Bagaimana jika kaum kiri memandang fenomena ini? Apakah mereka masih melihatnya sebagai gejala eksploitasi?
Para pekerja berpenampilan rapi, beberapa duduk mengitari meja berkelompok dan menggunakan baju seragam, serta make up wajah masih tampak tebal. Mereka menikmati menu yang dijual di warung kaki lima, yang lokasinya berseberangan atau bersebelahan dengan mall tempatnya bekerja.
Pada sebuah warung bakso dan bakmi kaki lima yang sedang ramai, seorang pelayanan menyambut pertanyaaan dan menjawabnya ringan. "Kami buka pukul 07.30 dan tutup pukul 9 malam," jawab pelayan warung bakso di kawasan Jakarta Selatan yang mengaku berasal dari Wonogiri itu. Harga semangkuk bakso atau mie ayam di warung ini cukup murah, yakni Rp. 13 ribu. Sebuah harga rata-rata semangkuk bakso di warung-warung pemukiman yang jauh dari mall. Malam itu, warung baksonya sedang ramai pembeli.
Baca juga: Jelang Akhir Tahun, Festival Yi Peng di Chiang Mai Layak Dikunjungi Muslim Traveler
Setiap lewat kawasan ini, pemandangan tampak aneh selalu terjadi. Bukan karena warung bakso ini, dan kedai-kedai di sekitarnya ramai pengunjung, dan bukan pula karena lokasinya terletak di pinggir jalan utama yang menghubungkan Jakarta dan Depok. Bagi yang jeli, pasti akan menyasar pada seberang jalan warung-warung itu. Yakni, sebuah mall besar dan baru berdiri. Terkesan sepintas mall tampak sepi dari luar. Justru warung-warung makanan di seberangnya ini yang tampak ramai pengunjung. Mungkin benar akan dijumpai pemandangan agak beda setelah benar-benar memasuki gedung mall.
Di suatu malam di awal November 2026, saat benar-benar menyambangi kawasan ini. Tiba-tiba dai arah kiri mendekat sebuah bis listrik berwarna oranye dan berhenti sejenak tepat di depan warung bakso ini. Tidak sampai 1 menit bis itu berhenti. Dalam hitungan detik, seorang pria dari dalam warung bakso melangkah cepat menuju pintu ruang sopir dan menyerahkan sebungkus menu yang diwadahi plastik ke kaca sopir. Lalu sopir itu menerimanya dengan cekatan. Sedetik kemudian, bungkusan menu mie sudah aman terletak di kompartemen sebelah kanannya. Ditutup lagi kaca bis oleh sopir yang berada di sebelah kanannya dan tanpa keluar satu katapun sopir menge-gas lagi bisnya berderu di tengah jalanan yang tak terlalu ramai malam hari itu.
Sopir bis itu menambah keanehan. Sebelumnya sudah muncul keanehan pada para pekerja mall yang sudah terlebih dulu makan di warung tersebut. Mengapa kaum kelas pekerja ini memilih makan di warung kaki lima seperti ini ketimbang membeli makan di gerai mall? Jawaban gampangnya akan berderet banyak. Salah satunya karena ingin berhemat pastinya.
Ternyata bukan hanya warga kota besar Jakarta yang hobi dengan makanan yang dijajakan penjual street food. Phuong, Nguyen Van dkk. (2025) dalam artikelnya berjudul, Lunchtime on the go: understanding street food consumption habits of office workers in cities in Vietnam, menyebutkan bahwa dari 572 responden yang merupakan pekerja kantoran di kota-kota besar Vietnam, memilih street food karena alasan kenyamanan (convenience), pengaruh teman (peer influence), kualitas makanan (food quality), dan persepsi kesehatan mempengaruhi pilihan mereka untuk membeli makanan di kaki lima (street food).
Baca juga: Kehidupan di Wilayah Perbatasan Tak Seindah Pos Perbatasan
Bagi kalangan yang peduli dengan kesehatan makanan di kaki lima, maka penelitian Salamandane (2023) berjudul, The Socioeconomic Factors of Street Food Vending in Developing Countries and Its Implications for Public Health: A Systematic Revie menemukan bukti penguat. Artikel tersebut mengupas fakta bahwa kebanyakan penjual warung kaki lima memiliki tingkat pendidikan yang pas-pasan yang berakibat kurang memperhatikan praktik kebersihan yang baik saat mengolah makanan. Gabungan faktor seperti praktik kebersihan yang buruk dari para pengelola makanan dan kurangnya fasilitas, yaitu tidak adanya air minum yang tersedia, sering disebut sebagai penyebab utama terkontaminasinya makanan.
Namun bagi yang setuju keberadaan warung kaki lima, banyak juga keuntungan yang diberikan warung kaki lima. Simona dkk (2019) dalam artikelnya, Street Food: A Tool for Promoting Tradition, Territory, and Tourism, menyebutkan bahwa sekitar 2,5 miliar orang di seluruh dunia mengonsumsi makanan dari warung kaki lima setiap hari. Alasannya karena harganya murah, mudah didapat, dan praktis. Street food juga memiliki nilai sosial-ekonomi yang tinggi, karena membantu pelestarian kebudayaan dan warisan kuliner lokal, yang pada akhirnya meningkatkan manfaat dari pariwisata dan memperkuat hubungan dengan wilayah setempat.
Jadi, street food soal pilihan atau karena ketidakmampuan sebagai korban eksploitasi kaum kapitalis?
SBA/Melipirnews.com

0 Komentar