Ketika Warung Kopi Jadi "Laboratorium" Penelitian
Pengetahuan muncul melalui interaksi, bukan sebagai jawaban terisolasi, tetapi sebagai makna yang dibangun bersama
Di tengah gempuran metode penelitian Barat yang kaku dan hierarkis, seorang akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya menawarkan cara yang lebih manusiawi: ngopi. Bukan sekadar gaya hidup, ngopi di warung kopi pinggir jalan hingga kedai kekinian kini diusulkan sebagai metode ilmiah yang sahih untuk menggali pengetahuan.
Af'idatul Husniyah, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, merasakan kegelisahan akademik saat meneliti para guru di Indonesia. Metode wawancara semi-terstruktur yang dipelajarinya justru menciptakan suasana kaku. Para guru berbicara seadanya, seperti ada tembok yang membatasi.
Baca juga: Guru yang Menggerakkan Ekonomi Masyarakat Tuban
Pengalaman ini ia catat dalam jurnal International Journal of Qualitative Methods berjudul "Ngopi as Methodology: Reclaiming Indonesian Practices for Knowledge Co-Creation". Ia memaparkan, "Saya mengamati bahwa wawancara semi-terstruktur yang saya gunakan sering kali menghasilkan suasana yang tegang dan terlalu formal. Percakapan terasa terbatas, dan tanggapan cenderung berada pada tingkat permukaan. Peserta tampak berhati-hati dan tidak nyaman, seolah suasana wawancara membatasi kemampuan mereka untuk berbicara secara terbuka dan autentik."
Baru setelah mengobrol santai sambil ngopi, cerita mengalir deras. Ia mengimbangi wawancara formal dengan "percakapan informal" bersama para guru di kedai kopi. Hasilnya? "Data yang kaya dan terperinci, dengan para guru memberikan penjelasan mendalam tentang berbagai aspek penelitian saya yang tidak muncul selama wawancara formal." Pengalaman ini mengantarkannya pada sebuah kesimpulan yaitu menjadikan ngopi sebagai metode penelitian.
Bukan Sekadar Ngobrol Biasa
Dalam papernya, Husniyah menjelaskan, ngopi berbeda dengan sekadar ngobrol biasa. Ia merujuk pada tradisi panjang warung kopi di Indonesia—dari yang pinggir jalan hingga kedai kekinian—yang telah lama menjadi ruang diskusi lintas kelas.
"Ngopi memfasilitasi penciptaan pengetahuan bersama melalui sifatnya yang informal dan non-hierarkis, menciptakan ruang untuk dialog terbuka di mana peserta dapat dengan bebas berbagi perspektif mereka. Sebagai metodologi, ngopi bersifat non-ekstraktif; ia melampaui sekadar mengumpulkan informasi dari peserta untuk mendorong proses kolaboratif di mana peneliti dan peserta terlibat sebagai mitra setara."
Filosofi kunci di balik metode ini adalah konsep nyantai—kondisi santai, bahagia, dan tidak tergesa. Dalam suasana seperti inilah orang berbicara dari hati. "Efektivitasnya terletak pada fakta bahwa ngopi berakar kuat pada cara sosial masyarakat Indonesia dalam terhubung—sebuah etika interaksional yang didasarkan pada kenyamanan dan kemudahan relasional, sering digambarkan sebagai nyantai."
Melawan Hegemoni Penelitian Barat
Selama berabad-abad, dunia akademik didominasi cara berpikir Barat yang meminggirkan tradisi lokal. Husniyah mengutip Moyo yang menyebut fenomena ini sebagai methodicid atau pembunuhan metode yang menggambarkan bagaimana cara-cara mengetahui dari Afrika, Asia, dan Amerika Latin dihapuskan.
Dalam konteks inilah ngopi hadir sebagai metode dekolonial. Ia tidak sendiri. Di Karibia ada Liming, di Pasifik ada Talanoa, di Kolombia ada Charlas y Comidas (ngobrol sambil makan). Tapi dari Asia Tenggara, metode seperti ini masih langka.
