCO, tidak ada penonton. Kita semua terdampak. Dan, kita semua harus bertindak.
Latifah/melipirnews.com

Komentar
Posting Komentar