Kesehatan Mental di Negeri Religius
Studi di Yogyakarta menunjukkan adanya kesenjangan sekaligus peluang kolaborasi antara lembaga keagamaan dan layanan kesehatan mental
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara paling religius di dunia. Namun di saat yang sama, berbagai survei menunjukkan meningkatnya kasus kecemasan, depresi, dan gangguan kesehatan mental, terutama di kalangan anak muda.
Mengapa religiusitas yang tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan kesehatan mental yang baik?
Pertanyaan tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Mohammad Iqbal Ahnaf, Yayi Suryo Prabandari, Jonathan Davis Smith, Fuji Riang Prastowo, dan Leyla Adrianti Hermina. Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal internasional Pastoral Psychology dengan judul “Gaps and Links Between Religious Institutions and Mental Health Practitioners in Indonesia.”
Melalui wawancara dan diskusi kelompok dengan pemimpin agama Islam, Kristen, dan Buddha serta praktisi layanan kesehatan mental di Yogyakarta, para peneliti menemukan adanya kesenjangan yang cukup lebar antara lembaga keagamaan dan layanan kesehatan mental dalam menangani persoalan psikologis masyarakat.
Baca juga: Taman Gajah Mada Menjadi Situs Kebugaran dan Keberagaman Warga Medan
Meskipun sama-sama bertujuan membantu individu yang mengalami penderitaan batin, kedua kelompok tersebut ternyata sering bekerja dalam jalur yang berbeda. Pemimpin agama cenderung memandang gangguan mental melalui perspektif moral dan spiritual, sementara psikolog dan konselor lebih menekankan faktor psikologis, sosial, dan pengalaman hidup seseorang.
Banyak pemimpin agama yang diwawancarai dalam penelitian ini mengaitkan masalah kesehatan mental dengan lemahnya hubungan spiritual, kurangnya rasa syukur, ketidakmampuan mengendalikan batin, atau jauhnya seseorang dari Tuhan. Solusi yang ditawarkan pun umumnya berupa penguatan praktik keagamaan seperti doa, zikir, meditasi, pembacaan kitab suci, maupun pengembangan kebajikan.
Sebaliknya, para praktisi kesehatan mental melihat bahwa banyak klien mereka justru mengalami luka psikologis yang berkaitan dengan pengalaman keagamaan. Mereka menemukan kasus-kasus trauma akibat pola pengasuhan yang keras, pendidikan agama yang menekankan hukuman dan rasa bersalah, serta pemaksaan norma-norma tertentu dalam keluarga maupun lembaga pendidikan.
Temuan ini tidak berarti agama menjadi penyebab utama gangguan mental. Namun penelitian menunjukkan bahwa cara agama diajarkan dan dipraktikkan dapat berdampak positif maupun negatif terhadap kesehatan mental seseorang. Agama dapat menjadi sumber kekuatan, makna hidup, dan dukungan sosial. Sebaliknya, ketika disampaikan melalui pendekatan yang menekan atau menimbulkan ketakutan, agama juga dapat menjadi sumber trauma psikologis.
Baca juga: Modal Sosial dan Kolaborasi Permudah Kelola Sampah
Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar psikolog yang menjadi responden sebenarnya memiliki latar belakang religius. Namun mereka mengaku kurang memiliki pengetahuan teologis untuk memasukkan unsur agama ke dalam praktik konseling secara profesional. Akibatnya, aspek spiritual sering kali tidak menjadi bagian dari proses terapi.
Di sisi lain, para pemimpin agama yang diwawancarai juga mengakui bahwa tidak semua persoalan mental dapat diselesaikan melalui pendekatan spiritual. Dalam kasus-kasus tertentu, bantuan psikolog, psikiater, maupun tenaga kesehatan profesional dinilai sangat diperlukan.
Di tengah kesenjangan tersebut, para peneliti menemukan beberapa contoh kolaborasi yang menjanjikan. Salah satunya adalah sebuah universitas berbasis Kristen yang menerapkan pendekatan biopsikososiospiritual. Model ini menggabungkan aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual dalam pendampingan mahasiswa yang mengalami masalah kesehatan mental. Penelitian juga menemukan sebuah pesantren yang mulai mengintegrasikan pemahaman psikologi remaja ke dalam sistem pendampingan santri dan tidak ragu merujuk kasus-kasus tertentu kepada psikolog profesional.
Bagi para peneliti, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa agama dan psikologi tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat saling melengkapi apabila dibangun komunikasi dan kerja sama yang lebih erat. Dalam masyarakat Indonesia yang sangat religius, pendekatan kesehatan mental yang sensitif terhadap nilai-nilai spiritual diyakini memiliki potensi besar untuk menjangkau lebih banyak orang.
Penelitian ini pada akhirnya mengingatkan bahwa kesehatan mental bukan hanya persoalan medis atau psikologis semata, tetapi juga berkaitan dengan cara manusia mencari makna, menghadapi penderitaan, dan membangun hubungan dengan sesama maupun dengan keyakinannya. Karena itu, ruang konseling dan ruang ibadah mungkin tidak perlu saling berjauhan. Justru di titik pertemuan keduanya, terbuka peluang lahirnya pendekatan yang lebih utuh dalam merawat kesehatan mental masyarakat Indonesia.
Baca juga: Tarif Tempat Relaksasi Pengobat Jiwa Naik Saat Liburan, Wajarkah?
Penelitian ini menunjukkan bahwa tingginya religiositas masyarakat tidak serta-merta menjadi benteng terhadap persoalan kesehatan mental. Temuan tersebut menantang anggapan yang masih kerap dijumpai di masyarakat bahwa masalah mental semata-mata merupakan persoalan iman atau spiritualitas. Bagi sebagian orang, dukungan keagamaan memang dapat menjadi sumber kekuatan. Namun pada saat yang sama, gangguan mental juga dapat berkaitan dengan trauma, relasi sosial, pola pengasuhan, maupun faktor psikologis lainnya yang memerlukan penanganan profesional. Karena itu, para peneliti melihat perlunya pendekatan yang lebih kolaboratif antara lembaga keagamaan dan layanan kesehatan mental.
Latifah/melipirnews.com


Komentar
Posting Komentar