Husniyah menulis, "Sangat disayangkan bahwa di Asia Tenggara, metodologi pribumi belum sepenuhnya dikonseptualisasikan, meskipun tradisi kolektif yang kaya dapat memberikan pendekatan yang relevan secara budaya untuk meneliti komunitas ini."
Baca juga: Alih Naskah Pecenongan, Jakarta ke Panggung Imajinasi Lagu dan Komik
Yang Unik dari Ngopi: Tanpa Rekaman, Tanpa Dokumen Formal
Dalam praktiknya, ngopi sebagai metode memiliki protokol yang berbeda dari penelitian konvensional. Saat ngopi bersama lima guru di Jawa Timur, Husniyah sengaja tidak menggunakan alat perekam.
"Untuk menjaga alur alami Ngopi, saya sengaja memilih untuk tidak menggunakan rekaman audio. Saya hanya membuat catatan singkat selama sesi dengan cara yang seminimal mungkin mengganggu percakapan. Saya berpendapat bahwa tidak merekam adalah cara paling tepat untuk menghormati alur percakapan dan memastikan peserta merasa nyaman dan autentik dalam interaksi mereka."
Yang lebih menarik, etika penelitian tidak dijalankan lewat dokumen seperti informed consent versi Barat, tapi lewat hubungan saling percaya. "Etika dipraktikkan melalui hubungan daripada melalui dokumen, yang sering dijunjung tinggi penelitian Barat sebagai standar emas untuk persetujuan informed."
Nilai-Nilai Inti dalam Metode Ngopi
Husniyah merumuskan lima nilai inti yang harus dipegang jika menggunakan ngopi sebagai metodologi. Pertama, relasional, yang berarti pengetahuan tidak dikumpulkan tentang orang, tetapi dengan orang; melalui cerita, refleksi, dan pemaknaan kolektif yang berkembang secara organik. Kedua, dialogis, ngopi menciptakan ruang pertemuan transformative. Peserta terlibat bukan untuk membujuk atau berdebat, tetapi untuk memahami dan dipahami.
Baca juga: Kampus Berdampak: Ketika Akademisi dan Masyarakat Bersinergi Menciptakan Solusi Nyata
Ketiga, situated atau kontekstual, karena metodologi selalu dibentuk oleh konteks budaya, sosial, dan historis spesifik tempat ia diciptakan, dipraktikkan, dan dipahami. Keempat, respektif, yakni ngopi menghormati pengetahuan, otoritas, dan cara peserta dalam memahami dunia. Dan kelima, resiprokal atau timbal balik. Ngopi mendistribusikan ulang kekuasaan dengan menciptakan ruang penelitian kolaboratif dan egaliter.
Masa Depan Riset ala Warung Kopi
Husniyah mengakui, ngopi sebagai metode tidak bisa asal ditransplantasi ke konteks Barat tanpa kehilangan maknanya. "Ngopi hanya dapat dipahami dan dipraktikkan sepenuhnya dalam konteks budayanya sendiri; ia tidak bisa begitu saja dipindahkan ke setting penelitian Barat dan tetap memiliki makna atau signifikansi etis yang sama."
Namun untuk Indonesia, metode ini justru membuka jalan bagi riset yang lebih manusiawi. Ia menegaskan bahwa dengan mengusulkan ngopi, tulisannya ingin berkontribusi pada upaya mendekolonisasi dan mendiversifikasi praktik penelitian. Tujuannya agar suara-suara yang selama ini terpinggirkan secara tradisional tidak hanya didengar, tetapi juga dihormati dan diintegrasikan ke dalam wacana akademik.
Pada akhirnya, pengetahuan tidak selalu lahir dari ruang ber-AC dengan kuesioner berlembar-lembar. Kadang, ia muncul begitu saja di tengah keakraban, ketika dua orang duduk bersila, menyeruput kopi, dan membicarakan hidup dengan segala kompleksitasnya.
Latifah/melipirnews.com

Komentar
Posting Komentar